SANTRI DI BORNEO

Prasetya
Chapter #25

BAB 25 LIMA TAHUN KEMUDIAN

BAB 25 LIMA TAHUN KEMUDIAN

 

Lima tahun sejak batu pertama diletakkan di tepi Sungai Martapura, Pesantren Darul Hikmah Borneo kini berdiri sebagai salah satu pesantren rujukan di Kalimantan Selatan dua ratus lebih santri mondok di sana, unit usaha wakaf produktifnya berkembang jadi tiga cabang kandang ayam petelur di kampung-kampung sekitar, kebun bumbu yang memasok kebutuhan pasar se-kabupaten, dan koperasi kerajinan sasirangan yang dirintis Siti Rahmah dulu, kini mempekerjakan puluhan ibu-ibu kampung sebagai penjahit dan pengrajin.

Pagi itu, Raka berdiri di ruang kerjanya, kini lebih luas, dilengkapi papan tulis besar berisi rencana ekspansi unit usaha untuk tahun mendatang, menatap keluar jendela ke arah kompleks pesantren yang riuh oleh aktivitas pagi. Khadijah, kini berusia enam tahun, tengah berlari kecil menuju kelas mengaji anak-anak, rambutnya yang tertutup kerudung mungil berkibar tertiup angin pagi. Di belakangnya, seorang balita laki-laki digendong Aisyah adik Khadijah, lahir dua tahun lalu, diberi nama Muhammad Rasyid, mengambil nama kakek yang tak pernah sempat ia temui, tapi warisannya begitu nyata membentuk kehidupannya.

"Mas," panggil Aisyah dari pintu, tersenyum. "Ada surat dari Tulungagung. Ustadz Arif mengundang kita ke acara Haul Al-Falah bulan depan sekaligus peresmian gedung baru di sana, hasil kerja sama wakaf produktif dua pesantren."

Raka tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Sudah lama juga kita tidak pulang ke sana."

✦ ✦ ✦

Sebulan kemudian, keluarga kecil mereka Raka, Aisyah, Khadijah, dan Rasyid kecil menempuh perjalanan panjang kembali ke Tulungagung, kali ini didampingi Fikri yang kini menempuh kuliah ekonomi syariah di Banjarmasin sambil tetap aktif membantu manajemen unit usaha pesantren di waktu senggangnya, dan Siti Rahmah yang ingin melihat langsung model wakaf produktif yang jadi inspirasi awal usahanya.

Al-Falah menyambut mereka dengan hangat bangunan yang dulu sederhana, kini juga berkembang berkat kerja sama dua pesantren yang saling berbagi ilmu wakaf produktif. Ustadz Arif, meski rambutnya sudah lebih putih dari terakhir kali mereka bertemu, menyambut dengan pelukan hangat yang sama seperti dulu.

Lihat selengkapnya