Bab 7 Tanah yang Terlupakan
Seminggu berlalu dengan cepat. Raka menghabiskan hari-harinya di ruang kerja kecil yang disediakan Paman Zainal, dikelilingi tumpukan kertas, laptop, dan sesekali telepon dengan seorang kenalan lama dari kampuskonsultan hukum syariah yang dulu membantunya menyusun panduan investasi di buku catatan lamanya.
"Jadi begini rangkumannya," kata Raka pada Aisyah suatu malam, menunjukkan layar laptop yang penuh diagram dan tabel. "Studi kelayakan lahan, proyeksi kebutuhan santri lima tahun ke depan, dan yang paling pentingpayung hukumnya. Kita akan ajukan sesuai UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan aturan turunannya. Tanah harus dialihkan resmi jadi wakaf atas nama yayasan, bukan sekadar niat lisan."
Aisyah membaca layar itu dengan seksama, matanya berbinar. "Ini rapi sekali, Mas. Akmal tidak akan bisa membantah kalau semuanya sudah sejelas ini."
"Semoga saja," jawab Raka, meski ada keraguan tipis di suaranya. Sejak malam makan itu, ia beberapa kali berpapasan dengan Akmal di lorong rumah, dan setiap kali itu pula sepupu Aisyah itu hanya melempar senyum tipis yang sulit ditebak maksudnya.
✦ ✦ ✦
Pertemuan keluarga digelar di ruang tengah yang sama, kali ini lebih formalmeja panjang disusun berbeda, dengan proyektor kecil yang dipasang Raka menghadap dinding putih. Nenek duduk di kursi utama, diapit Paman Zainal dan beberapa paman-bibi lain.
Akmal duduk agak jauh, lengan bersedekap, wajah datar.
Raka berdiri di depan, menarik napas sekali sebelum mulai. "Assalamu'alaikum. Terima kasih atas waktunya. Hari ini saya ingin memaparkan rencana pemanfaatan tanah keluarga di tepi sungai, sesuai permintaan Mas Akmal minggu lalu."
Ia menampilkan slide pertama: peta lahan, luas total sekitar tiga hektar, sebagian besar tak tergarap sejak lebih dari satu dekade.
"Lahan ini, berdasarkan catatan yang saya kumpulkan, sudah tidak produktif sejak 2014. Kalau dibiarkan, nilainya hanya akan jadi beban pajak tanpa hasil. Rencana kami: mengalihkannya menjadi wakaf produktif, dengan Pesantren Darul Hikmah Borneo sebagai inti pemanfaatannya."
Ia melanjutkan ke slide berikutnyadata jumlah pesantren di Kalimantan Selatan dibandingkan jumlah penduduk usia sekolah, jauh lebih rendah dibanding Jawa.
"Ini bukan cuma soal keluarga kita," sambung Aisyah, berdiri di samping Raka. "Kalimantan itu luas sekali, tapi coba lihat datanyapesantren yang benar-benar representatif masih sangat sedikit. Anak-anak di sini, kalau mau serius belajar agama, hampir semua akhirnya menyeberang ke Jawa. Aku salah satunya. Aku tidak mau itu terus jadi satu-satunya pilihan."
Beberapa kerabat mengangguk pelan, tampak tersentuh. Seorang bibi yang duduk di dekat Nenek berbisik pada tetangganya, mengangguk setuju.