Bab 13 Suara dari Kampung
Meski restu Datu Ahmad sudah di tangan, dan Nenek sudah memerintahkan penghentian sementara aktivitas survei, bukan berarti keraguan warga lenyap begitu saja. Kabar soal "keluarga besar yang berebut tanah" tetap menyebar dari mulut ke mulut, kadang berubah bentuk setiap kali diceritakan ulang.
Suatu pagi, saat Raka dan Aisyah mengunjungi warung kopi kecil di ujung kampung untuk berkenalan lebih jauh dengan warga sekitar, mereka mendengar bisik-bisik yang tidak ditujukan untuk telinga mereka.
"Katanya mau bangun pesantren, tapi sebenarnya mau kuasai tanah buat proyek besar," bisik seorang lelaki paruh baya ke temannya, tidak menyadari Raka dan Aisyah baru saja duduk beberapa meja darinya. "Denger-denger, keluarga itu sendiri saja belum kompak. Katanya masih ada yang mau jual ke sawit diam-diam."
"Serius? Siapa yang bilang?"
"Ya pokoknya banyak yang bilang begitu. Namanya juga keluarga kaya, siapa tahu ujung-ujungnya duit juga yang menang."
Aisyah menegang mendengarnya, tangannya mengepal di bawah meja. Raka menggenggam tangannya pelan, memberi isyarat agar tenang.
Setelah keluar dari warung, Aisyah tidak bisa lagi menahan kegelisahannya. "Mas, aku takut ini bukan cuma gosip kosong. Kita berdua tahu, Akmal memang belum sepenuhnya berhenti.
Kalau warga sampai tahu detail sebenarnya, bisa runyam."
"Kita tidak bisa kendalikan omongan orang," jawab Raka, rahangnya mengeras. "Tapi kita bisa kendalikan apa yang kita perbuat. Kita buktikan lewat kerja nyata, bukan lewat perdebatan."
✦ ✦ ✦
Minggu berikutnya, Raka mengusulkan sesuatu pada Datu Ahmad dan beberapa tokoh kampung: sesi pengajian sekaligus edukasi keuangan sederhana untuk warga, digelar setiap Jumat sore di balai kampung. Bukan untuk menggurui, tapi sekadar berbagi hal-hal praktiscara menabung yang benar, cara menghindari pinjaman berbunga tinggi yang sering menjerat warga kecil, hingga dasar-dasar mengelola hasil kebun karet dan getah yang jadi mata pencaharian sebagian besar warga.