SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #9

Bab 9 Tanah yang Terlupakan

Bab 9  Tanah yang Terlupakan

Seminggu berlalu dengan cepat. Raka menghabiskan hari-harinya di ruang kerja kecil yang disediakan Paman Zainal, dikelilingi tumpukan kertas, laptop, dan sesekali telepon dengan seorang kenalan lama dari kampuskonsultan hukum syariah yang dulu membantunya menyusun panduan investasi di buku catatan lamanya. Di sela-sela itu, bayangan wajah Fikri dan Siti Rahmah, juga suara-suara warga yang terbelah di balai kampung malam itu, terus menemaninya bekerjamengingatkan bahwa ini bukan lagi sekadar proyek keluarga.

"Jadi begini rangkumannya," kata Raka pada Aisyah suatu malam, menunjukkan layar laptop yang penuh diagram dan tabel. "Studi kelayakan lahan, proyeksi kebutuhan santri lima tahun ke depan, dan yang paling pentingpayung hukumnya. Kita akan ajukan sesuai UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan aturan turunannya. Tanah harus dialihkan resmi jadi wakaf atas nama yayasan, bukan sekadar niat lisan."

Aisyah membaca layar itu dengan seksama, matanya berbinar. "Ini rapi sekali, Mas. Tapi setelah apa yang kita lihat di tepi sungai kemarin, aku rasa kita tidak bisa lagi bersikap tenang-tenang saja. Tim survei itu sudah bergerak. Kita harus bawa ini ke keluarga secepatnya, sebelum semuanya terlambat."

"Setuju," jawab Raka, rahangnya mengeras. "Besok aku minta waktu ke Nenek."

✦ ✦ ✦

Pertemuan keluarga digelar di ruang tengah yang sama, kali ini lebih formalmeja panjang disusun berbeda, dengan proyektor kecil yang dipasang Raka menghadap dinding putih. Nenek duduk di kursi utama, diapit Paman Zainal dan beberapa paman-bibi lain.

Akmal duduk agak jauh, lengan bersedekap, wajah datar.

Raka berdiri di depan, menarik napas sekali sebelum mulai. "Assalamu'alaikum. Terima kasih atas waktunya. Saya minta pertemuan ini dipercepat, karena ada hal mendesak yang perlu dibahas."

Ia menampilkan slide pertama: peta lahan, luas total sekitar tiga hektar, sebagian besar tak tergarap sejak lebih dari satu dekade.

"Kemarin, saya dan Aisyah melihat sendiri ada tim survei di sepanjang tepi sungai, termasuk di tanah keluarga kita. Warga kampung sudah resah, bahkan sudah terbelah dua kubu di balai kampung." Raka menatap lurus ke arah Akmal. "Mas Akmal, apa benar ada pembicaraan dengan investor sawit soal tanah ini?"

Ruangan mendadak hening. Semua mata beralih ke Akmal, yang untuk sesaat tampak terkejut ditanya langsung di depan seluruh keluarga.

Akmal menghela napas, menyandarkan punggungnya, mencoba tenang meski rahangnya sedikit mengeras. "Ya. Aku memang sudah bicara dengan investor itu. Bukan rahasia, Nurulkau juga bisa cek sendiri, tim survei itu bergerak atas izin yang kutandatangani untuk tahap penjajakan."

"Tanpa izin keluarga?" tanya Aisyah, suaranya tajam menahan marah.

Lihat selengkapnya