Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #20

BAB 19 Tanpa Syarat

BAB 19

Tanpa Syarat

 

Tamu itu datang pada hari Ahad, setelah salat zuhur, dengan mobil sedan yang bersih mengilap dan senyum yang terlalu rapi.

Raka mengenalinya begitu ia turun. Lelaki bersafari dengan tas kulit tebal yang dulu duduk di ruang tunggu dinas dan masuk lebih dulu padahal datang belakangan. Kali ini tidak ada safari. Ia mengenakan koko putih bersih dan peci hitam baru, seperti orang yang sengaja berpakaian untuk dikenang sebagai saleh.

“Assalamu'alaikum, Ustadz Raka.” Ia menjabat tangan Raka dengan kedua tangan. “Saya Anwar. Pak Anwar. Mungkin Ustadz masih ingat, kita pernah berpapasan di kantor dinas.”

“Saya ingat, Pak.”

“Alhamdulillah. Saya ini sahabat pesantren, Ustadz. Sudah lama ingin berkunjung. Tapi baru sekarang diberi kesempatan.”

Ia tersenyum lagi, dan Raka merasakan sesuatu yang aneh. Bukan ketidaksukaan. Hanya kewaspadaan yang halus, seperti nalurinya sendiri yang berdiri tegak di punggung.

“Silakan masuk, Pak. Tapi saya ada permintaan kecil.”

“Apa itu?”

“Kalau Bapak ingin bicara soal apa pun yang berkaitan dengan perjuangan kami, silakan, tapi di ruang tamu, di depan Dewan Pengingat. Lima orang itu hak mendengarnya juga.”

Pak Anwar berkedip sekali. Senyumnya tidak berubah, tapi matanya bergeser cepat.

“Tentu, Ustadz. Tentu.”

*    *    *

Lima orang itu sudah duduk melingkar ketika Pak Anwar masuk. Aisyah, Akmal, Rania dengan buku kas terbuka di pangkuannya, Fauzan, dan Rafi yang mencoba terlihat tenang padahal tangannya tak berhenti memutar tutup botol air mineral. Raka duduk di tengah.

Pak Anwar duduk di seberang mereka, meletakkan tas kulitnya di sampingnya, dan menarik napas panjang seperti orang yang akan menyampaikan kabar baik.

“Ustadz, saya akan langsung. Saya turut prihatin atas fitnah yang beredar tentang ibadah haji Ustadz. Sungguh. Orang-orang itu tidak punya hati.”

“Terima kasih, Pak.”

“Karena itu ada seorang dermawan yang ingin membantu.” Ia merendahkan suara, hampir berbisik. “Beliau tidak mau disebut namanya. Seorang yang sangat mencintai pesantren dan ingin melihat orang-orang saleh maju. Beliau menyiapkan bantuan sebesar lima ratus juta rupiah.”

Rafi tersedak air. Fauzan menatap lantai dengan mata melebar.

“Untuk apa, Pak?” tanya Raka, tenang.

“Untuk perjuangan sosial Ustadz. Untuk apa saja yang dibutuhkan. Tanggul, relawan, transportasi, semuanya.” Pak Anwar membuka tangannya lebar. “Dan ini tanpa syarat, Ustadz. Sama sekali tanpa syarat. Beliau hanya ingin membantu.”

Hening. Dari luar terdengar suara anak-anak santri melantunkan nazam, jauh dan samar.

Akmal berdeham. Suaranya datar, tetapi ada ketajaman di dalamnya yang membuat Pak Anwar sedikit menoleh.

“Bagaimana dana itu akan sampai, Pak?”

“Lewat transfer. Tentu secara hati-hati.” Pak Anwar tersenyum lagi. “Supaya tidak terlalu mencolok, dananya akan dipecah. Atas nama beberapa pihak. Karyawan, kerabat. Kira-kira dua puluh orang.”

“Dua puluh orang,” ulang Akmal pelan.

“Betul.”

“Yang bukan penyumbang sebenarnya.”

“Hanya teknis, Pak Akmal.”

“Teknis.” Akmal bersandar, melipat tangan di dada. “Saya mengerti teknis itu. Ada batas sumbangan per orang, dan caranya melewati batas itu adalah memecah dana ke atas nama orang lain. Namanya bukan teknis. Namanya menyamarkan sumber.”

Pak Anwar mengangkat alis. “Pak Akmal sangat paham.”

“Saya pernah di sisi meja yang Bapak duduki sekarang.”

Hening yang lain menyusul. Pak Anwar mengalihkan pandangannya cepat ke Raka, seolah mencari perlindungan dari seorang yang lebih ramah.

Rania, yang sejak tadi diam, membuka mulut dengan nada yang sangat sopan.

Lihat selengkapnya