BAB 1
Pagi yang Basah
Subuh datang tanpa cahaya. Langit masih kelabu tebal, hujan tinggal gerimis, dan udara berbau lumpur dan kayu basah yang tak kunjung kering.
Masjid Darul Hikmah berubah menjadi tempat pengungsian. Karpet-karpet digulung dan ditumpuk di sudut, lalu diganti tikar dan kasur tipis yang dikumpulkan dari asrama. Tiga ratus empat puluh orang tidur berhimpitan di serambi dan aula, anak-anak meringkuk di pelukan ibu, lelaki-lelaki tua duduk bersandar di tiang dengan mata terbuka, tak bisa tidur.
Raka berdiri di ambang pintu, jaketnya masih lembap, sarungnya masih menyimpan bau sungai. Ia tidak tidur sama sekali.
“Minum dulu.”
Aisyah menyodorkan gelas teh panas. Matanya sembap, tapi tangannya cekatan. Di belakangnya, dapur umum sudah mengepul. Puluhan santriwati mengaduk nasi dalam dandang raksasa, sementara ibu-ibu pengungsi ikut memotong bawang tanpa ada yang meminta.
“Anak-anak?” tanya Raka.
“Tidur. Kadijah sempat terbangun dan bertanya soal abinya. Aku bilang Abi sedang menolong orang.”
Raka tersenyum tipis. Ia meneguk teh itu, hangatnya menjalar pelan ke dada.
Di meja lipat dekat pintu aula, Akmal dan Rania sudah menggelar buku catatan. Akmal menghitung daftar keperluan dengan pena yang tak berhenti bergerak: beras, selimut, obat, air bersih. Di sebelahnya, Rania menulis setiap sumbangan yang masuk dengan tulisan rapi, lengkap dengan nama penyumbang, jumlah, dan jam penerimaan.
“Dua puluh kilo beras dari Haji Rusli,” katanya tanpa menoleh. “Lima puluh dus air mineral dari koperasi sasirangan. Sisanya masih kutunggu. Semua kucatat, Kak, supaya nanti tidak ada yang bertanya-tanya.”
Raka menatapnya sesaat, lalu mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa, tapi ada rasa syukur kecil yang bergerak di dadanya. Orang-orang yang tidak lelah menuliskan angka adalah orang-orang yang menjaga kepercayaan.
* * *
Pukul tujuh, ia berangkat ke Hilir Baru bersama Fauzan.
Air sudah surut hingga sebatas lutut, meninggalkan lumpur setebal telapak kaki di setiap jalan. Rumah-rumah kayu berdiri miring dengan dinding yang kembang dan lantai yang terangkat. Perabot berserakan di halaman: kasur yang menyerap air seperti spons, lemari yang pintunya lepas, sepasang sandal anak kecil yang tersangkut di pagar. Di pekarangan sebuah rumah, ikan-ikan dari kolam yang jebol menggelepar di rumput, mulutnya membuka menutup tanpa suara.
Warga sudah berkumpul di sekitar tanggul. Mereka berdiri diam, tanpa bicara, memandangi celah yang menganga sepanjang empat puluh meter lebih. Dari dekat, terlihat jelas bahwa di kanan dan kirinya masih ada retakan lain yang belum runtuh, memanjang seperti urat di punggung tangan orang tua.
“Ustadz.”
Seorang lelaki paruh baya menghampiri. Kulitnya legam dan kasar oleh matahari, tangannya besar dan penuh bekas jaring. Pak Murjani, nelayan sungai yang rumahnya tepat di kaki tanggul.