Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #28

BAB 27 Satu Tanda Tangan

BAB 27

Satu Tanda Tangan

 

Sekolah Saksi dibuka pada hari Senin, di aula besar pesantren, dengan seratus delapan puluh enam peserta dan satu papan tulis yang tidak muat menampung semua pertanyaan.

Raka berdiri di ambang pintu, memandang ruangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Para perajin purun duduk berderet di lantai bersama suami dan saudara mereka, memegang buku catatan yang mereka beli dengan uang sendiri. Para sopir Haji Rusli duduk berkelompok di belakang, bertubuh besar dan tampak canggung memegang pulpen. Beberapa alumnus, beberapa santri senior, dua perawat berseragam, seorang kakek yang bersikeras ikut dengan tongkatnya dan tidak mau dianggap terlalu tua.

Di depan, Akmal berdiri di bawah papan tulis dengan penunjuk di tangan.

“Yang pertama harus kalian pahami,” katanya, “adalah satu kalimat. Kalian bukan datang ke TPS untuk menang. Kalian datang untuk memastikan setiap suara dihitung sebagaimana adanya.”

Ia menggambar sebuah formulir di papan tulis, kotak demi kotak, dengan kapur putih. Penghitungan suara, kolom per kolom, tanda tangan di bawah. Ia menjelaskannya dengan sabar, berulang-ulang, sampai wajah-wajah yang tadinya bingung mulai mengangguk pelan.

Lalu giliran Laila.

Ia tidak membawa papan tulis. Ia membawa karung berisi batang-batang purun yang sudah dipotong sama panjang, dan sejumput tali rafia.

“Anggap ini surat suara,” katanya, mengangkat segenggam batang. “Satu batang, satu suara. Sekarang aku mau kalian menghitungnya, bukan dengan jari. Dengan cara yang tidak bisa dicurangi.”

Ia mengajarkan metode hitung dengan ikatan lima, seperti yang dipakai para perajin untuk menghitung anyaman. Empat batang vertikal, satu melintang. Peserta mencoba dengan wajah serius. Seorang sopir tua, yang tangannya sebesar jala, salah mengikat tiga kali dan disoraki gelak tawa.

“Pelan-pelan, Kang,” kata Laila tegas, tapi matanya bersinar. “Hitungan yang cepat tapi salah itu lebih buruk daripada tidak menghitung.”

Setelah itu, Rafi dan Fauzan memerankan sesuatu yang membuat seluruh aula tertawa dan gemetar sekaligus: dua orang berbadan besar yang masuk ke simulasi TPS dan mencoba menakut-nakuti para saksi.

“Eh, Pak, tidak usah dicatat. Sudah, biar kami yang urus.”

“Maaf, Pak, saya wajib mencatat.”

“Bapak ini orang mana? Sudah tahu di sini siapa yang punya wilayah?”

Rafi, dengan kumis tempelan dari spidol, berdiri bersedekap dengan suara berat yang terlalu dibuat-buat. Seorang perajin, perempuan setengah baya yang tubuhnya mungil, menatapnya tajam dan berkata dengan nada paling tenang yang bisa Raka bayangkan:

“Silakan Bapak keluar. Saya sedang bekerja.”

Aula bergemuruh. Rafi mundur dengan tangan terangkat, “Saya menyerah! Saya menyerah!”

Raka tertawa sampai matanya basah. Ia menoleh pada Aisyah, yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar, dan merasakan sesuatu yang tak ia duga: kebanggaan murni, tidak bercampur kekhawatiran.

Ini yang sebenarnya, pikirnya. Bukan mesin. Bukan uang. Ini.

*    *    *

Pada akhir minggu kedua, jumlah peserta yang lulus mencapai dua ratus tiga belas.

Papan tulis Rania, yang kini penuh dengan titik-titik hijau menggantikan titik merah, menunjukkan sebuah kekosongan besar yang belum terisi. Tiga puluh delapan TPS di Kecamatan Muara Sari, kawasan yang menjadi pusat penambangan pasir dan batu di tepi sungai, tidak punya satu pun saksi.

“Kepala desanya tidak mau bicara dengan kita,” kata Syamsul, menunjuk satu titik di peta. “Pak Suhaimi. Orangnya baik, tapi dikepung.”

“Dikepung siapa?” tanya Raka.

“Semua orang.” Syamsul menghela napas. “Orang-orang Haji Salman sudah tiga kali ke sana. Tidak ada yang mengancam, Ustadz. Hanya duduk, minum teh, dan bilang kalau Pak Suhaimi mendukung yang benar, desanya akan aman. Dan kalau tidak...”

“Kalau tidak?”

Syamsul tidak menjawab.

Raka menatap titik-titik kosong itu lama. “Aku akan ke sana.”

“Kak, sebaiknya Dewan...” Rania mengangkat wajah dari bukunya.

“Hanya kunjungan silaturahmi. Tidak ada keputusan.” Raka tersenyum. “Aku akan membawa Syamsul. Laila sedang di pameran di Banjarmasin, Aisyah ada acara sekolah Kadijah. Besok pagi saja.”

Rania ragu, tapi tidak membantah.

Itu keputusan kecil. Raka kemudian akan mengingatnya berkali-kali, bagaimana keputusan sekecil itu, seperti sebutir kerikil yang menggelinding, ternyata berhenti di tempat yang jauh lebih jauh dari yang ia bayangkan.

*    *    *

Muara Sari tampak seperti sebuah desa yang tumbuh dari sungai dan menolak melepaskannya.

Rumah-rumah kayu berjajar di sepanjang tanggul tanah, dengan jemuran sarung dan ikan asin di depan setiap pintu. Di belakangnya, hamparan pasir putih membentang sampai ke tepi sungai, dan di atasnya, puluhan lelaki bertelanjang dada menyekop pasir ke dalam truk-truk bak yang berbaris rapi. Debu halus beterbangan di udara. Bau tanah basah bercampur solar.

Raka berdiri di tepi galian, memandangi pemandangan itu.

Sekitar delapan puluh orang, kira-kira. Tubuh-tubuh liat, kulit gosong, tangan yang kapalan. Beberapa anak kecil bermain di pinggir, menyusun istana pasir sementara ayah mereka bekerja di dekatnya. Seorang perempuan menjual teh dan gorengan dari bangku kayu di bawah pohon.

“Jangan terlalu lama menatapnya, Ustadz,” kata sebuah suara ramah di belakangnya. “Nanti kena debu.”

Pak Suhaimi, kepala desa Muara Sari, lelaki lima puluhan bertubuh kecil dengan senyum lebar dan kumis tipis, menyalaminya dengan dua tangan. Kemejanya batik lusuh, sandalnya kulit tiruan, dan wajahnya lebih tampak seperti seorang tetangga yang baik daripada pejabat.

Lihat selengkapnya