BAB 24
Tanah yang Dikatakan Direbut
Mereka datang pada hari Rabu, sebelum matahari sempat naik tinggi, dengan satu spanduk dan seratus pasang kaki.
Raka sedang menyiram tanaman di halaman depan ketika ia mendengar gemuruh dari arah jalan. Bukan gemuruh marah. Lebih seperti gumaman banyak orang yang berjalan serentak, diiringi derap sandal dan sesekali suara pengeras suara tangan yang berdesis.
Ia meletakkan selang dan berjalan ke gerbang.
Di sana, di seberang jalan, berdiri kerumunan sekitar empat puluh orang. Sebagian lelaki tua bersarung dan berpeci, beberapa ibu dengan anak-anak di gendongan, dan di barisan depan, sebuah spanduk putih yang dicat tangan dengan huruf merah besar-besar.
KEMBALIKAN TANAH WAKAF KE ANAK BANUA!
TANAH BANJAR JANGAN DIKUASAI PENDATANG!
Raka berdiri diam di gerbang. Di sampingnya, Fauzan datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat.
“Ustadz, mereka sudah di sini sejak subuh. Satu orang dari kelompok itu bilang akan menunggu sampai Ustadz keluar.”
“Siapa yang memimpin?”
“Seorang bapak tua. Namanya Haji Basran. Katanya ahli waris pewakaf tanah pesantren.”
Raka mengangguk pelan. “Tolong siapkan teh. Banyak. Dan kursi.”
“Ustadz, ini demo.”
“Ini tamu.”
Fauzan menatapnya tak percaya, lalu berlari ke dapur.
* * *
Raka menyeberang jalan sendirian, tanpa pengiring.
Beberapa orang mundur selangkah ketika ia mendekat. Pengeras suara berdesis dan diam. Seorang lelaki tua dengan janggut putih dan sorban lusuh melangkah ke depan, bersandar pada tongkat kayu, wajahnya keras tapi matanya basah.
“Haji Basran?”
“Ya.” Suaranya serak. “Kamu yang bernama Raka.”
“Inggih. Silakan masuk, Haji. Kami sudah menyiapkan teh. Kalau Bapak-Ibu berkenan.”
Haji Basran terdiam. Ia menoleh ke kerumunan di belakangnya, lalu kembali menatap Raka, seakan sedang mencari tanda-tanda sebuah jebakan.
“Kami datang bukan untuk makan.”
“Saya tahu. Tapi di rumah ini, siapa pun yang datang pagi-pagi adalah tamu, apa pun urusannya.” Raka tersenyum tipis. “Silakan, Haji. Kalau Bapak ingin bicara soal tanah itu, mari kita bicarakan di tempat yang teduh.”
Ada sesuatu yang bergerak di wajah lelaki tua itu, tapi ia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil, dan perlahan melangkah menyeberang jalan. Beberapa orang mengikutinya, sebagian ragu. Sebagian lagi berdiri di tempat, menunggu aba-aba yang tak kunjung datang.
Raka mengamati mereka sambil berjalan, dan sesuatu menarik perhatiannya. Belasan pemuda di barisan belakang mengenakan ikat kepala merah yang sama, masih licin dan berbau cetakan baru. Mereka tidak menatap Raka. Mereka menatap ponsel masing-masing, atau Hendra, wartawan yang sudah berdiri di seberang jalan dengan kamera.
“Mereka bukan dari sini, Ustadz.”
Pak Murjani sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan, dengan jala di bahu dan sandal jepit yang basah. Suaranya hampir berbisik.
“Saya kenal hampir semua orang di kecamatan ini. Anak-anak muda yang pakai ikat kepala itu, tidak ada satu pun yang saya kenal.”
Raka menoleh padanya. “Orang luar?”
“Orang luar.” Pak Murjani menyeringai getir. “Berteriak soal orang luar.”
* * *
Di halaman pesantren, di bawah pohon mangga yang rindang, Rania menggelar tikar dan kursi lipat. Para santri membawa nampan teh dan wadai. Beberapa ibu perajin sasirangan yang kebetulan datang mengantar pesanan ikut menyiapkan makanan tanpa diminta.
Haji Basran duduk di kursi paling depan, bersandar pada tongkatnya, menolak teh dua kali sebelum akhirnya menerimanya dengan kedua tangan gemetar.
“Haji,” kata Raka pelan, duduk di tikar di depannya agar lebih rendah dari lelaki itu. “Saya ingin mendengar dulu. Apa yang Bapak khawatirkan?”
Haji Basran menatap cangkirnya lama.
“Tanah ini,” katanya akhirnya, “tanah kakekku.”
“Maksud Bapak, tanah wakaf pesantren?”
“Tanah tiga hektare di belakang masjid itu. Kakekku, Haji Hasan, yang mewakafkannya tahun delapan puluhan, kepada Guru Besar yang sekarang dimakamkan di sana.” Suaranya bergetar. “Aku ini cucunya. Aku tidak punya apa-apa lagi dari kakekku selain nama itu. Dan sekarang aku mendengar tanah itu sudah berpindah nama.”
“Berpindah nama?”
“Atas namamu. Atas nama Ustadz Raka.” Ia menatap Raka lurus. “Itu yang dikatakan orang.”
Hening.
“Siapa yang mengatakan?”
“Banyak orang.” Haji Basran mengusap janggutnya, jari-jarinya bergetar. “Ada yang bilang sudah dibalik nama. Ada yang bilang akan dijual. Ada yang bilang tanah wakaf Banjar sedang dikuasai pendatang satu per satu. Dari Hilir Baru, sekarang Darul Hikmah.”
Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap lelaki tua itu dan mengenali sesuatu di balik matanya yang basah: bukan keserakahan, bukan permusuhan, tapi ketakutan yang jauh lebih tua.
“Bapak takut tanah itu hilang.”
“Kami sudah kehilangan banyak, Nak.” Suara Haji Basran pecah. “Tanah di hulu dibeli tambang, harganya murah, ditekan sampai orang menyerah. Kebun karet ayahku sekarang jadi lubang. Rawa tempat aku memancing waktu kecil kering. Setiap tahun ada saja yang dibeli, ada saja yang hilang, dan kami hanya bisa melihat.” Ia menunduk. “Dan sekarang aku mendengar tanah wakaf kakekku, tempat terakhir yang tidak boleh dijual...”
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Raka memejamkan mata sejenak. Ia mengerti, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa fitnah itu tidak diciptakan untuk menipu orang jahat. Fitnah itu dirancang untuk memanfaatkan luka orang baik.
“Haji,” katanya akhirnya. “Boleh saya tunjukkan sesuatu?”
* * *