Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #26

BAB 25 Amplop yang Dulu

BAB 25

Amplop yang Dulu

Rafi menemukannya pukul enam pagi, dan wajahnya sudah menjelaskan semuanya sebelum ia membuka mulut.

Ia berlari memasuki ruang tamu pesantren dengan ponsel di tangan dan napas terputus-putus, seperti anak yang membawa kabar dari tempat kecelakaan. Raka, yang sedang menyeruput teh pertamanya, meletakkan cangkir dan menunggu.

“Ustadz. Lihat ini.”

Layar ponsel itu menampilkan sebuah gambar yang sudah dibagikan ribuan kali. Latar hitam, huruf merah, foto-foto di bawahnya dengan lingkaran kuning mengelilingi satu wajah.

OPERATOR POLITIK UANG DI BALIK “CALON BERSIH”!

Buku Kas Terbuka? Tangan yang memegang kuncinya bukan tangan bersih.

Foto pertama menampilkan seorang lelaki muda di depan sebuah balai desa, menyerahkan amplop cokelat kepada seorang lelaki lain yang memakai peci dan kemeja batik. Tangan keduanya bersalaman, amplop terselip di antara telapak. Foto kedua memperlihatkan lelaki muda yang sama di sebuah warung kopi, sedang menghitung lembaran uang di atas meja. Foto ketiga, kliping berita yang digunting dari koran lokal: Kepala Desa Ditahan Terkait Dugaan Politik Uang.

Wajah di foto itu lebih muda, lebih kurus, dengan rambut berminyak dan senyum yang terlalu cerdik. Tapi Raka mengenalinya dalam sedetik.

Akmal.

Di bawahnya, teks berantai yang tampak ditulis oleh seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan:

Delapan tahun lalu, ia dikenal sebagai “tim lapangan” seorang calon yang menang. Puluhan kepala desa mendapat “uang transport”. Satu di antaranya masuk penjara. Dia sendiri tidak pernah diproses. Sekarang ia duduk di sebelah orang yang mengaku anti politik uang. Pertanyaan kami sederhana: Siapa yang sebenarnya mengendalikan buku kas?

Raka membacanya sekali, tanpa menggeser layar.

“Berapa kali dibagikan?”

“Hampir sepuluh ribu, Ustadz. Sejak semalam.”

“Akmal sudah tahu?”

Rafi menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Saya belum berani bilang.”

*    *    *

Akmal tidak ada di ruang kerjanya.

Raka menemukannya di gudang belakang, di antara kardus-kardus bekas KTP dan tumpukan spanduk yang tak terpakai. Ia berdiri membelakangi pintu, memasukkan map-map ke dalam sebuah tas kain dengan gerakan yang terlalu rapi, terlalu tenang, seperti orang yang sudah menyiapkan ini sejak lama.

“Kak.”

“Aku sudah lihat.” Ia tidak menoleh. “Rania mengirimkannya jam lima pagi. Aku baca dua kali. Kemudian aku mulai berkemas.”

“Kenapa?”

“Karena itu benar.”

Hening. Dari kejauhan terdengar suara santri membaca kitab pagi.

“Seluruhnya benar?” tanya Raka lembut.

Akmal menutup tas kainnya perlahan. Ia akhirnya berbalik, dan Raka terkejut melihat wajahnya: tidak marah, tidak panik, hanya kosong dan letih, seperti orang yang menunggu dipanggil ke ruang sidang yang sudah ia ketahui putusannya.

“Duduk, Kak. Biar kuceritakan. Seharusnya kuceritakan lebih dulu, bertahun-tahun lalu.”

Raka duduk di atas sebuah kardus. Akmal tetap berdiri, bersandar pada rak.

“Delapan tahun lalu, aku bekerja untuk seorang calon bupati. Bukan di pesantren ini. Di tempat lain. Aku orang yang dipercaya mengurus 'lapangan'. Tugasku sederhana: menemui kepala desa, kepala RT, tokoh kampung, dan memastikan mereka 'senang'.” Ia tertawa pendek. “Senang itu artinya amplop. Uang transport, uang pertemuan, uang kopi. Tidak pernah disebut suap, tidak pernah ada kuitansi.”

“Berapa kepala desa?”

“Empat puluh dua. Di dua kecamatan.” Suaranya datar, tanpa pembelaan. “Aku bagus dalam pekerjaan itu. Aku tahu siapa yang bisa didekati dengan pujian, siapa yang dengan uang, siapa yang dengan ketakutan. Aku tahu bagaimana menyodorkan amplop supaya orang merasa dihormati, bukan dibeli.”

Raka tidak menyela.

“Lalu pemilihan selesai. Calon kami menang.” Ia berhenti. “Beberapa bulan kemudian, ada laporan. Seorang kepala desa ditangkap karena menerima 'uang pemilu'. Namanya Pak Ridwan. Lima juta rupiah. Lima juta, Kak. Itu uang yang kuberikan dengan tangan sendiri.”

Nada suaranya sedikit bergetar.

“Dia dipenjara delapan belas bulan. Istrinya jatuh sakit. Anak-anaknya, empat orang, putus sekolah. Aku tidak tersentuh. Tidak diperiksa. Tidak dipanggil. Orang yang menggajiku bilang, 'Tenang saja. Kita urus.' Dan memang diurus. Semua bersih. Kecuali satu orang yang tidak punya pelindung.”

Ia menunduk.

“Itu malam terakhir aku bekerja untuk orang itu. Aku pergi tanpa pamit, tanpa menagih sisa gaji. Beberapa bulan kemudian aku sampai di pesantren ini, dan...” ia mengangkat bahu, “sisanya Kakak tahu.”

Raka menatap lelaki di hadapannya, yang selama berbulan-bulan duduk di sampingnya menghitung angka dan menyusun strategi, dan yang diam-diam menyimpan luka sebesar ini.

“Kenapa tidak pernah cerita?”

“Karena aku takut.” Akmal tersenyum getir. “Aku takut kalau aku menceritakannya, Kakak tidak akan mengizinkan aku memegang apa pun. Dan aku lebih takut kalau tidak pernah bisa menebusnya.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku akan pergi. Malam ini. Kalian bisa bilang aku dipecat. Bilang aku mengkhianati kepercayaan. Itu cukup untuk menyelamatkan Kakak.”

“Kamu tidak dipecat.”

“Kak...”

“Kamu tidak dipecat, Kak Akmal.” Raka berdiri, dan suaranya tegas tapi lembut. “Kamu juga tidak pergi. Tidak dengan cara begini.”

*    *    *

Dewan Pengingat berkumpul pukul sembilan.

Akmal duduk paling ujung, dengan tas kainnya di pangkuan. Raka duduk di tengah. Di sekeliling meja, Aisyah, Rania, Fauzan, dan Rafi menatap lelaki itu dengan campuran emosi yang berbeda-beda. Laila duduk di dekat pintu, bukan anggota dewan tapi hadir sebagai wakil, dengan tangan terlipat dan alis berkerut.

“Aku akan mundur,” kata Akmal sebelum siapa pun bicara. “Kalian tidak perlu memilih. Aku sendiri yang memutuskan.”

“Tidak bisa begitu,” kata Rania cepat. “Aturannya, tiga dari lima yang memutuskan.”

“Aturan itu untuk Kak Raka.”

“Aturan itu untuk siapa pun yang membuat kita kehilangan arah.” Rania menatapnya tajam. “Dan aku tidak akan memilih kamu mundur.”

“Aku juga tidak,” kata Fauzan.

“Tidak,” kata Rafi, nyaris berbisik.

“Tidak.” Aisyah mengangguk.

Lihat selengkapnya