Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #3

BAB 2 Belum Prioritas

BAB 2

Belum Prioritas

Enam hari setelah banjir, lumpur di Hilir Baru sudah mengering menjadi kerak retak yang berbau amis. Julak Sarbini sudah dikuburkan, para pengungsi sebagian besar sudah kembali menempati rumah yang tersisa, dan masjid Darul Hikmah kembali memiliki karpet, meski tidak lagi seharum dulu.

Pagi ini, Raka mengenakan kemeja terbaiknya, satu-satunya yang tidak berbau sungai.

“Kakak tidak perlu sampai serapi itu,” kata Akmal sambil memutar setir pikap tua yayasan. “Pejabat di sana tidak melihat kemeja. Mereka melihat siapa yang duduk di belakangmu.”

“Aku hanya ingin mereka tahu aku menghargai waktu mereka.”

Akmal terkekeh pendek, tanpa humor. “Itu masalahnya, Kak. Kita menghargai waktu mereka. Mereka tidak menghargai waktu kita.”

Raka tidak menjawab. Di pangkuannya, map cokelat yang sama terbuka. Kali ini isinya bukan hanya surat, tapi juga foto-foto: celah tanggul yang menganga, rumah Julak Sarbini yang tinggal separuh, dan daftar nama tiga puluh delapan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ia menyusunnya rapi, bahkan menambahkan estimasi biaya dari seorang kontraktor kenalan Haji Rusli.

Ia ingin tidak ada alasan untuk menolak.

*  *  *

Kantor dinas itu berdiri megah di pusat kota kabupaten, dengan halaman berpaving dan lobi berpendingin yang begitu sejuk sampai kulit Raka meremang. Di dinding, terpajang foto-foto proyek yang sudah selesai: jalan mulus, jembatan baru, gerbang kawasan industri dengan pita gunting yang mengembang.

Mereka menunggu dua jam dua puluh menit.

Di kursi seberang, seorang lelaki bersafari mengetik di ponselnya tanpa henti, sesekali melirik arloji mahal. Di pangkuannya ada tas kulit yang jauh lebih tebal daripada map Raka. Ketika seorang staf memanggil namanya, ia bangkit dan langsung dipersilakan masuk, padahal ia datang setengah jam setelah Raka.

Raka melihatnya. Akmal juga.

“Kontraktor,” bisik Akmal. “Yang masuk lewat pintu ini bukan yang datang lebih dulu, Kak. Tapi yang sudah dikenal.”

Akhirnya, seorang staf perempuan muda memanggil mereka.

*  *  *

Kepala dinas itu ternyata bukan orang yang Raka bayangkan. Ia lelaki setengah baya dengan mata lelah dan kerut di dahi yang dalam, seperti orang yang terlalu lama membawa beban yang bukan miliknya sendiri. Ia menyambut Raka dengan jabat tangan hangat dan menyilakan duduk, bahkan memesan teh untuk mereka.

“Saya sangat berduka atas kejadian di Hilir Baru, Ustadz,” katanya, dan Raka merasa itu sungguh-sungguh. “Saya sudah melihat laporannya. Saya juga mengikuti bagaimana pesantren Ustadz menampung warga. Terima kasih.”

Lihat selengkapnya