SANTRI DI BURSA EFEK

Dedy Prasetya Putra
Chapter #1

SANTRI DI BURSA EFEK

SANTRI DI BURSA EFEK

Buku Kedua dari Santri Pinggiran

oleh : Prasetya

BAB 1 

GERBANG BARU

 

Raka berdiri di depan cermin lemari kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan kemeja rapi untuk hari pertama kuliah. Tiga tahun lalu, cermin ini terakhir kali memantulkan bocah SMA yang matanya sembab karena begadang main gim di ponsel. Sekarang, wajah itu lebih tenang, tapi ada sesuatu yang asing di genggamannya sebuah smartphone baru, hadiah dari ayahnya.

"Kamu boleh pakai lagi," kata ayahnya waktu itu, sambil menyerahkan kotak itu dengan senyum yang tak biasa campuran bangga dan waswas. "Tapi ingat apa yang kamu pelajari di Al-Falah."

Raka mengangguk, meski jujur saja, tangannya sedikit gemetar saat menyalakan layar itu untuk pertama kalinya setelah tiga tahun. Notifikasi membanjir ratusan pesan lama, aplikasi yang minta diperbarui, dan dunia yang terasa berlari jauh lebih cepat dari yang ia ingat.

Ia menarik napas panjang. Bukan gawai yang jadi masalah, batinnya, mengingat nasihat yang pernah ia dengar di serambi masjid pesantren, tapi siapa yang mengendalikan siapa.

• • •

Kampus Universitas Cendekia Nusantara di Surabaya ramai oleh mahasiswa baru yang lalu-lalang dengan koper dan map pendaftaran. Raka menyusuri koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan langkah yang sengaja ia buat mantap, meski dalam hati ia merasa seperti santri yang tersesat di kotanya sendiri.

Semua terasa berbeda. Di pesantren, waktu diatur oleh adzan dan jadwal ngaji. Di sini, waktu diatur oleh notifikasi kalender di ponsel dan obrolan grup WhatsApp angkatan yang sudah beranggotakan 200 orang lebih sebelum kelas pertama dimulai.

Seorang mahasiswa menabrak bahunya sambil buru-buru menelepon. "Iya, iya, sahamnya udah gue jual, untung lumayan pagi ini" suaranya menghilang ditelan keramaian.

Raka berhenti sejenak. Saham? Kata itu asing sekaligus menarik. Ia teringat pelajaran kewirausahaan di pesantren tentang jual beli yang halal, tentang riba yang harus dihindari. Tapi soal saham, ia sama sekali belum paham.

Ia melanjutkan langkah menuju ruang kelas, sambil menggumam pelan pada dirinya sendiri, seperti kebiasaan lama dari kamar 7 dulu mengulang niat sebelum memulai sesuatu yang baru.

Bismillah. Ilmu ini, semoga jadi jalan, bukan jebakan.

Ia duduk di bangku paling depan kebiasaan yang ia bawa dari kelas mengaji, di mana duduk di depan berarti lebih mudah menyerap ilmu. Beberapa mahasiswa lain melirik heran; jarang ada yang berebut kursi depan di hari pertama.

Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro masuk, meletakkan tasnya, lalu menuliskan satu kalimat besar di papan tulis:

"Uang yang tidur, tidak akan pernah berkembang. Tapi uang yang bekerja tanpa arah, bisa menghancurkan pemiliknya."

Raka menatap kalimat itu lama. Entah kenapa, ia merasa kalimat itu akan menjadi pintu menuju babak baru dalam hidupnya babak yang jauh lebih rumit dari sekadar menghafal hadits atau menguasai jurus silat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

KELAS PERTAMA, ISTILAH ASING

 

Ruang kuliah 301 dipenuhi suara obrolan sebelum dosen datang. Raka duduk di bangku depan, seperti kebiasaannya, dengan buku catatan bergaris yang ia bawa dari rumah bukan laptop seperti kebanyakan mahasiswa lain yang sibuk membuka aplikasi trading di layar mereka sambil menunggu kelas dimulai.

"Lo belum punya aplikasi saham?" tanya mahasiswa di sebelahnya, seorang pemuda berkacamata dengan kaus band asing, sambil melirik buku catatan Raka. "Gila, zaman sekarang masih nyatet manual."

Raka tersenyum canggung. "Baru mulai belajar dari nol, soalnya."

"Gue Farel," katanya, mengulurkan tangan. "Udah dua tahun main saham. Lumayan buat jajan bulanan."

Sebelum Raka sempat menjawab lebih jauh, dosen masuk Bu Ratna, dosen Pengantar Ekonomi Mikro yang sama dari hari sebelumnya. Ia membuka slide presentasi berjudul "Pasar Modal dan Instrumen Investasi".

"Siapa di sini yang sudah pernah dengar istilah saham, obligasi, atau reksa dana?" tanyanya membuka kelas.

Hampir semua tangan terangkat. Raka mengangkat tangannya pelan, meski sebenarnya ia hanya pernah dengar kata "saham" dari obrolan orangorang di kampus kemarin.

Bu Ratna menjelaskan dengan lugas: saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan, investor membeli saham dengan harapan nilainya naik atau mendapat pembagian keuntungan lewat dividen. Ia juga menyinggung soal bunga deposito dan obligasi sebagai instrumen investasi lain istilah "bunga" itu membuat Raka mengernyit pelan.

Bunga. Riba? batinnya. Ia teringat kajian fiqih muamalah di pesantren dulu tentang bagaimana riba dilarang keras karena mengandung unsur ketidakadilan, mengambil keuntungan dari uang tanpa usaha nyata.

• • •

Di pertengahan kelas, Bu Ratna beralih topik. "Sebelum kalian tergiur angka di layar aplikasi trading, kalian harus paham satu hal: harga saham itu cuma cermin. Yang penting adalah apa yang dipantulkan cermin itu kondisi perusahaan sesungguhnya. Itu yang disebut analisis fundamental."

Ia menuliskan tiga poin besar di papan: laporan keuangan, rasio utang, dan arus kas.

"Laporan keuangan itu ibarat rapor perusahaan. Dari situ kalian bisa lihat, perusahaan ini untung apa rugi, asetnya dari mana, utangnya berapa besar dibanding kekayaannya. Rasio utang penting supaya kalian tahu, perusahaan ini sehat atau sebenarnya jalan di atas utang yang menumpuk. Dan arus kas ini yang sering dilupakan pemula nunjukin apakah perusahaan itu beneran punya uang cash yang mengalir dari usahanya, atau cuma untung di atas kertas."

