BAB 23
Satu Saf, Dua Barisan
Grup itu bernama Alumni Darul Hikmah Bersatu, dan pada suatu hari Selasa, nama itu terdengar seperti lelucon.
Fauzan membacakannya untuk Raka di ruang tamu, dengan layar ponsel yang tak berhenti bergulir. Enam ratus dua belas anggota. Mantan santri dari angkatan pertama sampai angkatan terakhir, dari tukang bangunan sampai dosen, dari petani sampai pengusaha. Dulu isinya kabar duka, ajakan reuni, dan foto-foto kenangan di serambi. Sekarang isinya sesuatu yang lain.
Orang luar jangan kuasai pesantren kita.
Siapa yang bilang pesantren dikuasai? Kamu pernah dengar Ustadz Raka minta apa pun dari kita?
Dia menolak lima ratus juta? Sok suci.
Antum jangan menghina guru kita.
Guru kita? Guru kita yang mana? Yang sepuluh tahun lalu datang dari Jawa?
Kang, tolong jaga adab.
Adab apanya? Pesantren dipakai kampanye, kalian diam saja!
Pesan-pesan itu bertumpuk, saling menimpa, semakin pendek dan semakin tajam. Beberapa memakai kata yang tak pernah Raka dengar diucapkan di serambi pesantrennya: munafik, penjilat, hizbiyah, pengkhianat guru. Seorang alumnus yang dulu mencuci piring bersama Fauzan menulis, hanya dengan satu kalimat: Aku keluar dari grup ini. Tujuh orang lain mengikutinya dalam sepuluh menit.
Rafi duduk di lantai dengan kepala menunduk. Dialah yang paling terpukul. Ia alumnus termuda dari angkatan yang baru lulus, dan kakak-kakak kelas yang ia hormati kini saling memaki di layar ponselnya.
“Aku tidak mengerti, Ustadz,” katanya, hampir menangis. “Kami dulu makan sepiring berempat. Sekarang kami saling...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Raka menatap layar itu lama. Ia tidak membalas satu pun pesan. Ia tidak membela diri. Tapi dadanya terasa seperti ditekan batu, bukan karena hinaan yang ditujukan padanya, melainkan karena orang-orang yang dulu duduk di barisan yang sama kini saling membenci atas namanya.
“Ada yang mengelola grup ini?” tanyanya akhirnya.
“Kang Hasan, Ustadz. Alumni angkatan tujuh. Pengusaha bahan bangunan. Dia yang paling aktif.” Fauzan menelan ludah. “Dan dia pendukung Haji Salman.”
“Dia jahat?”
“Tidak.” Fauzan menggeleng. “Itu yang membuatnya susah. Dia orang baik. Dia yang mengongkosi dua belas santri yatim kuliah. Dia hanya... yakin.”
Raka mengangguk pelan. Ia sudah bertemu keyakinan seperti itu di wajah Tuan Guru Basuni, dan ia tahu betul bahwa keyakinan yang tulus adalah lawan yang paling sulit dihadapi.
* * *
Haul tahunan itu jatuh pada hari Sabtu.
Setiap tahun, pada bulan yang sama, Darul Hikmah mengadakan peringatan wafatnya pendiri pesantren, seorang guru besar yang dimakamkan di kompleks belakang masjid. Ratusan alumni dari seluruh penjuru pulang untuk berziarah, membaca yasin, makan bersama, dan duduk berjajar di serambi seperti dulu. Tidak ada undangan. Pulang saja sudah cukup.
“Kak, ini terlalu berbahaya.” Akmal berdiri di pintu ruang kerja dengan tangan terlipat. “Semua orang yang berseteru di grup itu akan berada di satu halaman yang sama. Dengan makanan gratis dan lima ratus pasang telinga.”
“Mereka alumni. Ini rumah mereka.”
“Justru karena itu.”
“Tidak ada yang berhak melarang seorang santri pulang ke rumahnya.” Raka menatapnya tenang. “Kalau kita membatalkan haul karena takut mereka bertengkar, kita sudah kalah. Bukan melawan Haji Salman. Melawan sesuatu yang lebih penting.”
Akmal menghela napas panjang. “Aturannya?”
