BAB 3
Tangan yang Terbuka
Iring-iringan itu datang pada hari kesepuluh setelah banjir, menjelang zuhur, ketika halaman pesantren baru saja kering dari genangan.
Tiga truk boks putih dan dua mobil di belakangnya berhenti berjajar di depan gerbang Darul Hikmah. Para santri kecil yang sedang menjemur kitab berlari ke pagar, menatap dengan mata membulat. Belum pernah ada rombongan sebesar itu datang tanpa undangan.
Raka sedang menambal dinding asrama yang retak bersama Fauzan ketika Rafi berlari menghampiri.
“Ustadz, ada tamu. Katanya dari pengusaha, mau memberi bantuan untuk korban banjir.”
“Siapa namanya?”
“Haji Salman.”
Raka menaruh sendok semen. Nama itu tidak asing. Ia pernah mendengarnya di majelis-majelis, disebut dengan nada hormat, kadang dengan senyum yang terlalu manis. Seorang pengusaha kayu yang belakangan aktif di banyak pengajian, tuan rumah berbagai peringatan hari besar, dan dikabarkan dekat dengan hampir semua tuan guru di kabupaten ini.
Ia menyeka tangan dengan kain, lalu berjalan ke depan.
* * *
Lelaki yang turun dari mobil pertama tidak seperti bayangan Raka.
Tingginya sedang, usianya sekitar lima puluhan, dengan kulit sawo matang dan janggut tipis yang mulai memutih. Ia mengenakan sarung tenun sederhana, kemeja putih lengan panjang, dan peci hitam yang sudah agak pudar di tepinya, bukan peci baru dari toko. Tidak ada cincin batu di jarinya, tidak ada jam yang berkilat. Yang paling mencolok justru cara ia berjalan: pelan, sedikit membungkuk, seperti orang yang terbiasa menaiki tangga masjid.
“Assalamu'alaikum, Ustadz Raka.”
Ia mengulurkan kedua tangan sekaligus, menggenggam tangan Raka dengan hangat dan lama, bukan jabat tangan formal yang cepat dilepas.
“Wa'alaikumussalam. Selamat datang, Haji.”
“Jangan panggil Haji, Ustadz. Panggil saja Salman. Saya ini santri, sama seperti Ustadz.”
Senyumnya lebar dan matanya sungguh-sungguh berbinar. Raka merasa canggung sesaat, karena ia tidak menemukan celah untuk curiga. Ia terbiasa membaca orang, tapi yang di depannya ini seperti kitab yang halamannya terbuka rata, tanpa lipatan.
* * *
Truk-truk itu ternyata berisi lebih dari yang bisa Raka hitung sekilas: berkarung-karung beras, minyak goreng, mi instan, terpal biru, selimut, dua pompa air besar, dan sebuah genset. Para pekerja Salman menurunkannya satu per satu ke serambi, sementara Salman sendiri, dengan sarung terlipat di pinggang, ikut memanggul karung beras. “Haji, biar mereka saja,” kata Ustadz Maimun yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka, wajahnya berseri-seri.
“Ah, Ustadz, jangan begitu. Kalau saya hanya menunjuk, itu bukan sedekah, itu perintah.” Salman tertawa kecil, dan beberapa santri ikut tersenyum tanpa sadar.
Raka memperhatikannya dari kejauhan. Ia melihat Salman duduk bersila di lantai serambi bersama para pengungsi yang tersisa, mendengarkan seorang nenek bercerita tentang kucingnya yang hilang, mengangguk seakan itu kabar terpenting hari itu. Ia melihat lelaki itu mengusap kepala seorang anak kecil, membetulkan selimut seorang bapak tua, dan bertanya nama satu per satu.
Ia mencoba mencari kepalsuan di dalamnya dan tidak menemukan.
Di sudut halaman, seorang pemuda berkamera mengambil gambar. Tidak mengganggu, tidak mengarahkan, hanya bergerak pelan mengabadikan sesuatu. Ketika Raka menoleh, pemuda itu tersenyum sopan.
