BAB 24 RUMAH YANG SEBENARNYA
Dua tahun lebih sejak gugatan Pak Hendra ditolak pengadilan, pagi itu matahari baru saja merekah di ufuk timur, memantul keemasan di permukaan sungai yang mengalir tenang di belakang Pesantren Darul Hikmah Borneo. Suara lantunan ayat suci bersahutan dari masjid kecil di tengah kompleks, bercampur kokokan ayam dari kandang yang kini sudah berkembang jauh lebih besar dari rencana awaldelapan ribu ekor, hasil perluasan bertahap yang dikelola dengan cermat oleh tim yang sebagian besar adalah warga kampung sendiri.
Raka berdiri di beranda rumah dinas kecil mereka, tak jauh dari gerbang utama pesantren, menyeruput kopi sambil memandangi barisan santri yang berjalan menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Jumlah mereka kini menyentuh seratus dua puluh orang, jauh melampaui angka lima belas santri pertama dulu.
"Mas," panggil Aisyah dari dalam, suaranya diselingi tawa kecil seorang anak. "Sarapan sudah siap."
Raka menoleh, tersenyum melihat istrinya berdiri di ambang pintu, menggendong Khadijah yang kini sudah pandai berlari-lari kecil, menggeliat riang dalam gendongan ibunya.
"Sebentar lagi," jawab Raka, berjalan mendekat, mengecup kening istrinya lalu mencium pipi gembil putrinya yang langsung tertawa girang.
✦ ✦ ✦
Hari itu istimewa. Ustadz Arif datang jauh-jauh dari Tulungagung bersama rombongan kecil santri senior Al-Falah, dalam rangka kunjungan tahunan sekaligus menyaksikan dua peristiwa besar sekaligus: wisuda angkatan pertama program tahfiz Pesantren Darul Hikmah Borneo, dan peresmian klinik kesehatan yang baru saja rampung dibangun dari wakaf Akmal.
"Masya Allah," kata Ustadz Arif, menatap sekeliling kompleks pesantren yang jauh berkembang sejak terakhir kali ia lihat lewat foto-foto yang dikirim Raka. "Kalian benar-benar mewujudkannya, Nak."