SANTRI DI BORNEO

Dedy Prasetya Putra
Chapter #6

Bab 6 Yang Tak Pernah Diceritakan

Bab 6 Yang Tak Pernah Diceritakan

Makan malam pertama di rumah besar keluarga Al-Banjari digelar di ruang tengah yang luas, dengan meja panjang berlapis kain sasirangan hijau-emas dan hidangan yang tak pernah Raka bayangkan sebelumnyasoto banjar, ikan patin bumbu habang, ketupat kandangan, hingga wadai cincin yang tersusun rapi di nampan tembaga.

Raka duduk di sebelah Aisyah, mencoba tenang meski merasa seluruh mata di ruangan itu diam-diam menilainya.

"Makan yang banyak, Nak Raka," kata Nenek, tersenyum lembut dari ujung meja. "Jangan sungkan. Ini rumahmu juga sekarang."

"Terima kasih, Nek," jawab Raka, mencoba membalas senyum meski tangannya sedikit kaku memegang sendok.

Di seberang meja, seorang lelaki mudayang sama, yang Raka lihat berdiri menatapnya tajam saat mereka tiba sore itumenyandarkan punggung ke kursi, memperhatikan Raka dengan seringai tipis yang sulit diartikan.

"Jadi," katanya akhirnya, suaranya santai tapi menusuk, "kau yang berhasil menikahi Nurul. Selamat, ya. Banyak yang penasaran, apa yang bikin dia jatuh cinta sama orang Jawa biasa." "Akmal," tegur Paman Zainal, suaranya rendah tapi tegas.

"Aku cuma bertanya, Paman." Akmal mengangkat bahu, tersenyum ke arah Raka. "Wajar, kan? Nurul ini pewaris satu-satunya dari garis Ayah Rasyid. Banyak yang antre dulu sebelum dia menghilang delapan tahun."

Aisyah meletakkan sendoknya, wajahnya menegang. "Akmal, cukup."

"Aku cuma mengingatkan fakta, Nurul." Akmal menatap sepupunya, nada suaranya berubah lebih dingin. "Kau pergi delapan tahun tanpa kabar, sekarang tiba-tiba pulang bawa suami, dan Paman Zainal langsung sibuk siapkan penyambutan besar begini. Sementara yang selama ini urus perusahaan, urus tambang, urus semuanyaya aku. Wajar kalau aku bertanya, apa maksud kepulangan ini sebenarnya."

Ruangan hening sejenak. Raka merasakan tangan Aisyah mengepal di bawah meja, dan tanpa berpikir panjang, ia menggenggamnya pelan, memberi kekuatan diam-diam.

"Aku tidak pulang untuk harta, Akmal," kata Aisyah akhirnya, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku pulang karena Paman kirim surat, bilang kondisi kampung tidak baik. Dan aku punya rencana untuk tanah keluarga yang selama ini dibiarkan terlantarbukan untuk kepentinganku sendiri."

Lihat selengkapnya