“Dokumentasi untuk laporan yayasan, Ustadz,” katanya.
Raka mengangguk. Itu wajar. Setiap lembaga butuh laporan.
* * *
Mereka berbincang di ruang tamu pesantren, ditemani teh dan pisang goreng yang dibuat Aisyah dan santriwati. Ustadz Maimun ikut duduk di sana, sesekali menimpali dengan wajah bangga seolah ia yang mengundang tamu ini.
Salman memuji pesantren dengan cara yang tepat. Ia menyebut nama beberapa santri Darul Hikmah yang ia kenal, membicarakan kitab yang dikaji di sini, bahkan mengutip satu bait dari kitab akhlak dengan lafal yang mulus dan pengucapan yang benar.
“Saya dulu mondok di Jawa Timur, Ustadz,” katanya, matanya menerawang. “Hampir sebelas tahun. Uang saku saya tidak pernah cukup. Saya sering makan hanya nasi dan garam. Guru saya pernah bilang, orang yang pernah lapar akan lebih mudah mengerti perut orang lain.”
“Saya juga dari Jawa Timur,” kata Raka.
“Saya tahu.” Salman tersenyum. “Ustadz dari Surabaya, kan? Kabarnya pernah menjadi santri yang menolong banyak orang di masa lalu. Saya senang sekali ada orang Jawa yang mengabdi di tanah
Banjar ini.”
Ada kehangatan yang nyata dalam ucapannya. Dan Raka, yang selama ini kerap merasa dipandang sebagai orang luar, merasakan sesuatu yang aneh di dada. Ia merasa diterima.
Percakapan mengalir ke musibah kemarin. Wajah Salman berubah muram.
“Saya melihat sendiri tanggul itu kemarin sebelum ke sini, Ustadz. Sungguh menyedihkan. Padahal warga sudah lama mengeluh.” Ia menghela napas panjang. “Saya juga mendengar Ustadz sudah menemui dinas.”
Raka menoleh cepat. Belum ada sepuluh hari, dan ia tidak menceritakan kunjungan itu pada siapa pun selain Akmal dan Aisyah.
“Kabar cepat menyebar, Ustadz,” kata Salman lembut, seolah membaca pikirannya. “Di daerah kecil, tidak ada yang benar-benar rahasia. Tapi jangan khawatir, saya tidak bermaksud ikut campur. Saya hanya ingin bilang, saya mengerti betul rasanya diberi janji dan hanya dijawab dengan kata belum.”
Kalimat itu menyentuh tepat di tempat yang masih perih.
“Saya juga dulu santri miskin,” lanjut Salman pelan. “Pesantren saya di kampung dulu tidak pernah dilirik siapa-siapa. Saya melihat guru saya menambal atap dengan tangannya sendiri, sementara yang berwenang lewat begitu saja di depan gerbang. Sejak itu saya berjanji, kalau Allah memberi saya rezeki, saya tidak akan membiarkan orang lain mengalami hal yang sama.” Ia menatap Raka.
“Rezeki itu titipan, Ustadz. Saya hanya ingin manfaatnya lebih luas.”
Kalimat itu.
Raka mendengarnya, dan untuk pertama kali kalimat itu tidak terdengar seperti pintu tertutup. Diucapkan oleh lelaki ini, dengan mata yang basah dan suara yang bergetar tipis, kalimat itu terdengar seperti kebenaran yang baru ditemukan.
Ustadz Maimun mengangguk-angguk dengan mata berkaca.
“MasyaAllah, Haji. Semoga Allah membalas.”
Raka ikut mengangguk. Tapi jauh di dalam, di bagian yang tidak bisa ia jelaskan, ada satu suara kecil yang terus bertanya: mengapa kalimat yang sama, yang kemarin terdengar hampa dari mulut orang lain, kini terdengar begitu meyakinkan?
Ia tidak menemukan jawabannya. Dan itulah yang membuatnya gelisah.
* * *
Ketika hendak pamit, Salman kembali menggenggam kedua tangan Raka.