Raka mencatat cepat, sambil diam-diam menyadari sesuatu: rasio utang yang disebut Bu Ratna ini mirip dengan apa yang pernah ia baca soal saham syariah batas rasio utang berbasis bunga. Apa mungkin dua hal ini saling berkaitan? pikirnya, meski belum berani menyimpulkan.

"Yang paling penting," lanjut Bu Ratna, "jangan pernah beli saham cuma karena ikut-ikutan atau lihat grafiknya lagi naik. Pahami dulu bisnisnya. Perusahaan yang fundamentalnya kuat itu biasanya juga perusahaan yang model bisnisnya jelas dan berkelanjutan bukan yang untungnya dari spekulasi sesaat."

Kalimat itu tertanam di kepala Raka sepanjang hari, dan menjadi salah satu alasan ia semakin serius mendalami topik ini di luar jam kuliah.

• • •

Selepas kelas, Raka masih termenung di bangkunya sambil mencatat ulang poin-poin penting. Farel yang hendak keluar ruangan berhenti sejenak.

"Lo kelihatan mikir keras," katanya. "Ada yang bingung?"

"Bu Ratna tadi nyebut soal bunga obligasi," jawab Raka hati-hati. "Itu...

nggak masalah, ya? Maksudnya, secara agama?"

Farel mengangkat bahu. "Gue nggak mikir sejauh itu, sih. Yang penting cuan." Ia tertawa kecil, lalu menepuk bahu Raka. "Tapi kalau lo concern soal itu, ada kok saham syariah. Temen gue main itu. Kayaknya BEI punya daftar khususnya."

Kata itu saham syariah tersimpan di kepala Raka sepanjang sisa hari. Sepulang kelas, ia duduk di pojok perpustakaan kampus, membuka laptop pinjaman adiknya, dan mulai mengetik pencarian pertamanya sebagai mahasiswa baru:

"Apa itu saham syariah?"

Layar menampilkan ribuan hasil. Raka menarik napas panjang, merasa seperti kembali ke malam-malam pertama di pesantren berdiri di ambang sesuatu yang asing, tapi kali ini, ia yang memilih untuk masuk lebih dalam.

BAB 3 

TEMAN KAMPUS, DUNIA BARU

 

Minggu kedua kuliah, Raka mulai terbiasa dengan ritme kampus meski jauh berbeda dari ritme pesantren yang dulu terasa kaku tapi jelas arahnya. Di sini, waktu terasa lebih longgar, tapi justru itu yang membuatnya sering bingung harus mengisi apa.

Ia mulai akrab dengan dua orang: Farel, teman sekelas yang sudah dua tahun main saham, dan seorang mahasiswi bernama Nadia ketua kelompok diskusi kecil yang dibentuk Bu Ratna untuk tugas mingguan.

Nadia berbeda dari kebanyakan mahasiswa lain. Ia tenang, selalu membawa notes fisik seperti Raka, dan punya cara bicara yang runtut mengingatkannya sedikit pada Aisyah, meski Raka buru-buru menepis pikiran itu setiap kali muncul.

"Lo serius mau belajar saham syariah?" tanya Nadia suatu sore, saat mereka mengerjakan tugas kelompok di kantin kampus. "Jarang ada yang mikirin itu di semester pertama. Kebanyakan baru kepikiran pas udah kena masalah."

"Emang kenapa?" tanya Raka.

Nadia menghela napas. "Sepupu gue dulu ikut-ikutan main saham gorengan. Untung gede di awal, terus semua ludes dalam semalam. Dia nggak paham apa yang dia beli cuma ikut grup Telegram yang bilang

'auto cuan'."

Raka terdiam, mencerna kata-kata itu. Di pesantren, ia diajarkan bahwa setiap keputusan besar harus lewat istikharah dan musyawarah, bukan sekadar ikut-ikutan.

Di sisi lain, Farel punya pandangan berbeda. Suatu malam, ia mengajak Raka gabung ke grup WhatsApp bernama "Cuan Squad" isinya delapan orang mahasiswa yang aktif membahas saham-saham yang sedang "hot" dan sering berganti posisi dalam hitungan jam.

"Coba deh gabung," kata Farel sambil menyodorkan ponselnya. "Nggak perlu modal gede. Mulai dari recehan juga bisa. Yang penting berani ambil momentum."

Raka melihat layar itu grafik naik-turun yang bergerak cepat, emoji api dan uang berterbangan di setiap pesan, dan seseorang yang menulis besar-besar: "ALL IN sekarang, target profit 20% minggu ini!!"

Ada sesuatu yang mengganggu dalam dadanya. Bukan karena ia menghakimi, tapi karena ia teringat satu hal yang sering diulang gurunya dulu: "Ilmu itu pelita. Kalau kamu jalan tanpa ilmu, sama saja jalan dalam gelap sambil bawa obor yang nggak pernah kamu nyalakan."

"Aku pikir-pikir dulu," jawab Raka pelan, mengembalikan ponsel itu.

Farel mengangkat bahu, tak keberatan. "Terserah lo. Tapi jangan kelamaan mikir pasar nggak nungguin orang yang ragu-ragu."

Malam itu, di kamar rumahnya, Raka duduk bersila di atas kasur, membuka buku catatan lamanya dari pesantren bukan yang baru. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang dititipkan sebelum ia pulang:

"Dunia luar akan menawarkan banyak jalan cepat. Tapi santri sejati tahu, jalan yang benar kadang memang lebih lambat bukan karena lemah, tapi karena berhati-hati."

Raka menutup buku itu pelan, lalu membuka laptop, melanjutkan pencarian tentang saham syariah yang sempat tertunda. Kali ini dengan niat yang lebih mantap ia tidak ingin sekadar ikut arus, tapi ingin benarbenar mengerti sebelum melangkah.

Bab 4 Dua Bahasa, Satu Makna

Akhir pekan itu, Raka menempuh perjalanan dari Surabaya menuju Tulungagung untuk kembali ke Pesantren Al-Falah, membawa satu buku catatan penuh istilah dari kelas Bu Ratna laporan keuangan, rasio utang, arus kas dan satu pertanyaan besar yang ingin ia ajukan kepada Ustadz Arif, pengajar fiqih muamalah yang dulu membimbingnya memahami hukum jual-beli, riba, dan akad dalam Islam.

