BAB 20
Enam Puluh Keluarga
Haji Rusli datang lewat pintu dapur.
Bukan pintu depan, bukan gerbang utama yang biasa ia lalui sambil memberi salam keras-keras dan membawa bungkusan makanan. Ia datang pukul sebelas malam, lewat lorong sempit di belakang asrama santri, dengan jaket hitam yang terlalu tebal untuk cuaca selembap itu dan tanpa kendaraan.
“Saya naik ojek dari dua kampung sebelum sini, Ustadz,” katanya, terengah, ketika Raka membukakan pintu. “Mobil saya tinggal di rumah. Takut diikuti.”
Raka menatap lelaki bertubuh gempal itu. Wajahnya yang biasanya merah dan hangat kini pucat berminyak, dan kedua tangannya yang besar tak berhenti saling meremas.
“Masuk, Haji.”
Mereka duduk di dapur umum pesantren, di bangku panjang yang biasa dipakai para santri makan, di bawah lampu neon yang berkedip malas. Aisyah, yang terbangun karena suara langkah, menyeduh teh panas tanpa banyak tanya dan meletakkannya di depan Haji Rusli, lalu duduk di ujung bangku dengan tenang.
Haji Rusli tidak menyentuh tehnya. Ia memandangi permukaan meja yang tergores, lama, dan ketika akhirnya bicara, suaranya serak.
“Ustadz, saya orang yang pengecut.”
“Haji...”
“Biarkan saya selesai dulu.” Ia mengangkat tangan. “Kalau tidak, saya tidak akan sanggup.”
Raka mengangguk.
“Armada truk saya,” kata Haji Rusli perlahan, “enam puluh dua unit. Semuanya mengangkut batu bara. Satu perusahaan saja pelanggan saya. Sepuluh tahun. Dari satu truk tua, sampai sekarang.”
Ia menarik napas dalam.
“Perusahaan itu milik Pak Herman.”
Ruangan itu hening. Di luar, kodok-kodok berteriak setelah hujan sore.
“Tadi pagi, dua orang datang ke kantor saya. Sopan sekali. Mereka bilang ada 'audit mendadak' terhadap seluruh kontrak pengangkutan. Truk-truk saya ditahan di gerbang tambang sejak subuh. Enam puluh dua truk, Ustadz. Tidak boleh masuk, tidak boleh keluar.” Suaranya mulai bergetar. “Sopir-sopir saya menelepon satu per satu. Tanya apakah mereka masih bekerja besok.”
“Lalu?”
“Salah satu dari mereka berbisik kepada saya, tanpa menyebut siapa pun.” Haji Rusli menelan ludah. “'Haji, kontrak ini sangat bisa dipercepat. Asal Haji tidak lagi terlihat dekat dengan pesantren Darul Hikmah.'”
Aisyah menutup bibirnya dengan jari.
“Jadi saya datang untuk bilang...” Haji Rusli akhirnya mengangkat wajah, dan Raka melihat matanya yang merah. “Saya tidak bisa menyumbang lagi, Ustadz. Saya tidak bisa datang lagi. Saya harus mundur.”
Kata-kata itu jatuh ke meja seperti batu.
“Enam puluh dua truk berarti enam puluh dua sopir, belum kernet, belum bengkel, belum istri dan anak-anak mereka. Enam puluh keluarga lebih.” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Saya yang memberi mereka makan. Saya tidak bisa membiarkan mereka lapar demi saya merasa benar.”
Ia terisak.
Tangan lelaki sebesar itu bergetar di depan wajahnya, dan Raka menyadari bahwa ia baru melihat sesuatu yang jarang disaksikan: seorang lelaki yang terbiasa menjadi kuat, menangis karena ia tidak bisa terus kuat.
“Maafkan saya, Ustadz. Maafkan saya.”
* * *
Raka tidak langsung menjawab.
Ia bisa merasakan Aisyah menatapnya dari ujung bangku, dan ia tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam dirinya sendiri. Sebagian kecil hatinya, sangat kecil, sangat licik, berbisik bahwa kehilangan Haji Rusli berarti kehilangan salah satu pendukung terbesar. Bahwa ia berhak kecewa. Bahwa ia boleh membiarkan lelaki itu merasa bersalah sedikit lebih lama.
Ia mendengarkan bisikan itu, dan menolaknya dengan tenang.
Ia bangkit dari tempatnya dan duduk di samping Haji Rusli, merangkul bahunya yang besar dan bergetar.
“Haji.”
“Saya malu, Ustadz...”
“Dengarkan saya sebentar.” Suaranya pelan tapi mantap. “Haji tidak pengecut. Haji sedang menjaga enam puluh keluarga. Itu bukan pengecut. Itu khidmah.”
Haji Rusli mengangkat wajah, bingung.
“Saya tidak punya hak menuntut Haji mengorbankan mereka untuk tanggul saya. Tidak ada kebenaran yang boleh dibangun di atas perut kosong orang lain.” Raka tersenyum samar. “Haji tidak perlu menyumbang lagi. Haji tidak perlu datang ke rapat-rapat. Haji bahkan tidak perlu berpura-pura mendukung saya.”
“Tapi Ustadz...”
“Pulanglah, jaga sopir-sopir Haji. Itu tugas yang lebih besar daripada kampanye apa pun.”
Air mata Haji Rusli mengalir deras ke pipinya yang gemuk. Ia mengusapnya dengan punggung tangan seperti anak kecil.
“Ustadz tidak marah?”
“Saya tidak punya alasan untuk marah.” Raka menggeleng. “Haji sudah membangun rumah warga Hilir Baru dengan tangan Haji sendiri. Itu sudah tercatat, bukan di buku kas saya, tapi di buku yang tidak bisa ditutup oleh siapa pun.”
Haji Rusli menunduk dalam-dalam dan menekan dahinya ke pundak Raka, bahunya berguncang. Aisyah bangkit pelan-pelan, mengisi ulang tehnya, dan menaruhnya kembali di depan lelaki itu tanpa berkata apa-apa.
Beberapa saat kemudian, setelah tangisnya reda, Haji Rusli menyeka wajahnya dengan ujung jaket dan menghela napas panjang.