BAB 28
Kalimat yang Ketujuh
Telepon Rania berbunyi pukul lima pagi, dan Raka tahu sebelum mengangkatnya.
Ia sudah terjaga sejak subuh, duduk di tepi ranjang dengan sajadah terlipat di pangkuan, mencoba mengucapkan doa yang tak kunjung selesai. Dari ujung lain terdengar napas tertahan, lalu suara Rania, tegang dan sangat pelan.
“Kak. Lihat grup.”
“Aku sudah lihat.”
Hening panjang.
Gambar itu sudah menyebar sejak tengah malam, dibagikan ribuan kali, dari satu ponsel ke ponsel lain. Latarnya merah tua. Huruf-hurufnya tebal dan tidak lagi berusaha terdengar sopan.
CALON ANTI POLITIK UANG TEKEN KEBOLEHAN GALIAN ILEGAL!
Katanya bersih. Katanya jujur. Tapi di atas kertas, tanda tangannya sendiri menyatakan “tidak keberatan atas kegiatan penambangan yang telah berjalan.”
Di bawahnya, hasil pindaian dua halaman. Halaman pertama, yang ia baca dengan cermat. Halaman kedua, yang tidak. Sebuah paragraf kecil dilingkari dengan tinta merah, dan di bawahnya, tanda tangannya sendiri, jelas, rapi, tanpa keraguan.
Raka menatap foto itu dalam diam. Ia mengenali bentuk huruf R yang selalu ia tulis dengan sedikit melengkung. Ia mengenali garis akhir tanda tangannya yang terlalu panjang. Ia mengenali dirinya, di atas selembar kertas yang tak seorang pun seharusnya melihat.
“Siapa yang bocorkan?” tanyanya akhirnya. Suaranya datar.
“Belum tahu. Tapi foto ini jelas diambil dari salinan lengkap. Hanya ada dua salinan. Satu di tangan Kakak. Satu di tangan...”
“Pak Suhaimi.”
“Iya.”
Raka memejamkan mata. Ia teringat wajah lelaki kecil dengan kumis tipis di beranda yang menghadap sungai, tubuhnya merosot lega ketika Raka menandatangani. Saya dikepung, Ustadz. Dan ia tahu, tanpa perlu bukti, bagaimana sebuah salinan bisa berpindah tangan ketika seorang kepala desa dikepung dari semua sisi.
“Jangan marah padanya,” katanya pelan.
“Aku tidak marah pada siapa-siapa.” Rania terdengar nyaris menangis. “Kak, benarkah isinya begitu?”
“Aku akan menjelaskan hari Ahad.”
“Kak...”
“Hari Ahad, Rania. Di tanggul. Di depan semua orang.”
Panggilan itu berakhir. Raka duduk lama dengan ponsel di pangkuan dan menyadari bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat kecil yang mengubah segalanya: nanti.
* * *
Akmal tidak berkata apa-apa ketika mereka bertemu di pesantren pagi itu.
Ia hanya berdiri di ambang ruang kerja, menatap Raka selama beberapa detik yang panjang, lalu mengangguk sekali, pelan, dan pergi. Tidak ada pertanyaan, tidak ada tuduhan. Tapi Raka melihat sesuatu di matanya yang lebih berat daripada amarah: kekecewaan yang sudah menduga.
Syaratnya?
Tidak ada syarat.
Ia teringat kalimat itu, keluar begitu mudah dari bibirnya di aula yang penuh sorak-sorai, dan merasakan perutnya mengerut.
Rania menghindari tatapannya. Fauzan dan Rafi berbicara dengan nada terlalu hati-hati. Laila, yang baru kembali dari pameran di Banjarmasin pagi itu, berdiri di pintu dengan keranjang purunnya dan menatap Raka lama.
“Ini benar?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Iya.”
“Kamu menandatanganinya tanpa memberi tahu kami.”
“Iya.”
Laila tidak mengangkat suara. Ia hanya menurunkan keranjangnya perlahan ke lantai.
“Aku tidak akan bertanya kenapa,” katanya. “Tapi aku akan bertanya satu hal, di depan semua orang, hari Ahad. Dan aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur.”
“Apa itu?”
“Kamu menandatangani karena kamu memang berpikir itu benar, atau karena kamu butuh empat puluh saksi?”
Raka membuka mulut, dan tidak ada kata yang keluar.
Laila mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang cukup, lalu mengambil keranjangnya dan pergi.