Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #27

BAB 26 Tawaran dari Orang yang Jujur

BAB 26

Tawaran dari Orang yang Jujur

 

Papan tulis Rania kini punya peta baru.

Bukan peta kecamatan seperti dulu, tempat angka dua puluh lima ribu ditulis dengan spidol merah. Peta ini jauh lebih rinci: seribu titik kecil, masing-masing mewakili satu tempat pemungutan suara, tersebar di seluruh kabupaten seperti butiran beras di atas kain.

Akmal berdiri di depannya dengan penunjuk kayu, wajahnya tegang. Di meja panjang di depan, Dewan Pengingat dan Laila duduk berderet, memandang peta itu seperti memandang medan yang belum pernah mereka injak.

“Enam ratus empat puluh TPS,” kata Akmal. “Setiap TPS butuh minimal dua saksi. Orang yang berdiri di sana dari pagi sampai petang, mengawasi pencoblosan, mencatat penghitungan, dan membawa pulang salinan hasil.”

“Berapa yang kita punya?” tanya Fauzan.

“Dua ratus sepuluh.”

Hening.

“Dari seribu dua ratus delapan puluh yang dibutuhkan,” tambah Rania pelan.

Akmal mengangguk. Ia mengetuk satu sudut peta, tempat deretan titik berwarna merah berkelompok. “Dan seratus delapan belas TPS ini rawan. Daerah tambang, daerah di mana kepala desa menguasai segalanya. Di pilkada sebelumnya, di empat TPS seperti ini, selisih suara pemenang hanya seribu sembilan ratus. Dan di empat TPS itu ada seribu empat ratus suara yang tidak masuk akal.”

“Tidak masuk akal bagaimana?”

“Partisipasi seratus sepuluh persen.” Akmal tersenyum getir. “Ada orang yang mencoblos dua kali. Atau tiga.”

Laila mengerutkan dahi. “Berarti kalau pilkada ini ketat...”

“Mereka tidak perlu menang. Mereka hanya perlu mencuri sedikit, di tempat yang tidak dijaga.” Akmal meletakkan penunjuknya. “Aku sudah menghitung. Kalau kita tidak punya saksi di tempat-tempat merah itu, kita kehilangan sekitar empat persen. Empat persen, Kak. Dalam pemilihan yang bisa ditentukan dua.”

Raka menatap peta itu lama. Ia membayangkan satu per satu titik merah itu, dan tiba-tiba merasa seperti seseorang yang sudah mendaki sampai ke puncak bukit, hanya untuk melihat gunung berikutnya.

“Jadi tanpa saksi, semua yang kita lakukan bisa sia-sia.”

“Tanpa saksi, kita mengumpulkan suara untuk orang lain.” Akmal menghela napas. “Maaf. Aku tidak bisa membuatnya terdengar lebih baik.”

*    *    *

Tamu itu datang dua hari kemudian, dengan Kijang tua dan senyum yang tidak terlalu rapi.

Raka sempat heran. Setelah berminggu-minggu mengantisipasi mobil sedan putih, ia kini disambut oleh kendaraan berdebu dengan bemper penyok dan kaca belakang bertempel stiker kadaluarsa. Dari dalamnya turun seorang lelaki enam puluhan, gemuk, berkacamata tebal, dengan batik lusuh dan sandal kulit yang sudah miring tumitnya.

“Saya H. Zainal.” Ia menjabat tangan Raka dengan genggaman hangat dan berkeringat. “Zainal Abidin. Ketua Partai Gerakan Banua. Maaf datang tiba-tiba. Telepon saya tidak ada yang mengangkat.”

“Kami memang jarang mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.”

“Bagus. Pintar.” Zainal terkekeh. “Orang yang tidak bisa dihubungi sembarangan itu susah dibeli.”

Ia berkata begitu dengan nada yang begitu ringan sehingga Raka tidak yakin apakah itu candaan atau sebuah pengakuan.

Mereka duduk di ruang tamu, lengkap dengan Dewan Pengingat, sesuai aturan. Zainal tidak keberatan. Ia bahkan tampak senang. Ia menyalami satu per satu: Aisyah, Rania, Fauzan, Rafi, Akmal, dan terakhir Laila.

“Ibu Laila. Purun Banua.” Ia mengangguk. “Saya punya tas dari bengkel Ibu. Istri saya yang membeli. Tiga tahun, belum rusak.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian basa-basi. Itu laporan.” Zainal tersenyum. “Saya orang yang percaya pada barang yang awet.”

Raka menahan senyum. Lelaki ini, entah mengapa, sulit dibenci.

*    *    *

“Saya akan bicara jujur,” kata Zainal setelah teh dihidangkan. Ia menyeruputnya dengan bunyi pelan, meletakkan cangkir, dan menyilangkan jari di perut. “Karena kalau saya berbohong, Pak Akmal akan langsung tahu.”

Akmal mengangkat alis. “Anda tahu saya?”

“Semua orang yang pernah bermain di dunia ini tahu satu sama lain, Pak. Meskipun kita pura-pura tidak.” Zainal tersenyum tipis. “Saya sudah dua puluh enam tahun di partai kecil. Tidak pernah punya kursi lebih dari tiga. Tidak pernah masuk berita korupsi. Dan percayalah, itu membuat orang lebih curiga daripada kalau saya pernah masuk penjara.”

Beberapa orang tertawa kecil.

“Partai kami punya tiga kursi di DPRD. Dan kami punya kader di hampir semua kecamatan.” Ia menatap Raka. “Saya tahu Ustadz tidak membutuhkan uang saya, karena Ustadz sudah menolak lima ratus juta dari seseorang. Berita itu menyebar, dan saya salut.”

“Terima kasih.”

“Tapi Ustadz butuh tiga hal.”

Ia mengangkat jari satu per satu.

“Saksi. Empat ratus lima puluh kader saya sudah terlatih. Mereka pernah berdiri di TPS, tahu bagaimana mencatat, tahu bagaimana menolak tekanan. Mereka bisa Ustadz pakai di seratus delapan belas titik rawan itu.”

Rafi menahan napas. Akmal tidak bergerak.

“Dua. Tim hukum. Tiga pengacara muda, murah, dan bisa tidur di kantor Ustadz kalau perlu. Kalau ada sengketa, mereka siap.”

“Tiga?”

“Tiga.” Zainal tersenyum, dan senyumnya mengendur menjadi sesuatu yang lebih jujur dan lebih letih. “Ustadz, saya tidak akan memutarbalikkan. Kalau Ustadz menang tipis, dan peluangnya besar kalau Ustadz punya saksi, Ustadz akan menghadapi DPRD yang dikuasai partai-partai lama. Tidak satu pun dari mereka mendukung Ustadz. Anggaran Ustadz akan diblokir. Tanggul itu tidak akan dapat sepeser pun.”

Hening.

“Tiga kursi kami memang kecil. Tapi dalam voting yang ketat, tiga kursi menentukan.” Ia menatapnya lurus. “Kami bersedia memastikan anggaran dua tahun pertama Ustadz tidak diblokir.”

Rania menunduk, menuliskan sesuatu. Fauzan menatap papan tulis di seberang, tempat angka-angka masih tergores dengan spidol merah.

Itu bukan sekadar tawaran. Itu jawaban atas setiap pertanyaan yang selama berminggu-minggu tidak bisa mereka jawab.

Lihat selengkapnya