SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #18

BAB 18 PESANTREN BERDIRI

BAB 18 PESANTREN BERDIRI

 

Musyawarah besar itu tidak lagi digelar di ruang tengah rumah keluarga, melainkan di balai kampung atas usul Datu Ahmad, yang menegaskan bahwa keputusan ini sudah menyangkut lebih dari sekadar satu keluarga. Bangku-bangku panjang disusun memenuhi ruangan, dihadiri keluarga besar Al-Banjari, para tetua adat, dan puluhan warga kampung yang datang dengan rasa penasaran bercampur harap.

Raka berdiri di depan, kali ini didampingi Farel dan Aisyah yang menggenggam sebuah map kulit tua di dadanya. Nenek duduk di kursi utama, diapit Paman Zainal dan Datu Ahmad. Akmal duduk agak terpisah, wajahnya tegang sejak pagi, seolah sudah menduga sesuatu akan terjadi hari itu.

"Assalamu'alaikum," Raka membuka, suaranya mantap meski dadanya berdebar. "Hari ini kami ingin sampaikan keputusan akhir soal tanah wakaf di tepi sungaibukan cuma kepada keluarga, tapi kepada seluruh warga yang selama ini menaruh harap maupun khawatir."

Ia memaparkan proposal lengkap legalitas yayasan yang sudah rampung, skema sukuk wakaf dari Farel lengkap dokumen resmi OJK dan Dewan Pengawas Syariah, hingga rencana pelibatan warga dalam pengelolaan kandang dan kebun, persis seperti yang sudah teruji di Tulungagung.

Lalu, Aisyah melangkah maju, membuka map kulit tua itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Sebelum kita lanjut membahas untung-rugi," katanya, suaranya menggema di ruangan yang mendadak hening, "saya ingin sampaikan sesuatu yang baru kami temukan dua hari lalu." Ia mengangkat sehelai kertas bermaterai yang sudah menguning.

"Ini surat wasiat asli almarhum Ayah saya, Haji Muhammad Rasyid, ditulis dan disahkan bertahun-tahun sebelum beliau wafat."

Ia membacakan isi wasiat itu perlahan, suaranya bergetar menahan haru di beberapa bagian. Ruangan yang tadinya riuh oleh bisik-bisik, seketika senyap total.

"Ayah saya sudah menitipkan amanah ini jauh sebelum saya bahkan memikirkan untuk pulang," lanjut Aisyah. "Tanah ini bukan lagi sekadar pilihan antara untung dan rugi. Ini amanah yang harus kita tunaikan, sesuai wasiat pemilik sahnya sendiri."

Lihat selengkapnya