Bab 12 Mimpi di Tepi Sungai
Sejak pertemuan di pasar terapung, Aisyah tidak bisa berhenti memikirkan Fikri. Suatu sore, ia mengajak Raka menyusuri jalan setapak menuju rumah panggung sederhana di ujung kampung, tempat Fikri tinggal bersama ayahnya.
Rumah itu kecil, dindingnya dari papan kayu yang mulai lapuk di beberapa bagian, atapnya seng yang sudah berkarat. Fikri membuka pintu dengan wajah terkejut melihat siapa yang datang.
"Kak Nurul? Kak Raka?" Ia buru-buru merapikan sarungnya.
"Maaf, rumahnya berantakan..."
"Tidak apa-apa, Fikri," kata Aisyah lembut. "Kami cuma mau silaturahmi. Abahmu ada?"
Fikri menunduk sejenak. "Ada, Kak. Tapi lagi tidur. Abah kena batuk lama, sudah dua bulan tidak sembuh-sembuh. Kata orang kampung, mungkin sakit paru-paru, tapi belum sempat diperiksa ke puskesmas kecamatan. Jauh, Kak, dan ongkos perahu ke sana lumayan."
Raka dan Aisyah bertukar pandang, dada mereka sama-sama terasa sesak mendengarnya. Dari dalam rumah, terdengar suara batuk kering yang panjang, memilukan.
"Boleh kami lihat abahmu sebentar?" tanya Aisyah.
Fikri mengangguk, membukakan pintu kamar sederhana itu. Pak Sarpani terbaring lemah di atas tikar, wajahnya pucat, tubuhnya kurus. Ia mencoba bangun begitu melihat tamu, tapi Raka buru-buru mencegahnya.
"Tidak usah bangun, Pak. Kami cuma mampir sebentar."
"Maaf, keadaan rumah begini..." suara Pak Sarpani parau, disusul batuk yang membuatnya meringis menahan sakit di dada.
Aisyah menahan air mata yang tiba-tiba menggenang, menatap sosok ayah yang berjuang sendirian membesarkan anaknya di tengah keterbatasan, sementara anaknya yang cerdas terpaksa menyerah pada keadaan demi bertahan hidup.