PROLOG
Malam Ketika Sungai Berhenti Mengalir
Hujan sudah turun empat hari tanpa jeda. Pada malam kelima, sungai berhenti menjadi sungai. Ia tidak lagi mengalir. Ia naik, pelan, hitam, dan lapar.
Raka terbangun bukan karena suara hujan. Ia terbangun karena pengeras suara masjid yang menyala di tengah malam, suara yang tidak pernah menyala pada jam segitu.
“Perhatian, perhatian. Air naik di Kampung Hilir Baru. Warga diminta segera mengungsi ke tempat yang tinggi.”
Jeda. Lalu suara itu kembali, kali ini lebih cepat dan sedikit pecah.
“Tanggul jebol. Sekali lagi, tanggul jebol.”
Aisyah sudah duduk di tepi ranjang sebelum Raka sempat berkata apa-apa. Wajahnya tenang, tapi tangannya menggenggam ujung selimut terlalu erat.