SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #19

BAB 19 TANGAN-TANGAN YANG MEMBANGUN

BAB 19 TANGAN-TANGAN YANG MEMBANGUN

Minggu pertama setelah peletakan batu pertama, lahan tiga hektar di tepi sungai itu berubah wajah dengan cepat. Alat berat yang disewa dari kota mulai meratakan tanah, sementara puluhan warga kampungyang dulu terbelah antara mendukung dan ragukini bahu-membahu turun tangan, sebagian sebagai buruh bangunan berbayar, sebagian lagi menyumbang tenaga secara sukarela sebagai bentuk gotong royong yang sudah jadi tradisi turun-temurun di kampung itu.

Pak Yusri, yang dulu paling vokal mengkhawatirkan nasib sungai, kini justru jadi salah satu yang paling rajin mengawasi agar pembangunan tidak sampai merusak aliran airmemastikan drainase dibuat sesuai prinsip yang sudah dijelaskan Raka jauh-jauh hari.

"Biar saya yang pastikan, Pak Raka," katanya suatu pagi, menunjuk rancangan saluran air di atas kertas. "Saya paling paham arus sungai di sini, dari kecil sudah main di situ."

Herman, pemuda kampung yang dulu menawarkan diri belajar mengelola kandang, kini resmi jadi bagian tim yang mempersiapkan pembangunan kandang ayam petelur tahap penuh lima ribu ekor, sesuai cetak biru yang sudah teruji di Al-Falah.

✦ ✦ ✦

Dua minggu kemudian, Pak Slamet tiba dari Tulungagung, memenuhi undangan Raka dan Aisyah untuk membantu melatih warga kampung mengelola kebun bumbu dan kandang sesuai pengalamannya selama ini. Ia tidak datang sendirian Ustadz Arif turut mengirim empat orang alumni Al-Falah yang baru lulus, untuk jadi tenaga pengajar awal sekolah umum berjenjang yang direncanakan berdampingan dengan program tahfiz.

"Mereka sudah biasa mengajar di madrasah diniyah Al-Falah, Nak," kata Pak Slamet, memperkenalkan keempat anak muda itu pada Raka dan Aisyah. "Ustadz Arif bilang, biar yang mengajar di sini bukan orang asing, tapi yang sudah paham betul ruh pendidikan pesantren. Nanti kalau sudah ada guru-guru lulusan sini sendiri, tinggal diteruskan pelan-pelan."

Aisyah menyalami keempat guru muda itu satu per satu, matanya berbinar haru. "Terima kasih sudah mau jauh-jauh ke sini."

"Ini juga amanah dari Ustadz Arif, Bu," jawab salah satu dari mereka, tersenyum mantap. "Ilmu yang kami dapat di Al-Falah, sekarang saatnya disebarkan lebih jauh lagi."

Lihat selengkapnya