“Tidak ada spanduk. Tidak ada stiker, kaus, atau atribut kampanye mana pun. Tidak ada pidato soal calon. Tidak ada kamera selain milik kita.” Raka mengangguk pada Fauzan. “Dan Ustadz Maimun yang memimpin acara, bukan saya. Saya hanya tamu.”
“Dan kalau mereka melanggar?”
“Maka kita ingatkan dengan baik.”
Aisyah, yang mendengarkan dari kursi di pojok, menambahkan pelan, “Dan siapkan es batu.”
Mereka menatapnya. Aisyah mengangkat bahu. “Kalau ada orang ribut, selalu ada yang bengkak.”
* * *
Mereka datang sejak subuh.
Mobil-mobil berjajar sepanjang jalan, sepeda motor penuh sampai ke gerbang, dan di halaman pesantren, ratusan lelaki dan perempuan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling memeluk, saling menunjuk kepala yang mulai botak atau perut yang mulai membuncit. Tawa terdengar di mana-mana, tapi Raka mendengar sesuatu yang lain di bawah tawa itu: kewaspadaan. Seperti orang yang berjalan di atas es tipis.
Ada yang memakai kerudung sasirangan di bahu. Ada yang menyelipkan sebuah gantungan kunci hijau-emas di saku kemeja. Mereka saling menghindar dengan cara yang sopan, dan Raka mengerti bahwa halaman ini sudah terbagi tanpa ada yang mengatakannya.
Ustadz Maimun memimpin pembacaan yasin dan tahlil dengan suara tenang. Wajahnya letih, matanya merah, dan sejak pagi ia tidak banyak bicara. Raka tidak menanyakan keputusannya. Seminggu yang ia janjikan jatuh persis hari ini. Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Sampai menjelang asar, semuanya masih baik-baik saja.
* * *
Kejadian itu bermula dari hal yang sepele.
Seorang anak kecil menumpahkan teh di tikar, dan dua alumnus yang berebut mengambil kain pel saling bersenggolan. Satu berkata maaf. Yang lain berkata sama-sama. Dan seseorang di dekat mereka, entah siapa, berbisik cukup keras untuk didengar:
“Tipikal. Orang pendatang memang tidak biasa antre.”
Itu bukan tentang mereka. Itu tentang sesuatu yang lain. Tapi seorang lelaki bertubuh tegap di sisi kanan halaman menoleh dengan wajah mengeras.
Raka mengenali Syamsul, alumnus yang dulu memimpin relawan KTP di kawasan tambang, yang tidak pernah lupa bahwa seorang lelaki berhelm di warung kopi pernah ragu-ragu menatap formulir.
“Kamu bilang apa?”
“Saya tidak bilang apa-apa.”
“Kamu bilang pendatang.”
“Saya bilang...” Lelaki di depannya, yang berbaju koko mahal dan memakai peci putih rapi, mengangkat dagu. Kang Hasan. “Saya bilang yang saya lihat. Pesantren ini dulu tenang. Sepuluh tahun terakhir sejak Ustadz Raka datang, tiap musim ada saja urusan. Banjir, tanggul, kampanye. Kita ini alumni, bukan pasukan.”
“Ustadz Raka tidak pernah menyuruh siapa pun ikut kampanye!”
“Tapi mereka datang membawa gantungan kunci biru di tas.” Kang Hasan menunjuk tas seseorang di belakang Syamsul. “Itu bukan kampanye?”
“Itu kain sasirangan! Kerajinan perempuan kampung!”
“Tapi dipakai untuk...”
“Untuk apa? Untuk apa, Kang? Kamu sendiri memakai gantungan kunci hijau di sakumu!”
Beberapa orang berhenti makan. Piring-piring terangkat setengah, sendok tertahan di udara. Dari serambi, seseorang berseru, “Sudah, sudah!” Tapi suara itu tenggelam.
“Kamu orang yang makan dari tangan Ustadz Raka!” Kang Hasan mulai mengangkat suara. “Kamu sudah lupa siapa yang mendirikan pesantren ini? Guru besar kita bukan orang Jawa yang datang sepuluh tahun lalu!”
“Dan Bapakmu numpang ngaji di sini waktu dia miskin!”