BAB 21
Daftar Hadir
“Kita datang,” kata Raka.
Dewan Pengingat menatapnya dengan berbagai ekspresi. Akmal mengerutkan dahi, Rania menggigit bibir, Fauzan tampak ragu, dan Aisyah, di ujung meja, menyipitkan mata dengan cara yang menandakan ia sedang menimbang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar undangan.
“Kak, itu acara Haji Salman,” kata Akmal. “Semua tamu hanya akan menjadi latar fotonya.”
“Aku diundang.”
“Secara teknis, ya. Lewat staf. Tapi itu cuma formalitas.”
“Justru karena itu.” Raka menyentuh poster hijau-emas yang tercetak di meja. “Kalau aku tidak datang, ceritanya jadi 'dia menghindar'. Kalau aku datang tapi hanya duduk dan diam, ceritanya hanya 'dia hadir'. Itu hal yang paling sulit dimanipulasi.”
“Dan kalau mereka memanggilmu ke depan?”
“Aku berdiri, mengangguk, dan duduk lagi.”
Akmal menghela napas. “Aku hanya ingin Kakak tahu, aula itu kandang dia.”
“Aku tahu.”
“Fauzan ikut. Dan tidak ada foto bersama.”
“Setuju.”
Aisyah menyentuh lengan Raka sebentar. “Dengarkan lebih banyak daripada melihat,” katanya pelan. “Yang paling jujur dari sebuah acara biasanya bukan pidatonya.”
* * *
Sepuluh hari sebelum Jumat itu, Fauzan dan Rafi sudah membawa laporan yang membuat ruang tamu pesantren sunyi.
Mereka menyusun daftar di kertas besar yang ditempel di dinding. Bukan daftar dukungan. Daftar kunjungan.
Pesantren Nurul Yatama: atap baru aula (Rp 140 juta). Pesantren Raudhatul Ilmi: sumur bor dan menara air. Pondok Miftahul Falah: dua ambulans desa. Pesantren Al-Barakah: beasiswa untuk 40 santri yatim.
Daftar itu panjang. Delapan belas baris. Delapan belas pesantren di tiga kecamatan.
“Dalam dua pekan, Ustadz,” kata Rafi, suaranya hampir berbisik. “Haji Salman berkeliling sendiri. Tidak lewat wakil. Ia datang, duduk bersama tuan guru, minum teh, mendengar keluhan mereka. Lalu beberapa hari kemudian, bantuan datang. Tidak diminta, tidak ditagih.”
“Tidak ada syarat?”
“Tidak ada yang bilang ada syarat.” Rafi menggaruk kepalanya. “Itu yang membuat rumit. Semua yang diberi mengatakan Haji Salman orang baik.”
Fauzan menambahkan dengan nada setengah iri, setengah getir, “Dan nasi kotak di acara-acara itu, Ustadz, ayam goreng, bukan telur.”
Beberapa orang tertawa kecil, tapi tawa itu cepat hilang.
Raka menatap daftar itu lama. Ia mengenal beberapa nama pesantren di sana. Ia tahu Nurul Yatama, pesantren kecil di pinggir jalan raya yang menampung anak-anak yatim dan hampir roboh dua musim hujan lalu. Ia tahu Tuan Guru Zuhri, pengasuhnya, lelaki tujuh puluh tahun yang lemah lembut dan bersahaja, yang pernah memberinya sehelai sajadah ketika Raka pertama kali tiba di Martapura dengan satu koper.
Atap yang bocor di sana kini sudah diganti. Itu bukan dosa. Itu kebaikan yang nyata.
Dan itu justru yang membuat jantung Raka mengerut.
* * *
Aula yayasan itu terang benderang ketika mereka tiba.
Ribuan kursi berjajar rapi dalam barisan panjang, ratusan sorban putih dan peci hitam duduk melingkar menghadap panggung besar berlapis kain hijau. Spanduk raksasa terpasang di belakangnya: Silaturahmi Akbar Ulama dan Umaro. Bersama Menjaga Banua. Di sudut ruangan, dua kru televisi lokal sibuk mengatur kamera, dan di pelataran luar, di bawah tenda putih, terparkir tiga ambulans baru dengan pita merah melilit kapnya.
Raka dan Fauzan duduk di barisan belakang, dekat pintu samping. Beberapa orang yang mengenalinya menoleh, mengangguk sopan. Satu dua mendekat dan menjabat tangan. Seorang tuan guru tua melambai dari jauh.
“Ustadz, mereka menatap kita,” bisik Fauzan.
“Biarkan.”
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci. Lalu pembacaan selawat bersama yang menggema di dinding aula. Lalu kata sambutan dari beberapa tokoh yang pidatonya panjang dan penuh pujian. Dan akhirnya, setelah lebih dari satu jam, MC mengumumkan dengan suara bergetar:
“Kita persilakan, yang kita hormati dan kita muliakan, Al-Mukarram Haji Salman.”
Tepuk tangan menyambar seperti ombak.
Salman naik ke panggung dengan langkah pelan, sarung tenun sederhana dan peci hitam pudar yang sama seperti hari pertama Raka bertemu. Ia tidak berlari kecil dan tidak melambai. Ia hanya menunduk dalam-dalam di depan mimbar, menempelkan tangan di dada, dan baru setelah beberapa detik mengangkat wajah.