BAB 11
Rumah Hitam dan Kata yang Tertunda
Bus-bus meninggalkan Madinah menjelang tengah hari, membawa rombongan kloter menuju sebuah tempat di tepi gurun bernama Bir Ali. Di sanalah, di batas yang telah ditetapkan sejak zaman Nabi, para peziarah menanggalkan pakaian lama dan menjadi orang yang tidak lagi dibedakan oleh rupa maupun kedudukan.
Raka duduk di samping Bapak di bangku bus, dengan kain putih terlipat di pangkuannya. Kain yang sama dengan yang dulu ia lihat di dalam plastik, di koper hitam kecil di sudut kamar Pakde Darmo.
“Biar saya bantu, Pak.”
“Aku iso dhewe.”
“Inggih.”
Mereka berdiri di antara deretan bangunan bersih di Bir Ali, di bawah matahari yang membakar. Bapak membuka lipatan kain itu, dan Raka melihat bagaimana jemari tuanya gemetar saat berusaha melilitkannya di pinggang. Kain itu terlepas sekali. Dua kali. Bapak mengumpat pelan, lalu mencoba lagi. Orang-orang di sekitar sibuk dengan urusan masing-masing, dan Raka berpura-pura memeriksa tali sandalnya.
Pada percobaan keempat, Bapak berhenti. Bahunya turun.
Tanpa berkata apa-apa, Raka berjalan ke belakangnya dan memegang ujung kain itu. Hanya memegang, tidak menarik, tidak melilitkan. Ia membiarkan Bapak yang menyelesaikannya, dan hanya menahan ujung yang licin itu agar tidak jatuh.
Bapak mengikat simpulnya. Menarik napas. Mengusap kain di pinggangnya dengan telapak tangan.
“Wis,” katanya, parau.
“Inggih, Pak.”
Mereka berdiri berdampingan, dua lelaki dengan kain putih tanpa jahitan, dan Raka melihat Bapak memandangi lengan telanjangnya sendiri, kulit tua yang bercak dan kurus. Kain itu tidak gatal. Pakde telah memilihnya dengan baik.
Lalu mereka bersama-sama mengucapkan niat, dan begitu bus mulai bergerak, seluruh kabin itu bergemuruh dengan satu suara.
Labbaika Allahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik.
Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi.
Raka memejamkan mata. Di seberang lorong, ia mendengar suara-suara perempuan yang lebih halus bercampur dengan suara para lelaki. Suara Aisyah yang jernih. Suara Ibu yang gemetar dan nyaris tak terdengar. Dan di sampingnya, serak, naik-turun, terputus-putus oleh isakan, suara Bapak.
Inna al-hamda wa al-ni'mata laka wal mulk, la syarika lak.
Bapak tidak berhenti menyebutnya sampai bus tiba di Makkah.
* * *
Mereka tiba di Masjidil Haram menjelang malam.
Raka mendorong kursi roda Bapak melewati lorong-lorong panjang, di antara lautan kain putih dan wajah-wajah dari segala penjuru bumi. Di belakang mereka, Ibu berjalan dengan tangan dalam genggaman Aisyah, langkahnya pendek-pendek dan mantap. Suara orang berdoa mengalir seperti sungai yang tak pernah berhenti.
Lalu lorong itu terbuka.
Raka tidak pernah akan bisa menjelaskan apa yang terjadi di dadanya. Bangunan hitam itu berdiri di tengah hamparan putih yang bergerak, lurus, sederhana, tanpa hiasan apa pun kecuali selubung gelapnya dan lampu-lampu keemasan di sekelilingnya. Orang-orang berputar mengelilinginya seperti galaksi kecil, tanpa henti, tanpa tergesa, selama berabad-abad.
Ia berhenti mendorong.
“Mandek,” bisik Bapak.
Berhenti.
Mereka diam. Di belakang, Ibu terisak tanpa suara, dan Aisyah memeluknya. Raka berdiri di belakang kursi roda, menunduk, menatap bagian belakang kepala Bapak yang berambut putih tipis.
“Aku iki wong pelabuhan, Le,” kata Bapak akhirnya, pelan, tanpa menoleh. “Tak jalani puluhan taun neng Tanjung Perak. Kapal gedhe wis tak ndelok ewonan. Ono sing dowone satus meter luwih.”
Ia terdiam sejenak.
“Ning ora ono siji-sijine sing gawe aku krasa cilik koyo iki.”
Tidak ada satu pun yang membuatku merasa sekecil ini.
Raka menunggu. Bapak menarik napas dalam, dan ketika kata-kata berikutnya keluar, suaranya jauh lebih lembut.
“Tapi anehe... aku ora wedi.”
“Inggih, Pak.”
“Cilik iki... ora medeni.” Kecil ini tidak menakutkan. Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Aku ora ngerti kenapa.”
Raka tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, sesuatu mulai tersusun, seperti kepingan yang mendekat satu sama lain, pelan tapi pasti.
* * *
Tawaf mereka lakukan berempat, dalam satu barisan kecil yang bergerak mengikuti arus.
Raka mendorong kursi roda Bapak di tengah, Ibu dan Aisyah berjalan di sisinya sambil berpegangan tangan agar tidak terpisah. Orang-orang berdesakan, kadang menyenggol, kadang mengalah. Dalam lautan yang tak mengenal bahasa itu, tak ada yang marah.
“Putaran pertama,” bisik Raka, memulai dengan doa.
Dan di putaran kedua, ia menyadari sesuatu yang membuatnya nyaris tersenyum: ia sedang tidak memikirkan apa-apa. Tidak tanggul, tidak Salman, tidak kursi bupati, tidak surat-surat yang ditolak. Kepalanya kosong dan ringan, seperti ruangan yang akhirnya dibersihkan.
Di putaran keempat, Bapak, yang sejak tadi diam, tiba-tiba memberi perintah.
“Kiri, Le! Kiri! Ono wong ngalang-alangi!”
“Inggih, Pak.”
“Cedhak, cedhak! Ojo nganti kepisah karo Ibumu!”
Raka menahan tawa. Nada itu, tegas, pendek, dan penuh wibawa, adalah nada yang pasti telah bertahun-tahun ia gunakan di dermaga, memberi aba-aba kepada para pekerja yang mengangkat peti-peti. Bapak sedang memimpin tawaf seperti memimpin pelabuhan.
“Lurus, Le! Pelan-pelan! Kowe kuwi cepet banget!”
“Maaf, Pak.”