BAB 16
Satu Lembar, Satu Nama
Peta kabupaten itu terbentang di lantai ruang tamu pesantren, ditindih empat gelas teh agar tidak menggulung.
Akmal berlutut di atasnya dengan spidol merah dan tiga warna lain, menandai dua belas kecamatan dengan garis tebal yang rapi. Di sampingnya, Rania menyalin angka-angka ke papan tulis putih yang dipinjam dari ruang kelas, dan di sudut ruangan Fauzan dan Rafi menunggu seperti dua murid yang takut diberi tugas yang terlalu berat.
“Dua ratus ribu pemilih di daftar tetap,” kata Akmal, mengetuk peta dengan ujung spidol. “Sepuluh persennya dua puluh ribu. Tapi KTP yang dikumpulkan selalu ada yang gugur: tidak terbaca, ganda, orangnya sudah pindah, atau menarik dukungan. Jadi targetnya bukan dua puluh ribu.”
Ia menulis angka di papan, dengan huruf yang besar sekali.
“Dua puluh lima ribu.”
“Atas nama pasangan,” tambah Rania cepat, mengetuk papan di samping angka itu. “Setiap formulir memuat dua nama: Raka dan Laila.”
Fauzan menelan ludah.
“Dan tidak boleh menumpuk di satu tempat. Harus tersebar di lebih dari separuh kecamatan, artinya minimal tujuh dari dua belas.” Akmal mengetuk peta lagi. “Martapura dan sekitarnya sudah pasti. Itu basis kita, tapi itu cuma tiga kecamatan. Empat sisanya harus kita cari di tempat yang tidak pernah mendengar nama kita.”
“Berapa lama waktu kita?” tanya Rafi.
“Tiga bulan.”
Hening. Dari luar terdengar anak-anak santri melafalkan kitab di serambi, naik-turun seperti ombak kecil.
“Jadi tiga ribu tiga ratus KTP setiap minggu,” kata Rania, menghitung cepat di kepalanya. “Atau hampir lima ratus sehari.”
“Betul.”
“Itu mustahil,” gumam Fauzan.
“Tidak mustahil.” Akmal mengangkat wajah dari peta dengan senyum yang tak sepenuhnya yakin. “Hanya sangat, sangat tidak mungkin.”
Raka, yang duduk bersandar di dinding, tertawa pelan untuk pertama kali sejak pagi.
* * *
Relawan pertama berkumpul di masjid pada Jumat sore.
Jumlahnya di luar dugaan. Raka berdiri di ambang pintu dan menghitung dengan mata yang melebar: seratus tiga puluh orang, lebih. Para alumni dalam kemeja polos, beberapa masih berdebu dari perjalanan jauh. Wali santri yang membawa anak-anak mereka. Ibu-ibu perajin sasirangan yang datang bergerombol dengan Acil Noor di tengahnya seperti jenderal dengan pasukan. Pemuda-pemuda kampung berjaket ojek. Dua perempuan berseragam perawat yang baru pulang dinas, dan seorang kakek berpeci yang bersikeras duduk di barisan depan dengan tongkatnya.
“Saya bukan tim sukses,” kata Raka, setelah memberi salam. “Dan kalian juga bukan.”
Beberapa orang mengerutkan dahi.
“Tim sukses dibayar untuk menang. Kalian tidak dibayar. Kalian tetangga yang bertanya kepada tetangga lain: 'Apakah Anda percaya orang boleh mencalonkan diri tanpa dibeli?' Hanya itu. Kalau jawabannya ya, minta fotokopi KTP-nya, untuk pasangan kami berdua, Laila dan saya. Kalau jawabannya tidak, ucapkan terima kasih dan pulang.”
Ia mengangkat selembar kertas dan menempelkannya di dinding dengan selotip. Di atasnya, tulisan tangan Rania dengan spidol hitam yang tebal:
TIGA TIDAK.
Tidak membeli. Tidak memaksa. Tidak menjelekkan.
“Tidak membeli: tidak ada uang, tidak ada sembako, tidak ada janji pekerjaan untuk satu lembar KTP pun. Kalau ada yang menawarkan imbalan, tolak, bahkan kalau itu dari orang yang kalian kenal baik.” Ia menatap mereka satu per satu. “Tidak memaksa: kalau orang ragu, biarkan dia ragu. Tidak menjelekkan: kita tidak akan menyebut nama lawan dengan buruk, bahkan di warung kopi, bahkan kalau dia memulainya duluan.”
Seorang pemuda berjaket ojek mengangkat tangan. “Kalau mereka yang menjelekkan kita, Ustadz?”
“Kita tetap tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kita membalas dengan cara yang sama,” kata Raka, “yang menang bukan kita. Yang menang cara itu.”
Tak ada tepuk tangan. Hanya anggukan pelan dari sebagian besar yang hadir, dan satu-dua yang menghela napas, seperti orang yang baru diberi tugas yang lebih berat dari dugaan.
* * *
Rombongan Acil Noor bergerak lebih dulu.
Ia membawa dua puluh perempuan perajin sasirangan, ditambah belasan perajin purun dari bengkel Laila, dengan kain dan anyaman berwarna cerah terlipat di keranjang, berjalan dari satu kampung ke kampung lain di pinggiran Martapura. Mereka tidak mengetuk pintu. Mereka duduk di warung, di beranda, di bawah pohon, di tempat orang-orang biasa berkumpul, membuka kain-kain itu seperti pedagang yang menunggu pembeli, dan mulai bercerita.
Rafi mengikuti mereka dengan tugas mencatat. Ia menceritakan semuanya kepada Raka malam itu, setengah tertawa, setengah takjub.
“Acil Noor itu hebat, Ustadz. Dia tidak langsung bilang apa-apa soal KTP. Dia bicara dulu soal anak, soal harga beras, soal hujan. Satu jam. Baru setelah itu dia bilang, 'Oh ya, menantu saya sedang butuh bantuan.'”
“Dan orangnya mau?”