BAB 12
Padang yang Luas
Arafah pada pagi hari kesembilan tampak seperti kota tenda yang tak berujung.
Bus-bus mengantar kloter mereka sebelum fajar, dan ketika Raka turun, ia melihat hamparan putih menyebar ke segala arah: ribuan tenda berjajar rapi di dataran gersang, jalan-jalan kecil di antaranya penuh orang berkain putih yang berjalan pelan, dan di kejauhan, sebuah bukit batu kecil berdiri tenang di bawah langit yang mulai memucat. Jabal Rahmah.
Udara belum terlalu panas, tapi Raka tahu itu hanya sementara. Matahari akan naik, dan padang ini akan berubah menjadi tungku.
“Pelan-pelan, Pak.” Ia mendorong kursi roda Bapak melewati jalur berpasir menuju tenda kloter mereka. “Tendanya tidak jauh.”
“Aku ora sambat.”
“Saya tahu, Pak.”
Di belakang mereka, Ibu berjalan dengan kipas lipat di tangan dan sebotol air di tas pinggang, langkahnya mantap meski terlihat lelah. Aisyah di sampingnya, membawa sajadah, tas kecil, dan buku doa yang sudah lecek.
Tenda itu panjang dan sederhana: lantai berkarpet tipis, kipas angin besar menggantung di langit-langit, bantal-bantal tipis berjajar. Jemaah laki-laki dan perempuan ditempatkan di sisi yang berbeda, tapi hari ini, tak seorang pun peduli aturan itu secara kaku. Di Arafah, semua orang bergerak mengikuti hati masing-masing.
Raka menemukan sudut yang cukup lapang di dekat bukaan tenda, tempat angin pagi masih bisa masuk. Ia membentangkan tikar dan sajadah, menaruh bantal di sandaran, dan menuntun Bapak duduk dengan hati-hati.
Ibu menyusul. Aisyah ikut duduk. Untuk pertama kalinya sejak keberangkatan, keempatnya duduk dalam satu lingkaran kecil, di hamparan yang kelak, kata para ulama, akan menjadi tempat Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan malaikat.
“Hari ini hari terpenting, Pak,” kata Raka pelan. “Dari zuhur sampai maghrib. Itu wukuf.”
“Aku ngerti.”
“Banyak berdoa, banyak istigfar.”
“Aku ngerti, Le.”
Raka tersenyum tipis. Bapak memang sudah tahu. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia masih seorang bapak yang tidak perlu diajari anaknya.
* * *
Matahari naik tinggi dan Arafah berubah menjadi panci yang mendidih.
Setelah salat zuhur dan asar yang dijamak, tenda mereka terasa pengap meski kipas berputar kencang. Orang-orang berbaring lemas, mengipas diri dengan apa saja. Namun di luar, di tanah terbuka yang membara, ribuan jemaah lain berdiri dengan tangan menengadah, menangis di bawah langit yang tak berawan.
Bapak menolak berbaring.
“Aku pengin metu.”
“Di luar panas sekali, Pak.”
“Aku ngerti. Aku pengin metu, Le.” Ia menatap bukaan tenda, tempat langit biru menyilaukan terlihat dari celah kain. “Aku pengin ngomong ning kana. Ning ngisor langit.”
Raka diam sejenak. Lalu ia mengangguk.
Mereka keluar berempat. Raka mendorong kursi roda Bapak ke sebuah pohon akasia kecil di ujung barisan tenda, satu-satunya pohon yang masih menyisakan bayangan sempit di pasir yang membara. Aisyah membentangkan tikar di bawahnya, dan Ibu menuangkan air ke handuk kecil untuk menyejukkan kepala Bapak.
Di kejauhan, gema doa naik dari seluruh penjuru padang, dalam bahasa-bahasa yang tak terhitung. Tak ada yang bicara dengan lantang. Tak ada yang saling memandang. Semua orang hanyut dalam percakapan pribadi yang hanya mereka dan Tuhan yang paham.
Bapak mengambil napas panjang.
“Raka.”
“Nggih, Pak.”
“Mrene. Cedhak.”
Raka berlutut di depan kursi rodanya. Ibu dan Aisyah menahan napas, tapi tidak menjauh. Bapak seperti tidak keberatan mereka mendengar.
Lelaki tua itu menatap anaknya lama. Wajahnya tampak lebih kecil daripada saat di Surabaya, kulitnya terbakar matahari, bibirnya pecah-pecah. Tapi matanya jernih.
“Aku njaluk ngapura, Le.”
Raka tidak langsung mengerti. Kalimat itu begitu sederhana, begitu pendek, sampai ia butuh sedetik untuk menyadari bahwa itu benar-benar diucapkan.
“Aku njaluk ngapura,” ulang Bapak, suaranya tidak gemetar, tapi sesuatu di dalamnya retak. “Aku sing salah. Aku sing meneng. Aku sing nutup lawang. Pas kowe budal, aku iso ngomong siji kalimat wae, 'Ati-ati, Le, aku ngandhut kowe,' ning aku ora ngomong. Aku malah ngenteni kowe mulih ndisik, kaya kowe sing salah.”
Aku meminta maaf. Aku yang salah. Aku yang diam. Aku yang menutup pintu. Waktu kamu berangkat, aku bisa mengucapkan satu kalimat, 'Hati-hati, Nak, aku menyayangimu', tapi aku tidak mengatakannya. Aku malah menunggumu pulang lebih dulu, seakan kamu yang salah.
Ia menarik napas.
“Mas Darmo wis ngomong aku kudu njaluk ngapura. Pirang-pirang taun. Aku ora wani.” Suaranya turun. “Wong pelabuhan iki ora tau njaluk ngapura. Wong pelabuhan iku mung ngomong, 'Ngono wae.'
Tapi ning kene, Le...”
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke langit yang bening, ke padang yang tak berujung. “Ning kene aku ora iso ngumpet.”
Di sini aku tidak bisa bersembunyi.
Raka merasakan sesuatu menyumbat tenggorokannya. Ia ingin menjawab, tapi kata-kata hilang. Yang keluar hanya air mata yang akhirnya ia biarkan jatuh begitu saja, di hadapan ayahnya, tanpa malu.
“Pak,” akhirnya ia berkata, suaranya serak dan pecah. “Bukan Bapak yang harus minta maaf. Saya yang pergi. Saya yang tidak pulang. Saya yang membiarkan tahun-tahun lewat karena saya terlalu takut menghadapi Bapak.” Ia menggenggam tangan Bapak dengan kedua tangannya. “Saya yang harus minta maaf, Pak. Saya minta maaf.
Saya mohon Bapak maafkan.”
“Wis,” bisik Bapak. “Wis, Le.”
“Saya mohon...”
“Wis diapura. Wis diapura wiwit biyen.”
Sudah dimaafkan. Sudah dimaafkan sejak dulu.
Raka membenamkan wajahnya di pangkuan Bapak. Dan dari atas kepalanya, ia merasakan sebuah tangan tua yang gemetar menyentuh rambutnya, dengan ragu, lalu semakin mantap, mengusapnya pelan-pelan seperti ketika ia masih kecil dan terbangun oleh mimpi buruk.
Di sampingnya, ia mendengar Ibu terisak. Ibu mendekat dan memeluk mereka berdua sekaligus, kepala kecilnya bersandar di bahu Bapak, tangan satunya memegang bahu Raka.