Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #16

BAB 15 Di Atas Karung-Karung Pasir

BAB 15

Di Atas Karung-Karung Pasir

 

Mereka sepakat mengadakan pengumuman itu di tanggul.

Bukan di aula, bukan di masjid, bukan di gedung dengan pengeras suara dan spanduk besar. Akmal mengajukan tiga tempat yang lebih “layak”, Rania menambahkan satu opsi lagi, dan Fauzan menawarkan lapangan desa. Tapi Raka menggeleng setiap kali.

“Tempat itu yang pertama kali membuat saya mulai bertanya,” katanya. “Kalau saya mulai dari tempat lain, saya takut saya lupa pertanyaan itu.”

Maka sore itu, selepas asar, di atas tumpukan karung pasir yang menjadi tanggul sementara Hilir Baru, berdirilah sebuah panggung paling sederhana yang pernah ada: sehelai kain sasirangan sepanjang tiga meter, hasil kerja tangan perajin kampung, dibentangkan di antara dua tiang bambu. Di atasnya, tulisan tangan Rafi dengan cat putih yang sedikit miring:

Dengar Dulu. Pilih Kemudian.

Tidak ada baliho. Tidak ada karangan bunga. Hanya sebuah pengeras suara pinjaman dari masjid dan satu meja kecil yang di atasnya terletak buku bersampul biru.

*    *    *

Orang-orang mulai berdatangan sejak sebelum asar.

Pada mulanya hanya warga Hilir Baru, yang datang dengan sandal jepit dan anak-anak di gendongan. Lalu santri dan alumni, yang berbaris rapi di sisi kiri. Para perajin sasirangan dengan kain-kain berwarna cerah di bahu. Wali santri. Ibu-ibu majelis taklim yang datang berombongan dengan membawa termos dan kue. Beberapa lelaki yang berdiri agak jauh di belakang dengan tangan terlipat, tak jelas apakah mereka penasaran atau curiga.

Dua ratus orang, mungkin lebih. Bagi sebuah kampung yang barusan kehilangan rumah, itu jumlah yang membuat Raka menelan ludah.

Di dekat panggung, seorang pemuda berkaus polo dengan kartu pers tergantung di leher sibuk mengatur ponselnya. Hendra, wartawan sebuah portal berita lokal, datang paling awal dan memilih tempat yang tinggi.

“Ustadz siap?” bisiknya sambil tersenyum ramah.

“Insya Allah.”

Haji Rusli berdiri di barisan paling belakang, dengan sarung digulung dan kaus lusuh bernoda cat, masih membawa sisa debu perbaikan atap. Ia mengangguk singkat ketika mata mereka bertemu, kikuk tapi tulus.

Raka menarik napas, dan merasakan jemari Aisyah menyentuh punggung tangannya sejenak, hangat dan ringan.

“Mulailah,” bisiknya.

*    *    *

Raka naik ke atas tumpukan karung, dan sejenak ia menunduk, menatap pasir yang memadat di bawah sandalnya. Lalu ia mengangkat kepala.

“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Suara jawaban salam menggelegar dari dua ratus mulut, dan sesuatu di dadanya mengencang.

“Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian. Terima kasih sudah datang. Saya tidak membawa pidato yang panjang, jadi saya akan mulai dengan yang paling penting.”

Ia berhenti sejenak.

“Nama saya Raka. Saya orang Surabaya.”

Beberapa kepala menoleh, beberapa orang berbisik.

“Saya bukan lahir di tanah ini. Sepuluh tahun lebih yang lalu saya datang ke Martapura membawa satu koper dan satu niat belajar. Orang tua saya masih di Surabaya, dan baru beberapa minggu lalu saya pulang dari menunaikan haji bersama mereka.” Ia tersenyum tipis. “Istri saya orang Banjar. Anak-anak saya tumbuh di tanah ini. Tapi saya tahu, sebagian dari Bapak dan Ibu sedang bertanya dalam hati: dia itu siapa? Anak siapa? Leluhurnya mana yang dikubur di sini?”

Hening. Seseorang di barisan belakang berdeham.

“Jawabannya jujur. Saya orang luar. Itu benar, dan tidak akan pernah berubah.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Tapi izinkan saya menawarkan satu hal. Sejak banjir kemarin, saya melihat sesuatu yang membuat saya malu. Saya melihat orang-orang yang lahir di tanah ini, yang leluhurnya dikubur di sini, berdiri dengan karung pasir di bahu menambal tanggul dengan tangan mereka sendiri, karena tidak ada yang datang. Dan mereka tidak menunggu pembuktian siapa saya. Mereka hanya bekerja.”

Ia menunjuk tanggul di bawah kakinya.

Lihat selengkapnya