SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #17

BAB 17 WASIAT DITEMUKAN

BAB 17 WASIAT DITEMUKAN

 

Pagi-pagi sekali, Raka dan Aisyah kembali ke rumah panggung lama itu, kali ini ditemani seorang tukang kunci yang sengaja dipanggil dari pasar kota, serta Julak Amat yang sudah menunggu di depan pintu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Sudah saya coba dorong-dorong tadi malam, Bu, Pak," kata Julak Amat. "Tapi geraboknya masih keras. Kayu ulin, tahan puluhan tahun kalau tidak dipaksa."

Tukang kunci itu berjongkok di depan lemari kecil tersebut, memeriksa gembok karatan dengan teliti sebelum mengeluarkan seperangkat alat dari tasnya. Beberapa menit berlalu dengan suara logam beradu pelan, sementara Raka dan Aisyah berdiri menunggu dengan napas tertahan.

"Klik" suara gembok akhirnya terbuka.

"Alhamdulillah," bisik Aisyah, tangannya mencengkeram lengan Raka erat-erat.

Tukang kunci itu mundur, memberi jalan. Raka melangkah maju pelan, membuka pintu lemari kayu ulin itu dengan hati-hati engselnya berderit protes setelah bertahun-tahun tidak tersentuh.

Di dalamnya, tersusun rapi beberapa map kulit yang sudah menguning dimakan usia, sebuah kotak kayu kecil berukir, dan setumpuk surat-surat lama yang diikat benang. Raka mengangkat map kulit paling atas dengan tangan gemetar, membuka lembar demi lembar dengan hati-hati agar kertas tuanya tidak sobek.

"Ini dia," gumamnya, suaranya bergetar menahan haru.

Sehelai kertas bermaterai, tulisan tangan yang rapi meski sudah agak pudar, dengan tanda tangan yang masih bisa terbaca jelas: Haji Muhammad Rasyid Al-Banjari. Di bawahnya, dua tanda tangan saksi, salah satunya bertuliskan nama Datu yang sudah lama wafat, seperti yang diceritakan Nenek.

Lihat selengkapnya