BAB 17
Dua Tangan, Satu Banua
Sungai itu tidak lagi berwarna sungai.
Itulah yang pertama Raka perhatikan ketika perahu kelotok kecil mereka meninggalkan dermaga sebelum fajar, mesinnya berderak pelan mendorong air yang coklat keruh, hampir seperti teh susu yang diaduk terlalu lama. Di kiri-kanan, hutan karet dan semak-semak rapat berbaris seperti dinding hijau, dan di atasnya kabut tipis menggantung seperti kain yang belum diangkat.
“Dulu airnya bening, Ustadz,” kata Pak Murjani, duduk di buritan dengan satu tangan memegang kemudi. “Waktu saya kecil, kita bisa melihat dasar sungai dari atas perahu. Ikan baung, patin, jelawat, semuanya kelihatan berenang.”
“Sekarang?”
“Sekarang kita harus percaya saja ikan itu masih ada.”
Mereka berenam di perahu itu: Raka, Pak Murjani sebagai penunjuk jalan, Fauzan dengan buku catatan dan tumpukan formulir, Syamsul yang mengenal kawasan itu, Laila yang duduk di tengah dengan keranjang sampel anyaman purun di pangkuannya, dan di haluan, duduk bersila dengan sarung rapi dan peci yang miring, Julak Hamdan.
Julak Hamdan tidak banyak bicara. Acil Noor-lah yang mengaturnya. “Kalau mau ke tempat Datu, Julak harus ikut,” katanya tegas. “Datu itu sepupu Julak. Tidak sopan kalau Raka datang tanpa keluarga.” Julak Hamdan membantah dua kali, lalu menyerah tanpa suara, membawa tasnya sendiri, dan sejak berangkat duduk menghadap ke depan dengan mata menyipit, seperti orang yang belum memutuskan apakah ia sedang menjaga atau menilai.
Menjelang matahari naik, pemandangan di sebelah kanan berubah.
Pepohonan mendadak lenyap. Di tempatnya, sebuah bukit terbuka menganga dengan tanah merah dan hitam, bergaris-garis seperti luka yang tidak pernah dijahit. Truk-truk raksasa merayap di lerengnya bagaikan serangga di atas bangkai. Debu hitam mengepul ke langit, dan bunyi mesin yang jauh bergema sampai ke tengah sungai.
Raka menatap pemandangan itu lama.
“Itu tambangnya Pak Herman,” kata Syamsul pelan. “Atau salah satunya.”
“Dan ini sungai yang sama,” gumam Pak Murjani, tidak menoleh. “Yang menampung semuanya.”
Tak seorang pun menjawab.
* * *
Desa pertama yang mereka kunjungi bernama Muara Hulu, sebuah kampung tepi sungai dengan rumah-rumah panggung berjajar dan keramba ikan yang terapung di depannya.
Mereka disambut dengan hati-hati. Anak-anak berlari mendekat lalu berhenti beberapa langkah dari perahu, menatap Raka dengan mata bulat. Para perempuan mengintip dari jendela. Lelaki-lelaki tua duduk di dermaga kayu dengan jala di pangkuan, menunggu tanpa ekspresi.
“Assalamu'alaikum,” sapa Raka.
“Wa'alaikumussalam.” Seorang lelaki bertubuh liat dengan kulit hangus matahari berdiri, menepuk-nepuk tangannya yang kotor. “Pian ini yang dari Jawa itu?”
“Inggih, saya Raka.”
“Yang nolongi urang Hilir Baru?”
“Itu warga sendiri yang bekerja, Pak. Saya hanya ikut.”
Lelaki itu menatapnya agak lama, lalu terkekeh pendek. “Pian merendah dulu, ya. Duduk. Kaina kita basurat.”
Mereka duduk di dermaga, di atas papan ulin yang licin oleh lumut, dan dalam waktu singkat, belasan nelayan berkumpul. Seseorang membawa teh kental dan wadai bingka yang manis. Seseorang lain menyodorkan sebuah jala yang robek dan menunjukkan lubang-lubangnya.
“Dulu, satu malam saya bisa tiga puluh kilo baung,” kata nelayan yang tadi menyambut, namanya Pak Basri. “Sekarang sepuluh kilo sudah syukur. Kadang tidak ada sama sekali. Ikan-ikan itu pindah, atau mati, kami tidak tahu.”
