BAB 8
Jatah yang Bukan Warisan
Pagi hari ketiga setelah wafatnya Pakde Darmo, ruang tengah rumah itu berbau teh melati dan kue sisa tahlilan. Matahari menyelinap lewat celah gorden, menjatuhkan garis-garis cahaya di atas tikar yang digelar untuk musyawarah keluarga kecil.
Bapak duduk bersandar di tiang, tangannya memegang gelas teh yang sudah dingin. Ibu duduk di sampingnya, dengan wajah yang lebih tenang daripada kemarin. Aisyah bersila di dekat Raka, dan di seberang mereka, Budhe Rahayu sudah membawa selembar kertas catatan yang ia tulis sendiri dengan huruf besar-besar.
“Aku ora gelem ngrembug iki sing ndadak-ndadak,” katanya, “tapi iki kudu diurus sak durunge telat.” Aku tidak suka membicarakan ini terburu-buru, tapi ini harus diurus sebelum terlambat.
Ia menepuk-nepuk kertasnya.
“Porsi haji Pakde itu ndak bisa dibiarkan begitu saja. Kata tetangga sebelah, yang pernah ngurus orang tuanya, kalau tidak diurus, kesempatan itu hangus. Ditarik, dikasih ke orang lain.”
“Itu urusan Kementerian, Budhe,” kata Bapak datar. “Ora usah dirembug.”
“Urusan Kementerian sing kudu diurus keluarga, Mas Karto.” Budhe tak mau mengalah. “Dan kata orang kelurahan, porsi itu bisa dilimpahkan. Ke keluarga. Ke kamu.”
Gelas di tangan Bapak berhenti di udara.
“Aku?”
“Kamu sedulur kandunge. Kamu siji-sijine adhine Pak Darmo.”
Hening. Dari dapur terdengar bunyi sendok beradu dengan panci, dan suara tukang sayur yang lewat di gang.
Bapak meletakkan gelasnya. Perlahan, sangat perlahan.
“Ora.”
“Mas...”
“Iku jatahe Mas Darmo, dudu jatahku.” Itu jatah Mas Darmo, bukan jatahku. Suaranya tidak keras, tapi tegas, seperti pintu yang ditutup sekali dan dikunci. “Dua puluh tahun dheweke nunggu. Aku ora duwe hak ngrebut.”
“Bukan merebut, Pak.”
Itu suara Raka. Semua menoleh.
Ia tidak berniat bicara. Ia sebenarnya sudah lama menimbang, apakah ia berhak ikut campur dalam urusan yang bahkan belum lama ia kembali kepadanya. Tapi kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
“Pelimpahan porsi itu bukan warisan,” lanjutnya hati-hati. “Aturannya jelas. Itu bukan harta yang dibagi. Itu kesempatan yang dititipkan ke keluarga terdekat, supaya yang sudah dipanggil tidak sia-sia dipanggilnya. Pakde sudah ditetapkan berhak berangkat. Surat itu sudah ada. Yang ditunggunya sudah datang, hanya ajalnya yang lebih dulu.”
Ia menarik napas.
“Kalau Bapak tidak mengambilnya, kursi itu akan diberikan kepada orang lain yang tidak kenal Pakde. Kalau Bapak mengambilnya, Bapak berangkat membawa namanya.”
Bapak diam. Rahangnya mengeras, dan Raka melihat bagaimana ia menatap lurus ke tikar, seolah ada sesuatu yang sedang ia hitung di sana.
“Mas Darmo sudah menuliskan nama Bapak di buku kecilnya,” tambah Ibu pelan. Itu kalimat pertama yang ia ucapkan pagi itu. “Di baris paling atas, sebelum nama-nama yang lain.”
Bapak menoleh padanya sekilas, lalu membuang muka.
“Aku wis tuwa,” katanya akhirnya. Suaranya merosot. “Pitung puluh papat. Dengkulku wis ora kuat. Mlaku sepuluh menit wae ngos-ngosan. Mekkah iku adoh, panas, wong akeh. Aku mung bakal nyusahake.”
Itu dia, pikir Raka. Bukan soal hak. Bukan soal gengsi, atau tidak sepenuhnya. Ia takut menjadi beban.
“Aku ora gelem nyusahke wong liya,” lanjut Bapak, hampir seperti bisikan. “Apa maneh kowe.”
Kata terakhir itu jatuh pelan di tengah ruangan, dan semua orang diam. Tak ada yang menyebut betapa Bapak sudah sejak lama menghindari merepotkan siapa pun, terutama anaknya sendiri, terutama sejak anak itu pergi.
* * *
“Ada petugasnya, Pak,” kata Budhe Rahayu cepat, mencoba memecah hening. “Haji lansia itu ada pendampingnya. Aku sudah tanya ke Bu Lurah. Yang sudah umur enam puluh lima ke atas boleh didampingi keluarga.”
“Siapa yang bisa mendampingi?” tanya Aisyah lembut.
Budhe membuka catatannya dan membaca perlahan, menelusuri tulisannya sendiri dengan telunjuk. “Katanya harus mahram, atau keluarga langsung. Anak, menantu, suami, istri, begitu. Dan...” ia mengernyit, “dan yang jadi pendamping itu harus sudah daftar haji sendiri minimal lima tahun. Tidak boleh baru daftar kemarin.”
Raka dan Aisyah saling pandang.
“Kami sudah mendaftar sepuluh tahun lalu,” kata Aisyah.