Ustadz Arif menyambutnya di serambi masjid, tempat yang sama di mana dulu Raka sering duduk mendengarkan kajian sore.

"Jadi, kamu sekarang belajar ekonomi," kata Ustadz Arif sambil tersenyum. "Dan katanya mau coba-coba main saham?"

"Bukan main-main, Ustadz," jawab Raka cepat. "Aku serius mau belajar dulu, sebelum benar-benar beli. Sebelum tanya soal halal-haram, aku mau cerita dulu apa yang diajarin dosenku minggu ini." Raka membuka catatannya. "Katanya, sebelum beli saham, kita harus analisis fundamental cek laporan keuangan, rasio utang perusahaan, sama arus kasnya. Katanya, perusahaan yang fundamentalnya kuat itu biasanya juga yang bisnisnya jelas dan nggak asal untung sesaat."

Ustadz Arif mendengarkan dengan seksama, lalu tersenyum. "Menarik. Sekarang coba dengar apa yang mau aku jelaskan, dan lihat apa ada yang mirip."

Ia mulai menjelaskan dengan sabar, seperti gaya mengajarnya dulu pelan, tapi setiap kalimat terasa penting untuk dicatat.

"Begini, Raka. Dalam Islam, ada dua hal utama yang harus kamu periksa sebelum membeli saham sebuah perusahaan. Anggap saja itu dua saringan dua filter."

"Filter pertama?" tanya Raka, membuka buku catatannya.

"Filter pertama itu soal jenis usahanya. Ini yang paling mendasar. Perusahaan itu bergerak di bidang apa? Kalau usahanya jelas-jelas haram jual beli minuman keras, riba lewat bank konvensional, perjudian, produksi barang yang diharamkan maka otomatis gugur, nggak peduli seberapa untung perusahaan itu."

Raka mencatat cepat. "Jadi kalau usahanya halal, langsung boleh?"

"Belum tentu," Ustadz Arif menggeleng pelan. "Di situlah filter kedua masuk soal struktur keuangannya. Bisa saja usahanya halal, jual makanan misalnya, tapi ternyata perusahaan itu punya banyak utang berbunga ke bank, atau sebagian pendapatannya dari bunga deposito. Nah, ini yang harus diperiksa rasionya."

"Rasio kayak gimana, Ustadz?"

"Ini bagian yang sifatnya ijtihad ulama, jadi ada batas toleransi yang disepakati. Misalnya, utang berbasis bunga dibandingkan total aset perusahaan itu nggak boleh kelewat batas tertentu. Begitu juga pendapatan yang berasal dari sumber non-halal itu juga ada batas persentase kecilnya, karena di dunia nyata, hampir mustahil ada perusahaan besar yang seratus persen bersih tanpa sedikit pun bersinggungan dengan sistem keuangan konvensional."

Raka mengernyit. "Jadi... kalau ada sedikit pendapatan non-halal, tapi di bawah batas itu, tetap boleh dibeli?"

"Boleh, tapi dengan syarat," jawab Ustadz Arif. "Bagian pendapatan yang non-halal itu meski kecil nggak boleh kamu nikmati begitu saja. Kalau perusahaan bagi dividen, dan di dalamnya ada sedikit unsur dari pendapatan non-halal tadi, maka bagian itu wajib kamu sisihkan, disedekahkan. Bukan untuk dinikmati pribadi. Ini yang disebut proses purifikasi atau pembersihan harta."

Raka terdiam, mencerna penjelasan itu perlahan. Ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan bukan sekadar mencari label "syariah" di aplikasi, tapi memahami logika di baliknya.

"Terus, Ustadz, gimana aku tahu perusahaan mana yang udah lolos dua filter itu? Aku kan nggak bisa cek laporan keuangan satu-satu."

Ustadz Arif tersenyum. "Justru itu bagusnya zaman sekarang. Otoritas jasa keuangan sudah punya daftar resmi perusahaan yang lolos dua filter tadi dikumpulkan dalam satu daftar, diperbarui berkala. Kamu tinggal cari saham yang masuk daftar itu. Tapi" ia mengangkat telunjuk, "itu bukan berarti kamu berhenti mikir. Daftar itu cuma langkah awal. Kamu tetap harus paham, kenapa sebuah perusahaan bisa masuk atau keluar dari daftar itu."

"Kenapa gitu?"

"Karena daftar itu di-review, dievaluasi ulang secara berkala. Bisa saja perusahaan yang tahun ini masuk, tahun depan keluar karena rasio keuangannya berubah. Kalau kamu cuma ikut nama tanpa paham alasannya, kamu bakal kebingungan tiap kali ada perubahan."

Raka menyusun kepingan itu di kepalanya. "Ustadz, coba perhatikan. Dosenku bilang, perusahaan sehat itu diukur dari rasio utangnya, dari arus kasnya yang jelas, dari model bisnis yang berkelanjutan. Kayaknya itu hampir sama persis dengan filter kedua tadi soal struktur keuangan."

"Betul sekali," jawab Ustadz Arif. "Bedanya, ilmu ekonomi modern mengukur itu demi keuntungan dan risiko. Sementara syariah mengukur itu juga demi keberkahan dan menjauhi riba. Tapi arahnya, sering kali, sama."

Raka terdiam, menyusun kepingan itu lebih jauh di kepalanya. "Jadi...

perusahaan yang secara syariah bersih, biasanya juga secara fundamental ekonomi itu sehat?"

"Nggak selalu seratus persen sama," jawab Ustadz Arif hati-hati, "tapi seringnya begitu. Perusahaan yang nggak bergantung sama utang berbunga besar, itu artinya dia nggak gampang goyah kalau suku bunga naik. Perusahaan yang bisnisnya jelas dan halal, biasanya juga punya model usaha yang lebih bisa dipertanggungjawabkan ke publik, nggak sekadar cari untung instan. Itu dua bahasa berbeda bahasa fiqih dan bahasa ekonomi tapi keduanya sering mengarah ke kesimpulan yang sama: kehati-hatian."

Raka menuliskan satu kalimat besar di catatannya, menggarisbawahinya dua kali:

"Syariah bukan penghalang untuk berpikir rasional. Syariah adalah bagian dari berpikir rasional itu sendiri."

