Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #5

BAB 4 Pintu yang Dibukakan

BAB 4

Pintu yang Dibukakan

Undangan itu datang tiga hari setelah iring-iringan truk putih meninggalkan pesantren. Tertulis rapi di kertas krem, diantarkan langsung oleh seorang staf berpakaian sopan: silaturahmi ringan di kediaman Haji Salman, selepas zuhur, sekadar makan siang bersama para alim ulama dan tokoh masyarakat.

“Pasti datang, kan, Ustadz?” Ustadz Maimun sudah lebih dulu menyiapkan sarung terbaiknya. “Tidak baik menolak undangan orang yang baru saja membantu kita.”

Raka menimbang lembar undangan itu di tangannya. Tidak ada alasan untuk menolak, dan itulah yang membuatnya ragu.

“Saya datang,” katanya akhirnya.

*  *  *

Rumah Salman tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada pagar tinggi berkawat, tidak ada patung singa di gerbang. Hanya sebuah rumah kayu besar bergaya Banjar tempo dulu, dengan atap sirap yang terawat dan serambi yang luas, tampak seperti rumah yang dibangun oleh orang yang ingin kelihatan rendah hati dan tahu persis berapa harganya.

Di sayap belakang ada bangunan baru dari beton, tertutup rimbun pohon. Raka hanya sempat melihatnya sekilas.

Serambi itu sudah penuh. Raka mengenali beberapa wajah: dua tuan guru dari kampung seberang, seorang pimpinan majelis taklim besar, dan anggota dewan yang berdiri di depan tanggul dengan kamera di belakangnya. Mereka duduk melingkari hidangan, bercakap dengan suara rendah dan penuh hormat.

Di dinding ruang tamu, terpajang puluhan foto berbingkai. Salman bersama tuan guru ini, bersama ulama itu, bersama ketua ormas, bersama lelaki berjas yang wajahnya sering Raka lihat di baliho. Ia menghitung tanpa sadar. Tak ada satu pun foto Salman sendirian.

“Ustadz!”

Salman menyambutnya dengan kedua tangan terentang, dan senyum yang sama hangatnya seperti di pesantren. Di hadapan para tamu, ia memperkenalkan Raka dengan kata-kata yang membuat Ustadz Maimun mengangguk bangga.

“Beliau ini, Bapak-Bapak, yang semalaman menyelamatkan warga Hilir Baru dengan jukung. Itu santri sejati. Kita yang duduk di sini ini malu kalau dibandingkan.”

Beberapa orang bertepuk pelan. Raka menunduk, tidak nyaman dengan pujian itu.

Saat menoleh ke ujung serambi, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.

Di sana, duduk di kursi pojok sambil memegang cangkir teh yang tak diminumnya, adalah lelaki berkerut dahi dalam yang ia temui tiga hari lalu di kantor berpendingin itu. Kepala dinas.

Lelaki itu berdiri ketika Salman melintas. Ia membungkuk sedikit, dalam, lebih dalam dari yang ia lakukan di hadapan Raka. Salman menepuk bahunya dengan akrab, berkata sesuatu yang membuatnya tersenyum kaku.

Ketika pandangan mereka bertemu, kepala dinas itu yang lebih dulu memalingkan wajah.

Raka duduk perlahan. Dan untuk pertama kalinya ia mengerti dengan jelas, bukan lewat kata-kata Akmal tetapi lewat mata kepalanya sendiri, di mana tepatnya anggaran itu dibagi.

*  *  *

Makan siang berlangsung dengan tenang. Hidangan sederhana tapi berlimpah: nasi kuning, ayam masak habang, sayur asam, dan wadai Banjar yang disusun rapi. Para tamu bicara tentang hal-hal ringan: musim hujan, harga karet, rencana haul di kampung sebelah. Tidak ada satu pun yang menyebut politik.

Tidak ada, sampai selesai makan.

“Ustadz, bisa kita bicara sebentar? Hanya kita berdua.”

Lihat selengkapnya