BAB 14
Pasangan yang Tidak Dicari
Akmal masuk ke ruang tamu pesantren pagi-pagi sekali dengan wajah orang yang semalaman tidak tidur.
Di tangannya ada sebuah buku tipis berwarna cokelat, ketentuan pencalonan yang ia pinjam dari seorang kenalan dan baca ulang sampai pinggir kertasnya melengkung. Ia menaruhnya di meja dengan bunyi pelan, duduk, dan memijat pangkal hidungnya.
“Kak,” katanya. “Aku salah. Kita semua salah.”
Raka, yang baru selesai salat duha, meletakkan cangkir tehnya. “Apa yang salah?”
“Kita lupa satu hal.” Akmal membuka bukunya di halaman yang sudah ia beri tanda. “Calon perseorangan tidak maju sendirian. Yang diusulkan itu pasangan. Bupati dan wakil bupati. Dan dukungan KTP yang kita kumpulkan...” ia menunjuk satu kalimat dengan ujung pena, “itu atas nama pasangan, bukan atas nama Kakak.”
Hening.
Rania yang baru masuk membawa buku kas menghentikan langkahnya di ambang pintu. Aisyah, yang sedang menuang air, berhenti di tengah gerakan. Rafi, yang duduk di lantai sambil menyalin angka dari papan, menjatuhkan spidolnya.
“Jadi...” Fauzan menelan ludah. “Jadi selama ini kita sudah menyiapkan kapal untuk berlayar tanpa tahu siapa yang akan duduk di kursi sebelahnya?”
“Belum satu KTP pun boleh dikumpulkan sebelum pasangannya jelas, dan jelas bukan hanya namanya, tapi berkasnya, syaratnya, tanda tangannya.” Akmal menutup bukunya. “Kalau kita mengumpulkan dukungan hanya atas nama Kakak, semuanya tidak sah. Seluruh kerja tiga bulan nanti, hilang.”
“Tiga bulan belum mulai,” kata Rafi lemah.
“Syukurlah.” Akmal tersenyum getir. “Itu satu-satunya hal yang menolong kita.”
Raka diam sejenak. Ia memandangi papan tulis Rania, tempat angka dua puluh lima ribu masih tertulis dengan spidol merah tebal, dan tiba-tiba merasa lucu sekaligus bersalah.
“Aku yang lupa,” katanya. “Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang berdiri di atas tanggul sampai tidak memikirkan siapa yang berdiri di sebelahku.”
“Itu urusan kita semua, Kak.”
“Baik.” Raka menarik napas. “Kalau begitu kita mulai dari yang paling dasar. Aku butuh wakil. Seperti apa orangnya?”
* * *
Mereka duduk melingkar dan menyusunnya seperti menyusun peta.
Akmal menulis di papan, dengan huruf tegas:
SYARAT. Usia dan pendidikan minimum, kelengkapan berkas, tidak sedang tersangkut perkara. Itu yang diminta aturan.
Di bawahnya, Raka menambahkan sendiri dengan spidol biru:
SYARAT KITA.
1. Orang sini.
2. Bukan orang terkenal.
3. Bukan orang kaya.
4. Tahu sesuatu yang aku tidak tahu.
5. Siap kalah.
“Dan yang keenam,” kata Aisyah pelan. “Orang yang berani bilang tidak kepada Mas.”
Raka tersenyum. “Itu tugas Dewan Pengingat.”
“Dewan Pengingat mengingatkan Mas. Wakil menjalankan pemerintahan bersama Mas. Itu hal yang lain.”
Raka mengangguk dan menuliskannya sebagai nomor enam.
Lalu daftar nama mulai muncul, dan satu per satu dicoret.
Haji Rusli: sudah mundur demi enam puluh keluarga. Julak Hamdan: tujuh puluh tahun, ia sendiri akan tertawa kalau dibayangkan memimpin rapat anggaran. Syamsul: belum siap, terlalu muda, dan baru beberapa bulan keluar dari rasa takutnya sendiri. Pak Basri dari Muara Hulu: jujur, dihormati, tapi tak pernah mau jauh dari sungai. Akmal sendiri.
“Aku tidak mau,” kata Akmal cepat sebelum ada yang menyebutnya. “Dan bukan karena rendah hati. Masa laluku terlalu mudah dijadikan senjata. Kakak bisa kalah gara-gara satu foto lama, satu cerita yang digoreng. Aku lebih berguna di belakang meja.”
Tak seorang pun membantah.
Satu jam berlalu. Papan tulis penuh coretan, teh sudah dingin, dan wajah-wajah di ruangan itu mulai tampak letih.
“Ada satu nama,” kata Rania tiba-tiba.
Semua menoleh.
Ia tidak langsung melanjutkan. Jari-jarinya memutar-mutar sampul buku kas, dan Raka memperhatikan sesuatu yang jarang ia lihat pada Rania: keraguan.
“Aku tidak mau menyebutnya,” katanya akhirnya, “karena dia temanku, dan aku takut kalau aku mengusulkan dia, itu akan terlihat seperti aku sedang memaksakan teman. Tapi tidak ada nama lain yang cocok dengan semua daftar itu.”
“Siapa?”
“Norlaila.”
Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Raka, tapi Aisyah mengangkat alis.
“Laila yang punya Purun Banua?”
“Iya.”
“Perempuan anyaman purun itu?” Aisyah tersenyum perlahan. “Aku pernah membeli tas darinya. Tas yang tidak lapuk walau kena air tiga tahun.”
“Dia Banjar asli,” lanjut Rania. “Cucu keponakan Datu Ahmad, adik Datu yang paling bungsu cucunya. Kami teman sekamar waktu kuliah di Banjarmasin. Aku akuntansi, dia ekonomi. Sekarang dia punya usaha kerajinan purun dan sasirangan. Pekerjanya enam puluh dua perempuan di tiga kecamatan. Dia menggaji mereka tepat tanggal satu, setiap bulan, tanpa pernah telat, bahkan waktu pesanannya sepi.”
“Dia pernah tertarik politik?” tanya Fauzan.
Rania tertawa kecil. “Dua kali dia ditawari jadi kader partai. Dua kali dia menolak. Katanya dia tidak punya waktu untuk pencitraan. Katanya dia lebih suka mengurus neraca daripada mengurus baliho.”
“Kenapa kamu ragu?” tanya Raka lembut.
“Karena dia perempuan, Kak.” Rania menatapnya lurus. “Dan aku tidak mau dia diajak hanya supaya pasangan ini terlihat lebih 'seimbang' di pamflet. Aku tidak mau dia dipajang. Kalau dia mau, dia harus mau karena ia dipercaya, bukan karena ia perempuan.”