Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #11

BAB 10 Ke Arah Mana, Pak?

BAB 10

Ke Arah Mana, Pak?

 

Asrama haji Surabaya pagi itu berdengung seperti sarang lebah. Ratusan orang berkain putih dan berbatik seragam berjalan ke sana kemari, koper-koper berderet di lorong, dan pengeras suara tak henti-hentinya menyebut nomor kloter dan nama-nama.

Raka berdiri di dekat bus dengan koper hitam kecil milik Pakde di satu tangan dan tas pinggang Bapak di tangan lainnya. Di sampingnya, Aisyah merapikan kerudung putih yang baru dikenakannya untuk pertama kali, sementara di belakang mereka, sebuah pemandangan yang sudah dua hari ia bayangkan sekaligus takut menyaksikannya.

Acil Noor telah tiba dari Martapura bersama dua anak mereka.

Kadijah berdiri canggung di depan Ibu, kedua tangan terkepal di depan perut. Rasyid bersembunyi setengah di balik rok Acil Noor. Dan Ibu, perempuan kecil dengan kerudung putih dan seragam batik kloter yang kebesaran di pundaknya, matanya sudah merah sejak subuh, berlutut di tanah, tak peduli kain batiknya kotor.

“Kadijah,” bisiknya, sambil memandang wajah cucunya lekat-lekat, seakan hendak menghafalnya. “Sini, Nduk. Sini, peluk Mbah.”

Kadijah maju satu langkah, dua langkah, lalu menghambur ke pelukan itu. Ibu memeluknya dengan seluruh tubuh, dan dari bahu Ibu yang bergetar, Raka tahu perempuan itu sedang berusaha keras untuk tidak meraung.

“Wangi, ya,” gumam Ibu, menyeka air mata dengan ujung kerudung. “Wangi ibumu, Nduk.”

Rasyid mengintip dari balik rok Acil Noor. Ibu menoleh padanya, tersenyum dengan wajah basah, dan merentangkan satu tangan.

“Sini, Le. Mbah ora nggigit.”

Anak kecil itu ragu, lalu berlari dan menubruk pelukan neneknya hingga Ibu nyaris terjengkang. Acil Noor tertawa sambil menyeka matanya, dan Aisyah di samping Raka menggenggam tangannya erat-erat.

Bapak berdiri beberapa langkah dari mereka, tegak dalam kain ihram yang masih terlipat rapi di lengannya, memandangi pemandangan itu dengan wajah yang tidak bergerak. Tetapi Raka melihat bahunya sedikit turun, dan satu tangannya, perlahan, terulur ke arah kepala Rasyid. Menyentuh rambutnya yang tebal, sebentar, nyaris tak terasa.

“Mbah Kakung,” kata Rasyid, mendongak. “Mekkah itu jauh, ya?”

Bapak menunduk. Beberapa saat ia menatap bocah itu, lalu bibirnya melengkung tipis, senyum pertama yang Raka lihat di wajahnya sejak ia kembali.

“Cedhak,” katanya pelan. “Nek atine wis tekan.”

Dekat, kalau hatinya sudah sampai.

*    *    *

Ibu menarik Raka ke sudut sebelum bus berangkat.

“Le.” Ia menggenggam lengan Raka dengan jari-jari yang kecil tetapi kuat. “Ibu karo Aisyah bakal njaga awake dhewe. Kowe jaga Bapakmu.”

“Inggih, Bu.”

“Bapakmu iku...” Ia berhenti, mencari kata. “Gengsine gede, tapi atine alus. Kowe ngerti. Nek dheweke ngomong keras, ojo diselaki. Nek dheweke meneng, ojo dikira ora krungu.”

Gengsinya besar, tapi hatinya lembut. Kalau ia bicara keras, jangan dibantah. Kalau ia diam, jangan kira ia tidak mendengar.

“Inggih, Bu.”

“Lan kowe dewe...” Ibu menatapnya lama. “Ojo lali mangan.”

Jangan lupa makan. Raka mencium tangannya, dan Ibu menarik kepalanya, mengecup dahinya sebentar, seperti ketika ia masih kecil dan hendak berangkat sekolah.

Bus bergerak pelan. Dari jendela, Raka melihat sosok-sosok kecil di tepi jalan: Kadijah dengan kedua tangan di atas kepala, Rasyid yang berlari kecil sambil berteriak sesuatu yang tak terdengar, dan Acil Noor di belakang mereka, mengusap mata.

Di seberang lorong, Ibu menempelkan telapak tangan di kaca jendela dan tidak melepaskannya sampai bus berbelok. Aisyah merangkul bahunya yang berguncang.

Di sampingnya, Bapak duduk tegak menghadap ke depan. Tapi ketika bus berbelok di ujung jalan dan sosok-sosok itu menghilang, Raka melihat Bapak menoleh sekali ke belakang, hanya sekali, sebelum kembali menatap lurus.

*    *    *

Madinah menyambut mereka pada tengah malam.

Setelah belasan jam di udara dan berjam-jam lagi di jalan, rombongan kloter itu turun dari bus dalam keadaan setengah mengantuk dan setengah tak percaya. Udara dingin menyapu wajah, kering dan bersih, berbau pasir dan sesuatu yang manis. Lampu-lampu kota menyala keemasan, dan di kejauhan, terang melebihi semuanya, berdiri bangunan besar dengan menara-menara tinggi dan payung-payung raksasa.

Raka berhenti di trotoar. Ia tidak sadar telah berhenti.

Masjid Nabawi.

Ia pernah membaca tentangnya ratusan kali, mengajarkan sejarahnya kepada santri, melukiskannya dalam ceramah. Tapi pengetahuan itu tidak menyiapkannya untuk pemandangan ini: bangunan putih yang bersinar dalam gelap, dan di balik halaman luasnya, samar-samar, kubah hijau yang memancar lembut seperti lentera di dada malam.

“Pak,” bisiknya. “Lihat.”

Bapak sudah melihatnya. Ia berdiri diam di samping Raka, tongkatnya tertancap di trotoar, wajahnya menghadap kubah itu. Cahaya keemasan jatuh di pipinya yang keriput, dan Raka melihat sesuatu mengalir pelan di sana.

Lihat selengkapnya