Raka pulang ke rumah malam itu dengan pikiran yang jauh lebih terang. Dua filter itu jenis usaha dan struktur keuangan kini bukan sekadar istilah teknis di layar aplikasinya, tapi kerangka berpikir yang akan ia bawa setiap kali menimbang sebuah keputusan investasi.

BAB 5

SATU SLIDE DI DEPAN KELAS

 

Minggu berikutnya, dalam sesi diskusi kelompok, Bu Ratna meminta setiap kelompok mempresentasikan satu kerangka analisis untuk menilai kelayakan investasi sebuah perusahaan. Raka, yang satu kelompok dengan Nadia, mengusulkan sesuatu yang berbeda dari kelompok lain.

"Kita coba tambahin satu lapisan lagi, gimana?" usul Raka kepada Nadia sebelum presentasi. "Bukan cuma rasio utang sama arus kas standar, tapi juga filter syariah dua-duanya ternyata saling melengkapi."

Nadia tersenyum lebar. "Gue suka itu. Justru itu yang bikin analisis kita beda dari kelompok lain."

Saat presentasi, Raka maju dengan satu slide sederhana bertuliskan "Fundamental + Filter Syariah: Dua Lapis Kehati-hatian", membagi kriteria penilaian menjadi dua kolom berdampingan kolom ekonomi konvensional (rasio utang, arus kas, pertumbuhan laba) dan kolom syariah (jenis usaha, rasio utang berbasis bunga, porsi pendapatan non-halal).

"Kesimpulan kelompok kami," kata Raka menutup presentasi,

"perusahaan yang lolos dua filter ini sekaligus, biasanya bukan cuma 'aman secara agama', tapi juga secara logika bisnis lebih tahan banting. Karena keduanya sama-sama mengukur kehati-hatian, cuma dari sudut pandang berbeda."

Ruang kelas hening sejenak sebelum Bu Ratna, yang sejak tadi menyimak dari bangku belakang, mengangguk pelan.

"Analisis yang menarik," katanya. "Kalian menunjukkan sesuatu yang sering dilupakan mahasiswa ekonomi bahwa prinsip dan nilai itu bukan lawan dari rasionalitas, tapi bisa jadi bagian darinya. Bagus, Raka, Nadia."

Beberapa mahasiswa lain, termasuk Farel yang duduk di baris belakang, tampak berbisik satu sama lain sebagian mengangguk, sebagian masih terlihat ragu. Namun bagi Raka, momen itu terasa seperti validasi kecil: bahwa jalan yang ia pilih, meski lebih rumit dan lebih lambat, bukanlah jalan yang naif atau ketinggalan zaman melainkan jalan yang, jika dipahami dengan benar, justru lebih kokoh.

BAB 6

KABAR DARI AISYAH

 

Sudah hampir sebulan sejak Raka menginjakkan kaki di kampus, dan rutinitas mulai terasa lebih akrab. Ia menyusun jadwal harian mirip di pesantren dulu bangun sebelum subuh, membaca sedikit materi kuliah sebelum kelas, lalu menyisihkan waktu sore untuk belajar lebih dalam soal saham syariah, kadang bersama Nadia di perpustakaan.

Suatu sore, saat ia membuka ponselnya untuk mengecek jadwal kuliah esok, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan. Ia membukanya dengan rasa penasaran.

Assalamualaikum, Raka. Ini Aisyah. Dapat nomormu dari kenalan di pesantren, semoga nggak keberatan. Aku baru terbit tulisan di majalah pesantren, judulnya "Jujur dalam Berniaga". Kalau berkenan, aku kirim filenya. Semoga bermanfaat buatmu yang katanya lagi belajar ekonomi.

Raka membaca pesan itu berkali-kali, dengan perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan senang, canggung, dan sedikit malu, seperti kembali ke masa-masa terakhir di pesantren saat mereka hanya bertukar sapa singkat lewat mading sekolah.

Waalaikumsalam, Aisyah. Nggak apa-apa, malah senang. Boleh banget dikirim.

Tak lama, sebuah file PDF masuk. Raka membukanya di kamar rumahnya yang sunyi. Tulisan Aisyah membahas kisah seorang pedagang di pasar yang jujur menimbang dagangannya meski bisa saja curang tanpa ketahuan dan bagaimana kejujuran itu justru membuat usahanya bertahan puluhan tahun, sementara pedagang lain yang curang perlahan kehilangan pelanggan.

Ada satu paragraf yang membuat Raka berhenti membaca sejenak, lalu mengetik ulang kalimat itu di buku catatannya sendiri bukan menyalin persis, tapi menuliskan ulang maknanya dengan kata-katanya sendiri: bahwa kejujuran dalam berdagang bukan sekadar aturan agama, tapi fondasi kepercayaan yang membuat sebuah usaha bisa bertahan lama.

Raka membalas pesan Aisyah malam itu.

Tulisannya bagus banget, Aisyah. Kebetulan aku lagi belajar soal investasi saham yang sesuai syariah. Ternyata prinsipnya mirip soal kejujuran perusahaan, keterbukaan laporan keuangan, nggak ada yang ditutup-tutupi. Jadi kepikiran, mungkin dunia bisnis modern juga butuh nilai yang sama kayak di tulisanmu.

Balasan Aisyah datang beberapa menit kemudian.

Itu yang aku selalu percaya. Nilai-nilai yang kita pelajari di pesantren itu nggak berhenti di gerbang pesantren aja. Malah harusnya makin kelihatan gunanya begitu kita masuk dunia yang lebih luas.

Percakapan mereka berlanjut hingga larut, membahas rencana masingmasing Aisyah yang kini aktif menulis dan mengajar mengaji anak-anak di kampungnya, Raka yang mulai menata arah studinya. Ada jarak kota yang memisahkan mereka, tapi entah kenapa percakapan itu terasa seperti menyambung kembali sesuatu yang sempat terputus.

Sebelum tidur, Raka menuliskan satu baris terakhir di buku catatannya:

"Kadang, kabar dari orang yang tepat datang di waktu yang paling kita butuhkan."

Bab 7 Ujian Pertama

Dua bulan berjalan, dan Raka mulai merasa cukup percaya diri dengan pemahamannya soal saham syariah. Dengan uang tabungannya sendiri, ia akhirnya memutuskan membuka rekening efek didampingi Nadia yang sudah lebih dulu mencoba, meski dengan modal kecil.

