BAB 23 AKMAL SANG DONATUR
Rapat tahunan yayasan digelar di ruang pertemuan pesantren yang baru, jauh lebih rapi dari pertemuan-pertemuan darurat yang dulu sering diwarnai ketegangan. Akmal berdiri di depan, mengenakan baju koko sederhana, membawa map berisi laporan keuangan tahunan yang sudah ia susun rapi selama berminggu-minggu.
"Sebelum saya sampaikan laporan," katanya, menatap seluruh anggota yayasan dan beberapa tetua keluarga yang hadir, "saya ingin sampaikan sesuatu yang sudah lama saya pikirkan matang-matang."
Ruangan hening, semua mata tertuju padanya.
"Seperti yang kalian tahu, selain mengurus yayasan, saya juga masih pegang sebagian usaha keluarga di luar tambangperkebunan karet dan usaha perdagangan yang dulu diwariskan Ayah pada saya sebelum beliau wafat." Akmal menarik napas, melanjutkan dengan suara yang mantap. "Bertahun-tahun saya kejar keuntungan dari usaha itu demi validasi, demi diakui setara dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Tapi dua tahun terakhir ini, bekerja di sini, saya belajar sesuatu yang jauh lebih berharga dari validasi itu."
Ia membuka map di tangannya, menunjukkan sebuah proposal yang sudah rapi tersusun.
"Saya putuskan, mulai tahun ini, tiga puluh persen keuntungan bersih usaha perkebunan dan perdagangan saya, akan saya wakafkan secara permanen sebagai dana abadi untuk Pesantren Darul Hikmah Borneobukan sumbangan sekali, tapi komitmen jangka panjang, dikelola profesional lewat yayasan, digunakan khusus untuk dua hal: beasiswa santri kurang mampu, dan pembangunan klinik kesehatan sederhana untuk warga kampung sekitar."
Ruangan riuh oleh tarikan napas kaget bercampur haru. Nenek, yang duduk di kursi utama, menutup mulutnya dengan tangan keriputnya, matanya berkaca-kaca.
"Klinik kesehatan," lanjut Akmal, suaranya mulai bergetar, "karena saya masih ingat betul, Pak Sarpani dulu hampir kehilangan kesempatan berobat cuma karena jarak dan biaya. Saya tidak mau ada lagi warga kampung ini yang harus menunggu sampai penyakitnya parah, cuma karena akses kesehatan yang jauh dan mahal."