Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #19

BAB 18 Yang Tidak Ditemui

BAB 18

Yang Tidak Ditemui

 

Minggu kedelapan, angka di papan tulis Rania berhenti di 14.380.

Mereka belum sampai, tetapi sudah cukup jauh untuk memberanikan diri menyerahkan gelombang pertama ke penyelenggara pemilihan. Empat ribu dua ratus berkas, dalam kardus-kardus yang disegel dan dicatat satu per satu oleh Rania dengan tulisan tangan rapi. Pemeriksaan administrasi lolos dengan hanya beberapa ratus yang gugur karena foto kabur atau data ganda.

“Bagus,” kata Akmal, menutup map hasilnya. “Tapi itu cuma babak pertama.”

Dan babak kedua, seperti yang ia peringatkan, tidak akan semudah itu.

*    *    *

Pemeriksaan lapangan dimulai pada hari Senin.

Para petugas mendatangi alamat-alamat pendukung satu per satu. Setiap pendukung harus ditemui langsung, ditanya apakah benar ia memberikan dukungan, dan diminta membuktikan identitasnya. Kalau tidak ditemui, ia bisa diberi kesempatan datang sendiri ke kantor desa dalam tiga hari. Kalau tidak datang, dukungannya dicoret.

Fauzan membawa laporan pertama pada Rabu malam. Wajahnya lebih pucat daripada biasanya.

“Empat ratus orang sudah didatangi, Ustadz. Seratus enam puluh tiga yang tidak lolos.”

“Tidak lolos kenapa?” tanya Raka.

“Tidak ditemui. Atau katanya tidak mengaku.”

Akmal mengangkat kepala dari kalkulatornya. “Tidak mengaku?”

“Itu yang aneh.” Fauzan membuka buku catatannya. “Kami menelusuri beberapa. Petugas datang jam sepuluh pagi, jam kerja. Kebanyakan sedang di sawah, di pasar, di tambang. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Dan beberapa dari mereka bilang ada orang lain yang datang lebih dulu, sehari sebelumnya.”

“Siapa?”

“Tidak jelas. Ada yang bilang ketua RT. Ada yang bilang orang dari 'kelompok masyarakat'. Mereka menanyakan hal-hal seperti...” Fauzan menelan ludah, “'Kok mau mendukung orang luar? Apa kamu tidak tahu dia siapa?'”

Rania memejamkan mata sejenak. “Mereka menakut-nakuti sebelum petugas datang.”

“Dan sebagian orang takut,” sambung Akmal pelan, “lalu pura-pura tidak kenal kita.”

Hening menyelimuti ruangan. Raka menatap papan tulis. Angka 14.380 yang tadi terasa seperti pencapaian kini seperti sesuatu yang rapuh, dibuat dari kertas yang bisa tertiup angin kapan saja.

“Berapa yang bisa kita selamatkan?” tanyanya.

“Mereka yang tidak ditemui masih boleh datang sendiri dalam tiga hari. Kalau kita antar mereka satu per satu...” Akmal menghitung cepat. “Mungkin separuhnya bisa kita pulihkan. Tapi itu butuh tenaga yang besar. Setiap orang harus dihubungi, dijemput, dikawal.”

“Kita lakukan.”

“Kak, itu ratusan orang setiap minggu.”

“Kita lakukan,” ulang Raka tenang. “Satu per satu.”

*    *    *

Pagi berikutnya, Raka mengunjungi Acil Ijah.

Ia sendiri yang meminta, tanpa pengiring, hanya dengan sebungkus roti dan satu pertanyaan yang mengganjal di dada. Nama Acil Ijah ada di daftar 163, dan ia ingin mendengar sendiri dari mulutnya.

Rumah itu masih miring, meski sudah ditopang bambu-bambu baru. Di berandanya, perempuan tua itu duduk di kursi plastik dengan termos di sebelahnya, menatap jalan seperti biasa. Begitu melihat Raka, wajahnya berubah cerah.

“Ustadz! Sini, sini.”

“Acil.” Raka menyalaminya dengan hormat. “Saya mau minta maaf kalau mengganggu.”

“Mengganggu apa. Duduk, duduk.”

Ketika ia duduk, matanya menangkap sesuatu di sudut beranda. Sebuah kardus besar, bersegel rapi, bertuliskan Bantuan Sembako, tergeletak begitu saja di sudut, belum dibuka.

Acil Ijah mengikuti arah pandangannya dan mendengus pelan.

“Itu kemarin ada yang bawa. Ketua RT bersama dua orang. Katanya bantuan dari 'pihak yang peduli'.” Ia menyipitkan mata. “Terus mereka bawa kertas. Katanya aku boleh tanda tangan, supaya KTP-ku tidak dipakai lagi. 'Supaya Acil tidak repot', katanya.”

Raka menahan napas. “Acil tanda tangan?”

“Aku bilang, aku sudah tua. Mataku tidak jelas lagi membaca.” Ia terkekeh kecil, tapi sorot matanya dingin. “Aku bilang, aku sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa kalian ambil. Rumahku sudah miring. Anakku sudah mati. Cucuku selamat karena orang yang kalian sebut orang luar. Silakan bawa pulang kardusmu, aku tidak butuh.”

Ia menunjuk kardus itu dengan dagunya.

“Tapi mereka tinggalkan juga. Katanya titipan. Aku tidak sentuh.”

Raka menatap kardus itu dan merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Itu bukan sekadar sembako. Itu pesan yang dikemas rapi: kami tahu di mana kamu tinggal.

“Acil, saya tidak mau Acil sampai kesulitan. Kalau memang...”

“Ustadz.” Acil Ijah menepuk lututnya pelan, matanya lembut. “KTP-ku itu fotonya masih muda, ya. Rambutku masih hitam. Aku mau nama itu ada di sana. Biarkan saja.”

Lihat selengkapnya