"Jangan buru-buru," pesan Nadia saat mereka duduk di kantin, laptop terbuka menampilkan aplikasi sekuritas. "Pelajari dulu laporan keuangannya, jangan cuma lihat harga naik."

Raka mengangguk, memilih satu emiten yang sudah lama ia pelajari perusahaan dengan fundamental yang menurutnya kuat, masuk daftar syariah, bergerak di sektor yang menurutnya bermanfaat bagi orang banyak. Ia membeli dalam jumlah kecil, sesuai prinsip kehati-hatian yang selalu ia pegang.

Minggu pertama, harga saham itu naik tipis. Raka merasakan sensasi asing  debar kecil setiap kali membuka aplikasi, melihat angka hijau di layarnya. Ia mulai memahami kenapa Farel begitu ketagihan dengan dunia ini.

Namun di minggu kedua, pasar bergejolak. Ada berita soal kondisi ekonomi global yang membuat banyak saham turun serentak, termasuk milik Raka. Angka di layarnya berubah merah, terus merosot setiap hari.

Farel, yang mendengar soal ini, langsung mendatangi Raka di kelas. "Buruan jual, Ka! Cut loss sekarang sebelum makin parah. Gue juga lagi keluar dari beberapa posisi."

Raka menatap layar ponselnya, tangannya sedikit gemetar. Nilai investasinya turun cukup signifikan bukan jumlah besar, tapi cukup untuk membuat dadanya berdebar cemas. Untuk pertama kalinya, ia merasakan godaan untuk mengambil keputusan tergesa-gesa.

Malam itu, alih-alih membuka aplikasi setiap lima menit, Raka menutup ponselnya dan duduk bersila, mencoba menenangkan pikiran. Ia membuka kembali catatan lamanya bukan hanya catatan dari Ustadz Arif, tapi juga slide yang pernah ia presentasikan bersama Nadia di depan kelas Bu Ratna: "Fundamental + Filter Syariah: Dua Lapis Kehati-hatian."

Ia membaca ulang alasannya sendiri dulu memilih emiten ini bukan karena ikut tren, bukan karena rekomendasi grup "Cuan Squad", tapi karena sudah lolos dua lapis penyaringan: fundamental ekonominya kuat, dan struktur keuangannya bersih dari riba berlebihan. Penurunan harga sekarang murni karena sentimen pasar secara umum, bukan karena ada yang berubah dari dua hal yang sudah ia periksa dengan hati-hati itu.

Ia menelepon Nadia untuk memastikan pemahamannya.

"Lo inget nggak presentasi kita waktu itu?" tanya Raka. "Dua lapis kehati-hatian. Aku baru sadar, ini saatnya diuji beneran, bukan cuma teori di slide."

"Nah, itu dia," jawab Nadia. "Kalau dua-duanya masih valid fundamentalnya sehat, filternya masih lolos kenapa mesti panik cuma karena harga turun sementara?"

Kata-kata itu menguatkan keputusan Raka. Ia memilih untuk tidak menjual, meski hatinya masih sedikit was-was. Ia menuliskan di buku catatannya malam itu:

"Dua filter itu bukan cuma buat mutusin beli. Tapi juga buat mutusin bertahan, waktu semua orang di sekitarku panik."

Tiga minggu kemudian, pasar mulai stabil kembali, dan nilai investasinya perlahan pulih, bahkan sedikit lebih tinggi dari harga belinya semula. Namun bagi Raka, keuntungan kecil itu terasa kurang penting dibanding pelajaran yang ia dapatkan bahwa investasi sejati bukan soal siapa yang paling cepat bereaksi, tapi siapa yang paling teguh memegang prinsip yang sudah ia bangun sejak awal, dari serambi masjid pesantren hingga ruang kelas kampus.

Ia mengirim pesan singkat kepada Ustadz Arif malam itu:

Ustadz, aku baru aja lewatin ujian pertama di dunia saham. Alhamdulillah, dua filter yang Ustadz ajarin sama yang aku gabungin sama pelajaran dari dosen beneran nyelametin aku dari keputusan gegabah.

Balasan Ustadz Arif datang tak lama:

Alhamdulillah. Itu baru ujian pertama, Raka. Tapi kalau fondasinya udah kuat kayak gini ilmu agama sama ilmu dunia jalan bareng insyaAllah kamu nggak akan gampang goyah.

BAB 8

DOSEN BARU, BAHASA BARU

 

Semester tiga dimulai dengan jadwal yang lebih padat. Di antara daftar mata kuliah baru, ada satu yang membuat Raka penasaran sejak awal: Pasar Modal Lanjutan, diampu oleh dosen yang belum pernah ia temui Pak Hilman.

Kesan pertama, Pak Hilman tidak seperti dosen ekonomi kebanyakan. Ia masuk kelas dengan peci dan gamis rapi, membawa laptop yang layarnya penuh dengan grafik candlestick berwarna-warni.

"Assalamualaikum," sapanya sambil meletakkan tas. "Saya mendengar dari Bu Ratna, ada mahasiswa yang sudah cukup memahami analisis fundamental dan filter syariah. Siapa yang dimaksud?"

Beberapa mahasiswa menoleh ke arah Raka. Ia mengangkat tangan, agak canggung.

"Baik," kata Pak Hilman, tersenyum tipis. "Namun hari ini kita akan naik satu tingkat lebih tinggi. Analisis fundamental dapat diibaratkan sebagai cara kita menilai kesehatan tubuh sebuah perusahaan dari dalam. Sekarang, saatnya kita mempelajari cara membaca pergerakan pasar itu sendiri yang disebut analisis teknikal."

Ia membuka slide berisi grafik naik-turun harga saham dengan polapola berbentuk lilin. "Ini disebut candlestick. Setiap bentuknya merepresentasikan dinamika antara pembeli dan penjual pada periode tertentu. Selain itu, terdapat pula garis support dan resistance, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai titik-titik harga yang cenderung berulang diuji oleh pasar."

Raka mencatat cepat, meski beberapa istilah terasa asing. Nadia, yang duduk di sebelahnya seperti biasa, menyenggol pelan sikunya.

"Lo ngerti?" bisiknya.

