SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #11

Bab 11 Dua Tawaran

Bab 11  Dua Tawaran

Restoran itu terletak di lantai atas sebuah gedung perkantoran di pusat kota Banjarmasin, dengan jendela kaca besar menghadap ke arah sungai Martapura yang mengular jauh di bawah. Akmal duduk di meja sudut, jarinya mengetuk-ngetuk gelas kopi yang sudah setengah dingin, menunggu seseorang yang selalu datang tepat waktu.

"Akmal," sapa Pak Hendra, pria berusia lima puluhan dengan jas rapi dan senyum yang selalu terlihat terlalu ramah untuk urusan bisnis, duduk di seberangnya. "Maaf menunggu lama. Bagaimana kabar keluarga besar?"

"Seperti yang saya kabarkan lewat telepon, Pak," jawab Akmal, suaranya datar. "Nenek melarang saya lanjutkan survei sampai ada keputusan resmi keluarga. Sepupu saya sudah bawa proposal pesantren, lengkap dengan pendanaan dari luar."

Pak Hendra mengangguk-angguk, tidak terkejut. "Sudah saya duga, cepat atau lambat akan begini. Tapi Akmal, saya datang jauh-jauh bukan cuma untuk urusan tanah itu saja." Ia membuka map di depannya, menggeser selembar kertas ke arah Akmal. "Perusahaan kami sedang ekspansi besar-besaran di Kalimantan Selatan. Kami butuh orang lokal yang paham seluk-beluk adat, paham keluarga-keluarga besar di sini, punya jaringan luas. Kami tawarkan posisi Direktur Regional Hubungan Lahan, gaji dan tunjangan di luar apa yang pernah Anda terima selama ini."

Akmal menatap kertas ituangka gaji yang tertera membuat dadanya berdebar, jauh melampaui penghasilannya mengurus bisnis keluarga selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar diakui setara oleh siapa pun.

"Tanah keluarga saya bukan syarat mutlak?" tanya Akmal, mencoba menahan diri agar tidak terlihat terlalu tertarik.

"Tidak," jawab Pak Hendra santai. "Tapi tentu, kalau Anda bisa yakinkan keluarga untuk tetap lepaskan sebagian lahan itu ke kami, itu akan jadi nilai plus besar buat posisi Anda di perusahaan. Bonus penandatanganan kontrak lahan saja, sudah setara gaji

Anda tiga tahun."

Akmal terdiam lama, menatap ke luar jendela, ke arah sungai yang sama yang mengalir di belakang tanah keluarganya, tanah yang kini diperebutkan dua visi yang sama sekali berbeda.

Lihat selengkapnya