BAB 9
Tafsir yang Tidak Diminta
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada yang bisa Raka kejar.
Sebelum ia sempat menceritakan apa pun, para santri sudah tahu. Pedagang di pasar sudah tahu. Ibu-ibu majelis taklim di ujung gang sudah mengirim kue dan doa. Di Martapura, kabar tentang haji adalah kabar yang berjalan dari mulut ke mulut seperti air yang menemukan celah, dan dalam dua hari, setiap orang yang berpapasan dengannya di jalan menunduk hormat dengan senyum yang berbeda dari biasanya.
“Alhamdulillah, Ustadz. Diundang ke Baitullah.”
“Semoga mabrur, Ustadz.”
“Jangan lupa titip doa.”
Raka menjawab satu per satu, dan di setiap jawaban ia merasa sedikit tidak pantas. Bukan dia yang diundang. Yang diundang adalah Pakde Darmo, dan karena sebuah ajal yang datang lebih dulu, undangan itu mengalir kepada Bapak. Ia hanya ikut dalam rombongan.
Tapi kata orang di sini, tak ada yang kebetulan.
* * *
Manasik diadakan di serambi masjid, tiga kali dalam seminggu, dipandu seorang pembimbing dari KUA bernama Pak Jamhari: lelaki kurus dengan kacamata tebal, suara pelan, dan kebiasaan mengulang setiap kalimat dua kali.
Raka duduk di baris belakang bersama Aisyah dan belasan calon jemaah lain, sebagian besar lebih tua dari mereka berdua. Ia menyimak dengan tenang, mencatat di buku kecil, dan sesekali mengangguk ketika Pak Jamhari menjelaskan hal-hal yang sudah ia pahami luar kepala.
Ia seorang ustadz. Ia mengajarkan fikih haji kepada santri setiap tahun. Namun duduk sebagai murid, dengan kaki bersila di atas tikar dan tangan memegang pulpen seperti anak sekolah, ternyata membuat dadanya lega.
“Yang paling sering gagal,” kata Pak Jamhari di pertemuan kedua, “bukan kurang ilmu.”
Ia menatap para peserta lewat atas kacamatanya.
“Pendamping lansia itu paling sering gagal bukan karena tidak tahu rukun dan wajib, tapi karena lupa satu hal sederhana: orang yang didampingi punya harga diri. Orang tua itu pernah muda, pernah kuat, pernah menggendong kita. Ketika kita mendorong kursi rodanya, kita tidak boleh membuatnya merasa dipindahkan seperti barang.”
Raka berhenti menulis.
“Dorong kursi roda dengan cara yang membuatnya merasa masih memimpin perjalanan. Tanyakan, 'Ke arah mana, Pak?' meski kita sudah tahu jawabannya. Biarkan dia yang memutuskan kapan berhenti.”
Aisyah menoleh sebentar, dan mata mereka bertemu.
Bapak, pikir Raka. Itu Bapak.
* * *
Latihan mendorong kursi roda diadakan di halaman pesantren sore itu, dan berubah menjadi pertunjukan yang membuat seluruh asrama berkerumun.
Fauzan dipaksa menjadi “Bapak”, duduk di kursi roda pinjaman dari klinik dengan wajah serius dan tangan terlipat di dada. Raka mendorongnya perlahan di antara pot-pot bunga dan jemuran, sementara Rafi berjalan di samping sambil memberi aba-aba.
“Pelan, Ustadz! Pelan! Itu bunga Ibu Aisyah!”
“Saya tahu.”
“Tadi hampir kena!”
“Yang duduk di sini yang kebanyakan komentar, Rafi.”
Para santri kecil terbahak. Aisyah, yang berdiri di serambi dengan tangan menutup mulut, tidak berhasil menyembunyikan tawanya. Bahkan Fauzan, yang biasanya paling kaku, ikut tertawa begitu kursi rodanya oleng di tikungan dan nyaris menabrak jemuran sarung.
Untuk beberapa menit, halaman pesantren dipenuhi suara tawa yang jujur, dan Raka merasakan sesuatu yang lama tidak ia rasakan sejak banjir datang: ringan.
Ke arah mana, Pak? ia mengulang dalam hati, sambil mendorong. Ke arah mana, Pak?
* * *
Malam harinya, Aisyah menyodorkan ponselnya ke tangan Raka.
“Kadijah mau bicara dengan nenek dan kakeknya.”
Raka menegang. “Sekarang?”
“Ibu sudah bilang mau. Dari kemarin. Katanya ingin melihat mereka sebelum berangkat.” Aisyah tersenyum lembut. “Kamu yang menekan tombolnya, Mas. Jangan takut.”
Mereka berkumpul di ruang tengah: Raka, Aisyah, Kadijah dengan mukena belum dilepas, dan Rasyid yang ngantuk bersandar di bahu ibunya. Raka menekan nomor yang kini tak lagi asing, dan layar ponsel menampilkan gambar bergoyang, lalu wajah Ibu yang terlalu dekat dengan kamera.
“Piye, Le? Wis kelihatan? Kok mung irunge Ibu?” Bagaimana, Nak? Sudah kelihatan? Kok cuma hidung Ibu?
“Jauhkan sedikit, Bu.”
Layar bergoyang lagi, dan akhirnya wajah Ibu muncul utuh, dengan kerudung miring dan senyum yang basah. Di belakangnya, di ambang pintu, berdiri sosok lelaki tua yang pura-pura sibuk memegang sesuatu.
“Itu... itu Kadijah?” bisik Ibu.
“Nggih, Mbah.” Kadijah mendekatkan wajahnya ke layar. Suaranya malu-malu. “Kadijah, Mbah.”
Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Raka melihat bahunya bergetar.