"Lumayan, tapi masih perlu waktu," jawab Raka pelan, tanpa sadar tersenyum ke arah Nadia. Nadia buru-buru menunduk mencatat, pipinya sedikit merona sesuatu yang tidak disadari Raka sama sekali.

Di paruh kedua kelas, Pak Hilman beralih ke rasio-rasio keuangan yang lebih mendalam dari yang telah diajarkan Bu Ratna sebelumnya.

"Saudara-saudara sekalian sudah memahami konsep rasio utang. Sekarang, mari kita perkenalkan empat indikator penting lainnya." Ia menuliskan empat singkatan besar di papan: ROE, PBV, PER, DER.

"ROE, atau Return on Equity, mengukur seberapa efisien suatu perusahaan menghasilkan laba dari modal yang ditanamkan oleh pemegang saham. Semakin tinggi nilainya, semakin baik pula kualitas manajemen dalam mengelola modal investor."

"PBV, Price to Book Value, membandingkan harga saham di pasar dengan nilai buku perusahaan yang sesungguhnya. Apabila nilai PBV jauh melampaui kewajaran tanpa dasar yang jelas, hal tersebut patut dicurigai bisa jadi harga saham tersebut telah direkayasa, bukan mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya."

Raka mengangkat tangan. "Pak, istilah 'direkayasa' itu maksudnya bagaimana?"

Pak Hilman tersenyum tipis. "Pertanyaan yang baik. Kita akan membahasnya lebih mendalam pekan depan. Namun secara singkat, terdapat praktik di mana harga suatu saham dinaikkan secara tidak wajar oleh pihak tertentu yang lazim disebut 'bandar' agar investor tertarik untuk membeli, padahal tidak terdapat dasar fundamental yang mendukung kenaikan tersebut. Fenomena ini dikenal dengan istilah saham gorengan."

Kelas menjadi hening sejenak. Beberapa mahasiswa yang selama ini aktif di forum atau grup trading saling melirik satu sama lain.

"PER, Price to Earnings Ratio," lanjut Pak Hilman, "mengukur valuasi saham berdasarkan laba yang dihasilkan perusahaan. Sementara DER, Debt to Equity Ratio, relevan pula bagi Saudara-saudara yang memperhatikan aspek syariah, karena memiliki keterkaitan erat dengan rasio utang berbasis bunga yang menjadi salah satu tolok ukur kehalalan suatu saham."

Raka menuliskan catatan tambahan di pojok bukunya: Ekonomi dan syariah ketemu lagi kali ini lewat DER.

Di akhir kelas, Pak Hilman menutup dengan pesan yang terasa berbeda dari dosen lain. "Perlu diingat, analisis teknikal merupakan alat bantu, bukan sarana untuk meramalkan pasar secara pasti. Dan sebaik apa pun instrumen tersebut, apabila digunakan dengan niat spekulasi semata yang tidak lain merupakan bentuk perjudian yang dibungkus dengan grafik maka hal itu tetap termasuk wilayah yang wajib dihindari. Ilmu ini adalah amanah, bukan sekadar cara memperoleh keuntungan secara instan."

Sepulang kelas, Nadia berjalan di samping Raka menuju kantin. "Lo excited banget tadi pas denger soal DER," katanya sambil tersenyum kecil.

"Habisnya, itu kayak jembatan lagi antara yang aku pelajari di pesantren sama yang aku pelajari di kampus," jawab Raka antusias, tidak menyadari Nadia memperhatikannya lebih lama dari biasanya.

"Semoga aja Farel juga mau dengerin soal saham gorengan itu," gumam Nadia, nada suaranya berubah sedikit khawatir. "Gue liat dia makin sering posting soal saham yang naik gila-gilaan di story-nya."

Raka menghentikan langkah sejenak, teringat kembali nasihat Pak Hilman soal ilmu sebagai amanah. Entah kenapa, ia merasa firasat itu bukan kekhawatiran biasa.

Bab 9 Grafik dan Godaan

Minggu-minggu setelah kelas Pak Hilman, Raka mulai mempraktikkan analisis teknikal yang baru ia pelajari. Setiap malam, ia membuka aplikasi sekuritas bukan untuk membeli, melainkan sekadar mengamati pergerakan grafik beberapa saham yang masuk daftar syariah, mencocokkan pola candlestick dengan teori yang ia catat.

"Coba perhatiin ini," kata Raka suatu sore, menunjukkan layar laptopnya kepada Nadia di perpustakaan. "Harga saham ini naik terus tiga hari berturut-turut, tapi PBV-nya udah tiga kali lipat dari rata-rata sektornya. Padahal laporan keuangannya biasa aja, nggak ada berita bagus apa pun."

Nadia mengerutkan kening, memperhatikan grafik itu. "Berarti ini yang dimaksud Pak Hilman kemarin? Saham gorengan?"

"Kayaknya," jawab Raka. "Volume transaksinya juga aneh tiba-tiba melonjak drastis, padahal biasanya sepi peminat."

Ia mencatat temuannya di buku catatan, menandai ciri-ciri yang mulai ia kenali: kenaikan harga tajam tanpa dasar fundamental, PBV yang jauh dari wajar, dan volume transaksi yang tidak konsisten dengan riwayat sebelumnya. Perlahan, ia mulai memahami bahwa mengenali saham gorengan tidak cukup hanya dengan melihat grafik dibutuhkan kombinasi antara membaca pola teknikal dan tetap merujuk pada data fundamental.

Di sisi lain kampus, Farel semakin tenggelam dalam euforia berbeda. Grup "Cuan Squad" yang dulu hanya delapan orang kini berkembang jadi lebih dari dua puluh anggota, ramai membahas satu nama saham yang belakangan sering muncul di linimasa media sosial disebut-sebut sebagai "saham roket" karena kenaikannya yang luar biasa cepat dalam waktu singkat.

"Ka, lo harus liat ini," kata Farel suatu hari, mendekati Raka dengan wajah berbinar, menyodorkan ponselnya. "Dalam seminggu udah naik lebih dari lima puluh persen. Temen gue yang masuk duluan udah untung gede banget."

Raka melihat sekilas grafik yang ditunjukkan Farel pola kenaikan yang nyaris vertikal, jauh berbeda dari pergerakan wajar yang biasa ia pelajari. Sesuatu dalam dirinya langsung waspada.

"Lo udah cek fundamentalnya belum?" tanya Raka hati-hati. "Laba perusahaannya gimana, PBV-nya berapa?"

