Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #14

BAB 13 Janji yang Siap Kalah

BAB 13

Janji yang Siap Kalah

Pulang selalu terasa lebih singkat daripada berangkat, entah mengapa.

Empat puluh hari yang tadinya tampak seperti kabut panjang kini menyusut menjadi kenangan yang padat: bau kain ihram, dingin lantai marmer Nabawi, suara orang menangis di Arafah, dan satu batu kecil yang dilempar atas nama ayahnya. Raka duduk di dekat jendela pesawat dan memandangi awan, sementara di sampingnya Bapak tertidur dengan kepala bersandar dan mulut sedikit terbuka, mendengkur halus seperti anak kecil.

Di seberang lorong, Ibu menggenggam tasbih, dan Aisyah memejamkan mata dengan senyum samar di bibirnya.

Raka memegang ponselnya, layar masih menyala menampilkan foto yang sama: puluhan warga Hilir Baru berbaris di celah tanggul dengan karung pasir di bahu. Ia sudah memandangnya ratusan kali sejak Mina. Setiap kali, dadanya menghangat dan nyeri sekaligus.

Mereka bilang menunggu Ustadz pulang.

Ia menutup layar dan memejamkan mata.

*    *    *

Asrama haji Surabaya menyambut mereka dengan riuh yang sama seperti saat mereka berangkat, hanya kali ini wajah-wajah di sana tersenyum lebih lebar dan mata mereka lebih basah.

Bus berhenti, pintu terbuka, dan sebelum Raka sempat mengangkat koper, terdengar suara kecil memanggil dari kerumunan.

“Mbah! Mbaaah!”

Rasyid berlari menembus barisan orang, rambutnya acak-acakan, tangannya terentang lebar. Ia menabrak kaki Bapak dan memeluknya dengan seluruh tubuh kecilnya, nyaris membuat lelaki tua itu terhuyung.

“Wah, wah, wah,” kata Bapak, tertawa serak, dan Raka terkejut mendengar suara itu keluar begitu mudah. “Pelan-pelan, Le! Mbah isih lemes!”

Ia berlutut. Perlahan, dengan dengkul yang berderak, hingga sejajar dengan Rasyid, lalu mengangkat bocah itu ke gendongannya, sesuatu yang sebelum haji tak akan mungkin ia lakukan. Rasyid menempelkan pipi di bahu kakeknya dan berbisik sesuatu yang membuat mata Bapak melembut.

Di belakang, Kadijah memeluk Ibu erat-erat, wajahnya terbenam di perut neneknya. Acil Noor berdiri di dekat mereka, mengusap mata dengan ujung kerudung, dan di kerumunan lain, Budhe Rahayu melambai-lambai heboh sambil berseru, “Pak Haji! Bu Hajjah! Selamat dateng!”

Bapak mengernyit.

“Pak Haji?”

“Lha iya toh, Mas Karto. Sampeyan kan sampun haji.” Budhe terkekeh. “Pak Haji Karto!”

Bapak menggeleng, wajahnya merah. “Aku iki isih wong pelabuhan, Rahayu.”

“Tapi sampeyan sampun haji, Pak Haji.”

“Ojo ngono.”

Raka tidak bisa menahan tawa. Aisyah menyikut lengannya dengan senyum geli. Bapak, yang menggendong cucu dan dipanggil dengan gelar yang belum ia terima sepenuhnya, tampak seperti orang yang kikuk memakai baju baru.

Dan tiba-tiba ia teringat Salman, lelaki lain yang dipanggil Haji oleh semua orang, yang menolak dipanggil begitu dengan senyum sempurna. Dua orang, dua gelar yang sama. Dan perbedaan itu tampak begitu jelas sekarang: yang satu menolaknya karena rikuh, yang lain karena tahu persis cara memakainya.

*    *    *

Malam itu, di teras rumah di gang sempit Surabaya, Raka dan Bapak duduk berdua lagi.

Kali ini tidak ada keheningan yang menegangkan. Mereka duduk dengan secangkir teh masing-masing, memandangi jalan yang sama, dan membiarkan jangkrik mengisi jeda yang tidak lagi terasa kosong. Dari dalam rumah, terdengar suara Ibu yang membacakan dongeng kepada Rasyid dan tawa Kadijah.

“Kowe arep maju, ya?”

Raka menoleh. Bapak tidak menatapnya, hanya memegang cangkir.

“Njenengan ngertos, Pak?”

“Ibumu moco koran.” Bapak menyeruput tehnya. “Ono kabar. Ono ustadz ing Kalimantan sing nylametke wong banjir. Banjur ono wong sing ngomong, ustadz iku pantes dadi bupati.”

Raka tertawa pendek. “Itu bukan saya yang bilang.”

“Ning kowe mikir.”

“Inggih.” Ia mengangguk jujur. “Saya sudah memutuskan, Pak. Saya akan maju.”

Bapak mengangguk pelan, tidak terkejut, tidak menolak. Ia meletakkan cangkirnya di meja dan memandang jalan yang gelap.

“Aku iki ora ngerti politik, Le,” katanya. “Aku wong pelabuhan. Ning aku ngerti kapal.”

“Kapal?”

“Nahkoda iku...” Ia berhenti, mencari kata dengan alis berkerut. “Nahkoda iku dudu sing paling dhuwur. Nahkoda iku sing mungkasi metu saka kapal.”

Nahkoda bukan yang paling tinggi. Nahkoda adalah yang terakhir keluar dari kapal.

Raka terdiam.

“Pas kapal bocor, nahkoda ora ngomong. Dheweke nggolek bocor-e dhisik, nambal. Lan nek kudu tenggelam, dheweke sing tenggelam pungkasan. Sing liyane dilebokke sekoci.” Bapak mengangguk pada dirinya sendiri. “Nek kowe wis ngerti ngono, ya wis. Maju.”

Raka menunduk, dan ia merasakan matanya memanas lagi, entah untuk keberapa kalinya sejak Surabaya.

“Inggih, Pak.”

Lihat selengkapnya