SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #22

BAB 22 FIKRI DAN SITI RAHMAH

BAB 22 FIKRI DAN SITI RAHMAH

 

Dua tahun berlalu sejak panen pertama itu. Pesantren Darul Hikmah Borneo kini menampung lebih dari tujuh puluh santri, dengan gedung asrama tahap kedua yang baru saja rampung dibangun dari hasil surplus wakaf produktif yang terus tumbuh.

Pagi itu, suasana pesantren lebih ramai dari biasanya. Sebuah panggung sederhana didirikan di halaman utama, dihiasi spanduk bertuliskan "Pelepasan Delegasi MTQ Tingkat ProvinsiCabang Tahfiz Al-Qur'an". Fikri, kini berusia lima belas tahun, berdiri di depan seluruh santri dan guru, mengenakan baju koko putih rapi, wajahnya campuran gugup dan bangga.

"Fikri akan mewakili Kalimantan Selatan di cabang tahfiz 20 juz," kata Ustadz pembimbing tahfiz pesantren, mengumumkan dengan suara bangga. "Hasil seleksi kabupaten dan provinsi, dari ratusan peserta, Fikri lolos ke posisi pertama."

Tepuk tangan riuh memenuhi halaman pesantren. Raka dan

Aisyah berdiri di barisan depan, menggendong putri kecil mereka, Khadijah, yang sudah berusia setahun lebih, menatap Fikri dengan mata berbinar banggaseperti menyaksikan buah dari benih yang mereka tanam bersama bertahun-tahun lalu di sebuah pasar terapung.

Pak Sarpani, yang kini sudah pulih sepenuhnya dari sakitnya dan bahkan kembali melaut secara rutin, berdiri di samping panggung dengan mata berkaca-kaca, tak henti mengusap wajahnya yang basah oleh haru.

"Dulu saya cuma bisa doa, Bu Nurul," katanya pelan pada Aisyah yang menghampirinya. "Tidak pernah saya bayangkan, anak saya yang dulu jarang sekolah karena bantu saya cari ikan, sekarang malah mewakili provinsi."

"Ini semua hasil kerja keras Fikri sendiri, Pak," jawab Aisyah, tersenyum hangat. "Kami cuma buka jalannya."

Lihat selengkapnya