“Airnya gatal,” tambah seorang ibu dari jendela rumah. “Anak saya biduran setiap habis mandi di sungai.”
“Dan setiap musim hujan,” sambung yang lain, “lumpur dari atas turun, menutup keramba.”
Raka mendengarkan dalam diam. Fauzan mencatat setiap kalimat. Ia tidak menyela, tidak menyodorkan formulir lebih dulu, dan tidak mengangguk berlebihan untuk menyenangkan mereka. Ia hanya mendengar, seperti mendengar anak kecil yang sedang bercerita tentang mimpi buruk.
Setelah semua selesai bicara, hening mengendap di dermaga. Lalu Pak Basri bertanya, pelan, tanpa menantang:
“Ustadz bisa mengembalikan sungai ini?”
Pertanyaan itu menggantung di udara pagi.
Raka tahu betul jawaban yang diharapkan. Jawaban manis, janji-janji. Insya Allah, kami akan berjuang. Kalimat yang akan membuat mereka mengangguk dan memberikan KTP tanpa banyak tanya.
Ia menatap Pak Basri.
“Tidak, Pak. Saya tidak bisa janji mengembalikannya.”
Beberapa orang bergerak gelisah. Julak Hamdan, di ujung dermaga, mengangkat alis tipis.
“Sungai ini rusak oleh kepentingan yang jauh lebih besar dari saya, dan oleh puluhan tahun pembiaran. Kalau saya bilang saya bisa mengembalikannya dalam lima tahun, saya bohong, dan Bapak sudah terlalu sering mendengar kebohongan seperti itu.” Ia menarik napas. “Yang bisa saya janjikan hanya dua. Pertama, saya akan mendengarkan, dan setiap temuan tentang sungai ini akan saya buka, bukan saya simpan. Kedua, saya akan mulai dengan apa yang bisa dikerjakan, bukan dengan apa yang enak didengar.”
Hening lagi. Pak Basri memandangnya lama.
“Pian ini orang aneh,” katanya akhirnya, hampir tersenyum. “Biasanya orang yang minta tanda tangan itu janjinya muluk-muluk.”
“Mungkin karena saya takut Bapak menagihnya.”
Tawa pecah di dermaga, ringan dan jujur. Seseorang menepuk bahu Raka. Pak Basri mengeluarkan KTP dari kantong plastik di balik bajunya, tidak langsung menyerahkannya, hanya memegangnya.
“Saya kasih ini bukan karena Ustadz janji apa-apa,” katanya. “Tapi karena Ustadz tidak janji apa-apa. Itu jarang.”
Satu per satu, para nelayan di dermaga merogoh kantong mereka.
Dan di belakang Raka, tanpa ia sadari, Julak Hamdan menatap punggungnya dengan sesuatu yang bukan lagi penilaian.
* * *
Menjelang tengah hari, mereka tiba di desa lain yang berbeda sekali.
Desa itu menempel pada tepi tambang, seperti anak yang tumbuh di bawah ketiak raksasa. Rumah-rumahnya semi-permanen, atapnya seng berkarat, halamannya bergelimang debu hitam yang menempel di baju jemuran. Di ujung jalan, sebuah portal besi berdiri dengan pos satpam. Di belakangnya, deru mesin menggaung tanpa henti.
Warung tempat mereka berhenti dipenuhi pekerja yang sedang istirahat siang, berseragam oranye kusam dengan helm di meja dan wajah hitam oleh debu. Beberapa langsung mengenali Syamsul dan menyapa dengan akrab.
Seorang lelaki kekar melambai dari pojok. Burhan. Lelaki yang tempo hari ragu-ragu di warung lain, sebelum akhirnya datang sendiri ke pesantren dengan dua temannya.
“Ustadz, sini!” katanya, sambil membuat ruang di bangku panjang.
Raka duduk, dan dalam waktu singkat, sepuluh pekerja mengelilinginya dengan gelas kopi di tangan. Mereka tidak seramah para nelayan, tapi tidak bermusuhan. Hanya waspada, seperti orang yang terbiasa dikecewakan.
“Aku tidak mau basa-basi, Ustadz,” kata Burhan, menunduk memegang gelasnya. “Gaji kami sering telat. Helm kami ganti sendiri kalau rusak. Dua bulan lalu seorang kawan jatuh dari truk dan cuma diberi uang kerahiman. Kalau ada orang yang mau mendengar, kami mau bicara.”