SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #15

Bab 15 Titik Terendah

Bab 15  Titik Terendah

Sepuluh hari sebelum tenggat satu bulan berakhir, sepucuk surat resmi tiba di rumah besar keluarga Al-Banjaribukan ditujukan pada Akmal secara pribadi kali ini, melainkan pada seluruh keluarga, atas nama PT Sawindo Lestari.

Paman Zainal mengumpulkan semua anggota keluarga inti malam itu juga, membacakan isi surat itu dengan wajah tegang. Penawaran resmi: harga sewa tiga hektar lahan di tepi sungai, dengan angka yang jauh melampaui perkiraan siapa punditambah dana pembangunan fasilitas umum kampung sebagai "bentuk tanggung jawab sosial perusahaan", dan bonus khusus bagi keluarga jika kesepakatan diteken sebelum akhir bulan.

Ruangan yang tadinya hening, seketika riuh oleh bisik-bisik.

"Angka ini... ini bisa menutup semua utang usaha kita," gumam seorang paman, menatap surat itu dengan mata melebar.

"Belum lagi dana pembangunan kampung. Bisa buat jalan baru, jembatan, macam-macam," sambung seorang bibi.

Raka merasakan dadanya sesak melihat perubahan raut wajah di ruangan ituwajah-wajah yang dua minggu lalu mengangguk terharu mendengar cerita Fikri dan Siti Rahmah, kini mulai berbisik-bisik menghitung untung rugi dalam angka rupiah.

"Kita sudah sepakat, kan?" suara Aisyah terdengar tegang, mencoba menahan gelombang keraguan yang mulai menjalar di ruangan. "Tanah itu untuk pesantren."

"Belum ada keputusan final, Nurul," sela seorang paman lain, nadanya hati-hati tapi tegas. "Angka ini terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Bukan berarti kita tidak dukung niat baikmu, tapi... keluarga ini juga punya kebutuhan nyata."

Nenek, yang duduk diam sejak tadi, akhirnya angkat bicara, suaranya lelah. "Kita bahas ini di pertemuan besar, sesuai jadwal semula. Jangan ambil keputusan tergesa-gesa malam ini."

Namun kerusakan sudah terjadi. Raka bisa melihatnya jelas di mata beberapa kerabatkeraguan yang dulu tak ada, kini mulai tumbuh.

Lihat selengkapnya