Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #7

BAB 6 Suara dari Surabaya

BAB 6

Suara dari Surabaya

Sepertiga malam terakhir, ketika kota Martapura masih terlelap dan hanya jangkrik yang bersuara, Raka berdiri di atas sajadahnya dan tidak tahu harus meminta apa.

Ia sudah salat tahajud empat rakaat. Ia sudah berzikir sampai lidahnya terasa kebas. Tapi doa yang ia bisikkan terdengar kosong di telinganya sendiri, seperti surat yang ditulis dengan tinta yang tak sempat mengering.

Ya Allah, apakah ini panggilan-Mu?

Tidak ada jawaban. Hanya hening, dan di dalam hening itu, wajah Aisyah dengan pertanyaannya yang tenang. Panggilan, atau ego?

Ia bersujud lama. Dalam gelap sajadah, ia teringat suara seseorang yang sudah lama tidak ia dengar langsung, tapi tidak pernah benar-benar pergi dari kepalanya. Ustadz Arif.

Gurunya itu pernah duduk bersamanya di bawah pohon, di masa-masa ia belum tahu apa-apa, dan mengucapkan satu kalimat dari Al-Hikam yang kemudian mengendap bertahun-tahun: kuburlah wujudmu di dalam tanah ketidakterkenalan; apa yang tumbuh tanpa dikubur, hasilnya tidak akan sempurna.

Waktu itu Raka muda mengangguk tanpa sungguh-sungguh memahaminya. Malam ini ia memahaminya terlalu jelas. Kalimat itu seperti cermin yang dihadapkan tepat ke wajahnya. Seorang yang dikenal banyak orang, yang namanya disebut di majelis dan tanggul, kini memikirkan untuk berdiri di panggung paling terang di kabupatennya.

Bukankah itu kebalikan dari tanah ketidakterkenalan?

Ia bangkit dengan dada yang lebih berat daripada saat ia bersujud.

*    *    *

Subuh berjalan seperti biasa. Para santri berbaris di serambi, kitab dibuka, dan suara bacaan naik-turun di antara tiang-tiang masjid. Raka mengajar dengan suara yang tenang, tapi sesekali pandangannya melayang, menatap celah ruang di antara dua tiang, seolah jawaban akan lewat di sana.

Setelah pengajian, Fauzan menghampirinya dengan wajah ragu.

“Ustadz, tadi malam ada orang berkali-kali lewat di depan gerbang. Mobilnya sama dengan yang kemarin di rumah Haji Salman.”

“Mungkin kebetulan.”

“Mungkin.” Fauzan tidak terlihat yakin. “Saya hanya ingin Ustadz tahu.”

Raka mengangguk dan menepuk bahunya. Ia tidak ingin memikirkannya pagi ini. Di kepalanya sudah ada terlalu banyak hal yang belum selesai.

Sarapan di rumah berlangsung hening. Aisyah menyiapkan bubur dan teh, Kadijah berceloteh tentang tugas sekolah, Rasyid sibuk mencongkel kuah dari mangkuk. Aisyah tidak menanyakan apa-apa. Ia hanya sesekali menatap Raka, lama, lalu kembali mengurus anak-anak. Pertanyaannya sudah ia titipkan semalam. Ia memberi ruang bagi jawabannya untuk tumbuh sendiri.

Raka diam-diam bersyukur karenanya.

*    *    *

Menjelang zuhur, ia berada di kantor yayasan, tenggelam dalam tumpukan nota bantuan banjir yang dirapikan Rania. Di luar, matahari menggantung malas dan angin membawa bau tanah kering.

Telepon di meja berdering.

Lihat selengkapnya