Farel mengibaskan tangan, terlihat tidak sabar. "Ah, nggak sempat mikirin itu. Yang penting harganya lagi naik, momentumnya bagus. Kalau nunggu analisis macem-macem, keburu ketinggalan kereta."

"Tapi kalau naiknya nggak wajar kayak gini," Raka mencoba menjelaskan, "bisa jadi ini yang disebut saham gorengan. Nanti pas turun, bisa jatuh sama cepatnya kayak pas naik."

Farel tertawa kecil, menepuk bahu Raka. "Lo terlalu banyak dengerin dosen, Ka. Kadang buat cuan itu ya harus berani ambil risiko. Nggak semua hal bisa dianalisis pake rumus-rumus itu."

Raka terdiam, tidak ingin memaksakan pendapatnya lebih jauh. Namun sepanjang hari itu, kekhawatiran Nadia yang ia dengar beberapa waktu lalu terus terngiang di kepalanya.

Malam harinya, ia mencoba mencari tahu lebih jauh tentang saham yang disebutkan Farel. Data yang ia temukan membuatnya semakin yakin tidak ada berita fundamental yang mendasari kenaikan harga tersebut, tidak ada perubahan signifikan dalam laporan keuangan perusahaan, namun volume transaksi melonjak drastis dalam waktu bersamaan dengan ramainya perbincangan di media sosial.

Ia mengetik pesan panjang untuk Farel, menjelaskan temuannya secara rinci, lengkap dengan data PBV dan pola volume yang mencurigakan. Namun setelah membaca ulang pesannya, ia ragu untuk mengirimkannya mengingat bagaimana reaksi Farel siang tadi.

Raka akhirnya menutup laptopnya, menuliskan satu catatan singkat di buku hariannya:

"Kadang, ilmu yang benar tidak selalu didengar tepat waktu. Yang bisa kulakukan hanyalah memastikan diriku sendiri berpegang teguh, sembari

berharap yang lain tidak terlambat menyadari."

BAB 10

CUAN SQUAD KENA RACUN

 

Dua minggu berlalu sejak percakapan Raka dengan Farel di kantin. Saham yang sempat dibicarakan "Cuan Squad" itu terus melonjak dari kenaikan lima puluh persen, kini sudah lebih dari dua kali lipat harga awalnya. Grup WhatsApp itu semakin ramai, dipenuhi tangkapan layar keuntungan dan emoji perayaan.

"GILA, gue udah profit tiga juta cuma dalam dua minggu!" tulis salah satu anggota, disusul balasan serupa dari yang lain.

Farel termasuk yang paling bersemangat. Dari modal awal yang sebenarnya ia siapkan untuk kebutuhan semester, ia menambah porsi investasinya berkali-kali lipat, bahkan sempat meminjam sedikit uang dari adiknya dengan janji akan segera dikembalikan begitu profit dicairkan.

Raka, yang sesekali masih dimasukkan ke grup itu meski jarang aktif, mengamati dari jauh dengan perasaan tidak tenang. Dari analisis yang ia lakukan bersama Nadia, pola kenaikan saham itu sudah jauh melampaui kewajaran PBV yang tadinya tiga kali lipat rata-rata sektor kini melonjak hingga sepuluh kali lipat, sementara tidak ada satu pun laporan keuangan atau aksi korporasi yang mendukung kenaikan sedrastis itu.

"Ini udah kelewatan," kata Raka kepada Nadia suatu sore. "Kalau ngeliat pola kayak gini, biasanya nggak lama lagi bakal ada pembalikan besar."

"Lo udah coba ngomong lagi ke Farel?" tanya Nadia.

Raka menggeleng pelan. "Terakhir kali malah dianggap terlalu hati-hati.

Aku nggak enak kalau maksa-maksa."

Nadia menghela napas. "Kadang orang emang harus ngerasain sendiri buat percaya."

Kata-kata itu terbukti lebih cepat dari yang mereka duga. Tiga hari kemudian, tanpa peringatan apa pun, harga saham itu anjlok drastis dalam hitungan jam turun lebih dari empat puluh persen hanya dalam satu sesi perdagangan. Grup "Cuan Squad" yang biasanya ramai dengan euforia, mendadak dibanjiri pesan panik.

"WOI KENAPA INI TURUN GILA-GILAAN?!"

"Gue coba jual tapi susah, antrian jual numpuk semua!"

"Ini kayak ada yang jual besar-besaran mendadak..."

Raka membaca pesan-pesan itu dengan perasaan berat. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi pola yang persis seperti yang dijelaskan Pak Hilman beberapa minggu lalu. Bandar yang selama ini menahan harga tinggi dengan membeli dalam jumlah besar, kini mulai melepas kepemilikan mereka secara besar-besaran, meninggalkan investor kecil yang telanjur masuk di harga puncak.

Sore itu, ponsel Raka bergetar. Sebuah pesan masuk dari Farel kali ini tanpa emoji, tanpa nada bersemangat seperti biasa.

Ka, gue butuh ngomong. Boleh ketemu sekarang?

• • •

Mereka bertemu di taman belakang kampus, tempat yang biasanya sepi menjelang senja. Farel duduk dengan wajah pucat, matanya sembab seperti baru saja menangis atau menahan diri dari itu.

"Gue rugi hampir semua modal, Ka," katanya lirih, suaranya bergetar. "Termasuk uang yang gue pinjem dari adik gue. Gue... gue nggak tahu harus gimana ngomong ke dia."

Raka duduk di sebelahnya, tidak langsung berbicara. Ia teringat nasihat yang pernah ia dengar bahwa terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah pembenaran "sudah kubilang", melainkan kehadiran yang tenang di saat terpuruk.

"Gue tahu ini berat," kata Raka akhirnya, pelan. "Tapi lo nggak sendirian ngadepin ini."

Farel menunduk, menyembunyikan wajahnya sejenak. "Gue ngerasa bego banget. Semua yang lo bilang dulu, soal PBV, soal volume yang aneh, semua bener. Gue cuma terlalu keburu nafsu pengen cepet untung."

Raka tidak menjawab dengan kata-kata yang menghakimi. Ia hanya menepuk pelan bahu temannya, seperti yang pernah dilakukan seseorang untuknya bertahun-tahun lalu, di masa-masa awal yang berat di pesantren.

