Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #8

BAB 7 Teras yang Menunggu

BAB 7

Teras yang Menunggu

Pesawat mendarat di Surabaya ketika matahari sudah condong ke barat dan langit berwarna jingga kusam. Raka duduk di dekat jendela dengan kedua tangan terkepal di pangkuan, memandangi hamparan atap rumah yang tampak seperti kepingan mosaik yang diaduk sembarangan.

Bau kota itu menyergap begitu pintu pesawat terbuka: panas, lembap, bercampur asap knalpot dan garam yang terbawa angin dari pesisir. Bau yang tidak ia sadari ia rindukan sampai hidungnya sendiri mengenalinya.

“Kamu pucat,” kata Aisyah di sampingnya, pelan.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku tahu itu bukan jawaban.”

Raka menoleh dan tersenyum tipis, tanpa menyangkal.

Anak-anak mereka ia tinggalkan di Martapura bersama Acil Noor, yang dengan tegas menyatakan bahwa urusan duka orang dewasa tidak boleh menyeret dua anak kecil ke dalam perjalanan yang penuh air mata. Raka tidak membantah. Dalam hati ia juga takut: takut pertemuan pertama kedua orang tuanya dengan cucu-cucu mereka terjadi di tengah tenda kematian, dengan wajah-wajah yang masih kaku oleh kehilangan.

Taksi membawa mereka melintasi jalan-jalan yang separuh ia hafal dan separuh telah berubah. Di tikungan tertentu ada toko yang dulu menjual es dawet, kini menjadi minimarket. Di perempatan lain ada pohon asam yang masih berdiri, lebih besar, lebih tua, seperti penjaga yang tidak pernah pergi.

Lalu taksi berbelok masuk sebuah gang sempit, dan Raka berhenti bernapas.

*    *    *

Tenda terpal biru sudah terpasang menutupi separuh jalan. Kursi-kursi plastik berjajar rapi, beberapa sudah terisi tetangga yang menunduk khusyuk. Di dalam rumah terdengar lantunan tahlil yang naik-turun, dan wangi kembang kantil bercampur asap dupa tipis menyeruak dari pintu yang terbuka.

Rumah itu bukan rumah Pakde Darmo. Itu rumah Bapak dan Ibu, rumah tempat Raka dibesarkan. Pakde tinggal di rumah kecil di belakang, dan karena rumah itu terlalu sempit, keluarga memindahkan tahlilan ke sini.

Cat dinding depannya sudah berganti warna. Pagarnya baru. Tapi teras itu masih sama: teras dengan dua kursi rotan dan meja kecil, tempat Bapak membaca koran tiap sore.

Dan di sana, di kursi rotan di sudut yang paling jauh dari kerumunan, duduk seorang lelaki tua yang membelakangi suara tahlil, memandangi jalan.

Raka menghentikan langkahnya di depan gerbang.

Itu Bapak. Ia mengenalinya dari bahu yang dulu tegap dan kini melengkung, dari cara jemarinya menumpu lutut, dari batuk kecil yang terdengar di sela angin. Rambutnya yang dulu hitam kini putih seluruhnya, tipis dan acak di tepi peci. Wajahnya yang dulu penuh kini cekung dan keras seperti kayu yang terlalu lama dijemur.

Belasan tahun. Lebih lama dari yang berani ia hitung tanpa merasa malu.

“Mas,” bisik Aisyah di sampingnya. “Jalan.”

Raka melangkah. Pintu pagar berderit. Beberapa tetangga menoleh, lalu berbisik satu sama lain.

“Itu... Cak Raka?”

“Anaknya Pak Karto, yang jadi santri itu?”

Bisik-bisik itu mengikuti langkahnya sampai ke teras. Ia berhenti di depan kursi rotan, dan lelaki tua itu tidak menoleh.

“Assalamu'alaikum, Pak.”

Bapak tidak menjawab seketika. Dagunya bergerak sedikit, hanya sedikit, seakan menimbang apakah suara itu nyata. Lalu ia menoleh. Matanya, yang dulu tajam dan sering menghakimi, kini keruh oleh usia, dan Raka melihat sesuatu berkilat di sana yang buru-buru dikendalikan.

“Wa'alaikumussalam.”

Raka membungkuk, meraih tangan itu, dan menciumnya. Kulit tangan Bapak kering dan dingin, urat-uratnya menonjol seperti akar. Ia menahan genggamannya sedikit lebih lama dari semestinya, dan Bapak membiarkannya.

“Teko,” kata Bapak akhirnya. Datang.

“Inggih, Pak.” Bahasa Jawa krama yang hampir hilang dari lidahnya terasa kaku, tapi ia memaksakannya keluar. “Nuwun sewu, Pak. Saya baru bisa...”

“Wis mangan?”

Raka terdiam.

Sudah mangan? Sudah makan? Setelah belasan tahun, itu yang pertama ditanyakan. Tidak ada tuduhan, tidak ada sindiran. Hanya pertanyaan yang dulu setiap hari Bapak ucapkan, bertahun-tahun, tanpa pernah sekali pun mengatakan aku sayang kamu, tapi sebenarnya sudah mengatakan semuanya.

“Sampun, Pak.”

“Yo wis.” Bapak mengangguk sekali, lalu menoleh lagi ke arah jalan.

Lihat selengkapnya