Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #6

BAB 5 Musyawarah di Rumah Ulin

BAB 5

Musyawarah di Rumah Ulin

Rumah keluarga besar Aisyah berdiri di ujung gang sempit di Martapura, sebuah rumah panggung dari kayu ulin yang sudah menghitam oleh waktu. Tiangnya besar-besar, lantainya berderit di setiap langkah, dan di ruang tengahnya tergantung foto-foto leluhur dengan peci dan kain sasirangan yang warnanya tak lagi jelas.

Malam itu, ruangan yang biasanya hanya ramai saat hajatan dipenuhi orang.

Raka duduk bersila di sisi kiri, di samping Aisyah. Di depannya hadir Julak Hamdan, paman tertua dari pihak ibu Aisyah, lelaki berjanggut putih yang bicaranya jarang tetapi selalu ditunggu. Di sebelahnya Acil Noor, bibi yang tangan dan lidahnya sama cekatan. Beberapa sepupu duduk di belakang. Di sisi seberang, hadir pengurus yayasan: Akmal dengan buku catatan, Rania dengan map yang dipeluknya, dan Ustadz Maimun dengan wajah yang sulit dibaca.

Teh kental dan wadai sudah dihidangkan, tetapi tak seorang pun menyentuhnya.

“Saya minta maaf mengumpulkan semuanya malam-malam,” kata

Raka membuka. “Ada sesuatu yang belum bisa saya putuskan sendiri.” Ia menarik napas pelan.

“Setelah banjir kemarin, saya mengantar surat, menemui kepala dinas, dan pulang dengan jawaban yang sama: belum prioritas. Saya tidak marah pada orangnya. Tapi saya mulai bertanya, apakah cara saya selama ini benar-benar cara yang bisa sampai.” Ia berhenti sejenak, memilih kata.

“Saya sedang mempertimbangkan untuk mencalonkan diri sebagai bupati. Lewat jalur independen.”

Ruangan itu hening sesaat. Lalu, seperti kain yang ditarik dari dua sisi, suara-suara muncul bersamaan.

*  *  *

“Bupati?” Ustadz Maimun yang pertama bicara, matanya membulat. “Ustadz Raka, dengan segala hormat, itu bukan kancah kita.”

“Saya belum memutuskan, Ustadz.”

“Tapi mempertimbangkan saja sudah mengkhawatirkan.” Maimun menegakkan duduk. “Santri yang masuk politik itu ibarat ikan yang naik ke darat. Kita ini guru, penjaga ilmu. Kalau mau membantu, ada jalan yang lebih bersih. Haji Salman kemarin menyebut dengan sendirinya bahwa pintunya terbuka. Beliau sudah punya jalan dan hubungan. Kenapa kita tidak bermitra saja?”

“Bermitra dalam hal apa?” tanya Akmal, datar.

“Ya, dalam memperjuangkan tanggul itu.” Maimun mengibaskan tangan. “Haji Salman masuk politik pun niatnya baik, Akmal. Supaya bisa berbuat lebih banyak untuk umat.”

Raka menatapnya. Kalimat itu lagi. Kali ini datang dari mulut orang yang tulus, yang bahkan tak sadar sedang mengulang sesuatu yang sudah terlalu sering ia dengar.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Tapi Aisyah, di sampingnya, menggeser sedikit duduknya, seolah juga mendengar.

*  *  *

“Ulun boleh bicara?”

Julak Hamdan mengangkat tangan perlahan. Semua menoleh. Di rumah itu, suaranya selalu membuat ruangan tenang.

“Ulun menghormati Ustadz,” katanya, menatap Raka langsung. “Ulun melihat sendiri apa yang Ustadz lakukan waktu banjir. Menantu ulun yang satu ini tidak pernah mengecewakan kami. Tapi ulun harus bicara jujur, dan ulun harap Ustadz tidak tersinggung.”

“Silakan, Julak.”

Lihat selengkapnya