Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #23

BAB 22 Peta Biru yang Belum Dibuka

BAB 22

Peta Biru yang Belum Dibuka

Pesantren Nurul Yatama pagi itu sepi dengan cara yang menyesakkan.

Anak-anak yatim duduk berbaris di serambi dengan kitab di pangkuan, tapi tak seorang pun melantunkan apa-apa. Beberapa menatap lantai. Beberapa saling berbisik. Di dinding aula yang atapnya baru, cat putih bekas tukang masih berbau tajam, dan di bawah atap itulah, di atas sajadah tua di sudut ruangan, Tuan Guru Zuhri duduk dengan punggung membungkuk, memegang selembar kertas yang sudah lecek.

Raka berdiri di ambang pintu, tak berani langsung masuk.

“Tuan Guru.”

Lelaki tua itu menoleh pelan. Wajahnya tampak lebih tua dari kemarin, kantung matanya dalam, dan jari-jarinya gemetar di atas kertas.

“Nak Raka. Masuk. Duduk.”

Raka duduk bersila di depannya. Kertas itu adalah foto dari poster, dicetak dari ponsel seorang santri dan dilipat berkali-kali, hingga garis lipatannya memutih. Di tengahnya, wajah Salman tersenyum, dan di salah satu lingkaran kecil, wajah Tuan Guru Zuhri.

“Santri-santri saya yang pertama melihat,” kata lelaki tua itu pelan. “Anak yatim, Nak. Mereka bertanya. 'Abah, Abah dukung Haji Salman?' Saya tidak bisa menjawab. Saya bilang, 'Abah hanya tanda tangan.' Dan mereka bilang, 'Tanda tangan untuk apa, Bah?' Dan saya tidak tahu.”

Ia menutup mata sebentar.

“Seumur hidup saya tidak pernah menandatangani sesuatu tanpa membacanya. Dan kali ini...” Suaranya pecah. “Kali ini saya tidak membaca karena merasa tidak enak. Orang yang baru memperbaiki atapku menyodorkan kertas, dan aku merasa membaca itu tidak sopan.”

“Bukan salah Tuan Guru.”

“Salahku sepenuhnya. Itu yang membuatnya lebih pahit.”

Raka mengambil napas.

“Tuan Guru, saya ingin tanya satu hal. Apa yang ingin Tuan Guru lakukan?”

Lelaki tua itu membuka matanya perlahan. Sesaat Raka melihat sesuatu yang bukan lelah, bukan sedih, tapi semacam keteguhan yang tiba-tiba menyala di balik abu.

“Saya ingin menjelaskan kepada santri-santri saya apa yang sebenarnya terjadi. Dan kepada siapa pun yang bertanya.”

“Itu hak Tuan Guru.”

“Tapi apakah itu akan membantumu, atau menyakitimu?”

Raka tersenyum tipis, untuk pertama kali pagi itu.

“Tuan Guru, saya tidak mau Tuan Guru bicara demi saya. Saya tidak mau nama Tuan Guru menjadi senjata di pihak mana pun. Kalau Tuan Guru bicara, bicaralah untuk anak-anak yatim itu, karena mereka berhak tahu kebenaran dari mulut gurunya.”

Tuan Guru Zuhri menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan.

“Kamu ini aneh, Nak. Orang lain akan meminta saya berdiri bersamanya.”

“Mungkin karena saya sudah belajar, Tuan Guru, bahwa pertolongan yang diminta dengan cara mengorbankan orang lain bukan pertolongan. Itu transaksi.”

Hari Jumat itu, selepas salat, Tuan Guru Zuhri berdiri di mimbar kecil pesantrennya dan membacakan selembar pernyataan, dengan suara yang bergetar tetapi tak terputus. Raka tidak hadir. Ia sengaja tidak datang. Tetapi Fauzan hadir di baris belakang dan mencatat setiap katanya.

Saya menandatangani daftar hadir penerima bantuan. Saya tidak menandatangani dukungan untuk siapa pun. Saya orang tua yang hanya ingin mendoakan semua orang. Mohon foto saya diturunkan dari poster mana pun yang memuat nama saya.

Hanya tiga kalimat. Tetapi satu desa mendengarnya, dan sebelum sore, seluruh kabupaten.

*    *    *

Dalam seminggu, majelis para ulama di kabupaten itu menjadi tempat yang tidak ramah.

Raka tidak melihatnya sendiri, tapi ia mendengarnya dari mana-mana: dari pedagang di pasar, dari para alumni, dari Julak Hamdan yang pulang dari kunjungannya ke hulu dengan wajah murung. Poster itu, seperti selebaran haji tempo hari, telah menjadi retakan baru. Hanya saja kali ini retakan itu menjalar ke dalam, menembus lapisan yang selama ini dianggap paling kokoh.

Fauzan memeriksa daftar empat puluh tujuh nama itu satu per satu, menelepon dan bertamu. Sebelas orang mengaku tidak pernah memberi dukungan secara eksplisit. Delapan belas membenarkan bahwa mereka mendukung. Sisanya menolak menjawab.

“Di warung kopi dekat masjid besar kemarin, ada tuan guru yang berdebat sampai ditengahi,” lapor Rafi pada Raka. “Satu bilang, 'Daftar hadir itu prosedur biasa, yang tidak membaca itu salahnya sendiri.' Yang lain bilang, 'Ini jebakan, ulama dijadikan alat.' Dan yang lain lagi diam, minum kopi, pulang.”

“Yang bilang prosedur biasa itu siapa?”

“Tuan Guru Basuni.”

Raka mengenalnya. Lelaki enam puluhan, bertubuh tegap, bersuara lantang, pengasuh pesantren besar di kecamatan sebelah. Salah satu yang pertama menerima bantuan sumur bor dari Salman.

“Dia tidak jahat,” kata Raka pelan. “Dia hanya yakin.”

“Yakin pada apa?”

“Pada bahwa kebaikan yang ia terima tidak mungkin punya maksud lain.” Raka menggeleng. “Dan itu bukan kebodohan. Kadang itu cara orang baik menjaga hatinya.”

*    *    *

Majelis itu akhirnya digelar di Darul Hikmah, hari Kamis sore.

Bukan atas undangan Raka. Ustadz Maimun yang mengundang, sebagai tuan rumah sementara selama Raka sibuk dengan kampanye, dan Raka tidak berhak menolak. Para tuan guru datang berurutan, mobil-mobil parkir berjajar di halaman, jubah dan sorban putih memenuhi serambi.

Raka hanya duduk di sudut aula, di belakang, dengan permintaan Maimun yang pelan dan agak canggung: “Ustadz, mohon cukup mendengarkan. Ini majelis ulama.”

Ia mengangguk.

Delapan belas tuan guru hadir. Tuan Guru Basuni memimpin barisan kanan, dengan wajah tegas dan suara berat. Tuan Guru Zuhri duduk di ujung kiri, kecil dan tenang dengan tongkatnya. Di tengah, seorang lelaki gempal bernama Tuan Guru Anang, yang terkenal humoris dan netral, mengipas wajahnya dengan peci.

Maimun membuka dengan salam dan doa, lalu mempersilakan berbicara.

“Saudara-saudara.” Tuan Guru Basuni berdiri lebih dulu. “Saya prihatin dengan apa yang terjadi. Seorang tuan guru yang dihormati dibuat menangis oleh isu murahan. Padahal bantuan yang diberikan itu murni. Haji Salman tidak pernah meminta apa-apa.”

Lihat selengkapnya