"Yang penting sekarang," kata Raka, "gimana caranya lo bangkit dari ini, dan mikirin cara ganti uang adik lo. Soal ilmu yang kelewat, itu bisa dipelajari ulang. Tapi kepercayaan itu yang harus dijaga duluan."

Farel mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Lo mau bantu gue belajar ulang dari awal, Ka? Bener-bener dari awal kali ini."

Raka tersenyum tipis. "Kebetulan, aku juga baru mulai belajar bareng Pak Hilman soal ini. Yuk, kita jalanin bareng-bareng."

BAB 11

MENGAJARKAN YANG SUDAH DIPELAJARI

 

Seminggu setelah pertemuan di taman kampus, Farel mulai rutin menemui Raka di perpustakaan setiap sore. Berbeda dari sebelumnya yang selalu terburu-buru, kini ia datang dengan buku catatan kosong dan sikap yang jauh lebih rendah hati.

"Gue nggak tahu harus mulai dari mana," kata Farel, membuka lembar pertama catatannya. "Semua istilah yang lo sama Nadia omongin waktu itu, jujur aja dulu gue anggap angin lalu."

Raka tersenyum kecil, teringat dirinya sendiri yang dulu juga merasa asing dengan istilah-istilah itu di semester pertama. "Nggak apa-apa. Kita mulai dari dasar lagi."

Mereka menghabiskan sore itu membahas ulang konsep analisis fundamental cara membaca laporan keuangan, memahami rasio utang, hingga mengenali tanda-tanda perusahaan yang sehat. Nadia sesekali bergabung, membantu menjelaskan bagian yang menurutnya penting, sementara Raka lebih banyak mengarahkan diskusi dengan pertanyaanpertanyaan sederhana, memancing Farel untuk berpikir sendiri, bukan sekadar menghafal.

"Kenapa lo nggak langsung kasih tau jawabannya aja?" tanya Nadia suatu kali, setelah Farel pulang lebih dulu.

"Soalnya dulu aku juga gitu," jawab Raka. "Kalau cuma dikasih tau, gampang lupa. Tapi kalau nemuin sendiri pelan-pelan, biasanya lebih nempel."

Nadia menatap Raka sejenak, ada sesuatu di matanya yang sulit ia sembunyikan sepenuhnya. "Lo berubah banyak ya, dari yang dulu duduk paling depan sambil nyatet manual, sekarang malah ngajarin orang."

Raka tertawa kecil, tidak menyadari betapa dalam makna di balik ucapan Nadia. "Masih jauh dari ahli, sih. Aku juga masih belajar." Beberapa minggu kemudian, Raka mengajak Farel bertemu Pak Hilman di luar jam kelas, meminta izin untuk berkonsultasi lebih jauh. Pak Hilman menyambut mereka dengan senang hati.

"Kesalahan seperti yang dialami Saudara Farel," kata Pak Hilman setelah mendengarkan cerita mereka, "sesungguhnya adalah pelajaran yang mahal, namun berharga. Banyak investor pemula yang justru baru memahami pentingnya kehati-hatian setelah mengalami kerugian serupa."

"Saya cuma nggak mau ini kejadian lagi ke temen-temen lain di grup, Pak," kata Farel, nada suaranya lebih tenang dari biasanya. "Kalau boleh, saya pengen belajar lebih serius."

Pak Hilman mengangguk, tampak senang dengan perubahan sikap mahasiswanya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kalian berdua bersama Saudari Nadia mungkin membuat semacam forum diskusi kecil? Berbagi apa yang sudah kalian pelajari kepada mahasiswa lain yang tertarik, khususnya soal mengenali ciri-ciri saham yang berisiko tinggi seperti yang baru saja terjadi."

Gagasan itu langsung disambut antusias oleh Raka dan Nadia. Dalam beberapa minggu berikutnya, mereka bertiga mulai mengadakan sesi diskusi santai setiap akhir pekan, awalnya hanya dihadiri lima sampai enam mahasiswa, namun perlahan berkembang seiring kabar dari mulut ke mulut tentang bagaimana beberapa anggota "Cuan Squad" nyaris kehilangan seluruh tabungan mereka.

Suatu sore, setelah sesi diskusi selesai dan mahasiswa lain sudah membubarkan diri, Farel menghampiri Raka yang sedang merapikan catatan.

"Ka, gue mau bilang makasih," katanya sambil menepuk bahu Raka. "Kalau bukan karena lo yang sabar ngajarin ulang, mungkin gue udah kapok total sama dunia investasi, atau malah nekat balik lagi ke cara-cara instan."

"Yang penting sekarang lo udah tau bedanya," jawab Raka. "Dan siapa tau, someday lo yang gantian ngajarin orang lain."

Farel tersenyum, untuk pertama kalinya sejak insiden itu terlihat benarbenar lega. "Insya Allah, Ka."

Malam itu, sepulang dari kampus, Raka menuliskan satu refleksi di buku catatannya bukan tentang saham atau rasio keuangan, melainkan tentang perjalanan yang telah ia lalui:

"Dulu aku yang duduk paling depan untuk belajar. Sekarang, aku belajar cara berdiri di depan untuk mengajarkan. Mungkin inilah yang dimaksud

ilmu sebagai amanah ia tumbuh bukan dengan disimpan, tapi dengan dibagikan."

• • •

Suatu sore sepulang sesi diskusi kecil mereka, hujan turun tiba-tiba dan cukup deras. Raka dan Nadia terjebak di teras perpustakaan, menunggu hujan reda sambil merapikan sisa-sisa materi diskusi hari itu.

"Kayaknya bakal lama nih," kata Nadia, memandang langit yang kelabu.

"Payung gue ketinggalan di kos temen."

"Aku juga nggak bawa," jawab Raka. "Ya udah, tunggu aja barengbareng."

Mereka duduk di bangku panjang teras, dalam diam yang tidak canggung semacam kenyamanan yang terbangun dari berbulan-bulan belajar dan berdiskusi bersama. Nadia memainkan ujung pulpennya, sesekali melirik Raka yang sedang menatap hujan.

"Eh, Ka," Nadia memulai, suaranya sedikit ragu. "Boleh tanya sesuatu, nggak?"

"Boleh."

"Lo... masih sering kontakan sama Aisyah?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja, membuat Raka menoleh, sedikit terkejut. "Kadang-kadang. Kenapa emang?"

Lihat selengkapnya