BAB 29
Mundur Juga Bisa Ego
Mereka berjalan pulang tanpa bicara.
Aisyah tidak bertanya. Ia hanya berjalan di sampingnya, dengan langkah yang menyesuaikan diri pada langkah Raka yang pelan dan berat, melewati jalan setapak tanah yang berlumpur di sepanjang tanggul, di bawah lampu-lampu rumah yang satu per satu dinyalakan. Sesekali seorang tetangga menyapa dari beranda, dan Raka mengangguk tanpa melihat siapa.
Sampai di rumah, anak-anak sudah tidur. Acil Noor, yang menjaga mereka sejak sore, hanya menatap wajah Raka sekilas dari ambang pintu kamar, lalu mengangguk pada Aisyah dan pulang tanpa berkata apa-apa.
Mereka duduk di beranda belakang. Kebun gelap, kodok bernyanyi di kejauhan, dan di antara mereka sebuah lampu minyak kecil yang Aisyah nyalakan, bukan lampu listrik. Katanya cahaya itu lebih jujur.
“Mas,” katanya akhirnya.
“Aku mau cerita,” kata Raka, bersamaan.
Mereka saling pandang, dan untuk pertama kalinya hari itu, Aisyah tersenyum tipis.
“Kamu dulu.”
* * *
Raka menceritakan semuanya, dengan suara yang terdengar asing di telinganya sendiri, datar dan terlalu rapi, seperti membaca laporan tentang orang lain.
Muara Sari. Pak Suhaimi dengan senyum lega yang pelan-pelan merosot. Halaman pertama yang ia baca dan halaman kedua yang tidak. Syamsul yang bertanya soal tiga pertanyaan dan ia jawab dengan kalimat yang sama. Aula yang bersorak. Akmal yang bertanya, syaratnya?, dan jawabannya yang keluar tanpa beban.
“Tidak ada syarat,” ulangnya, nyaris berbisik. “Aku bilang begitu pada Kak Akmal. Itu bohong.”
Aisyah tidak berkata apa-apa.
“Malamnya aku membaca halaman kedua. Aku menyimpannya di sini.” Ia berdiri, masuk ke ruang kerja, dan kembali dengan sebuah kitab tebal yang sampulnya sudah usang. Dari dalamnya ia menarik selembar kertas yang terlipat empat. “Aku tidak memberitahu siapa pun. Tiga hari kemudian, surat ini ada di semua ponsel.”
Ia menyerahkannya.
Aisyah membukanya di bawah lampu minyak dan membaca. Halaman pertama. Halaman kedua. Paragraf kecil di bagian bawah yang lingkarannya sudah dibuat orang lain dengan tinta merah di salinan yang beredar, tapi di kertas ini masih bersih, seperti sesuatu yang belum tahu bahwa ia akan menjadi senjata.
Ia membaca paragraf itu dua kali, perlahan, dengan bibir yang bergerak tanpa suara.
“Aku tidak tahu kenapa aku tidak membacanya,” kata Raka. “Aku pikir aku sudah menangkap intinya. Aku pikir itu hanya lampiran. Lalu aku sadar, aku sedang melakukan persis yang dilakukan Tuan Guru Zuhri. Hanya saja Tuan Guru Zuhri tidak sempat diperingatkan, dan aku sudah.”
Aisyah melipat kertas itu kembali, hati-hati, dan menaruhnya di pangkuannya.
“Itu bukan hal paling berat, kan?” katanya pelan.
Raka menatapnya.
“Yang paling berat itu kalimat yang kamu ucapkan tadi.”
Hening.
“Kamu mendengarnya,” bisik Raka.
“Aku mendengarnya waktu kamu mengumumkan di tanggul.”
Dunia seakan berhenti sejenak. Raka menatap istrinya, dan perlahan, pelan sekali, sesuatu menjadi jelas: tatapan menunduk yang sekilas, jari-jarinya yang bergerak mengusir sesuatu, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata malam itu.
“Kamu tahu?”
“Aku tidak yakin.” Aisyah menunduk. “Aku hanya merasa ada sesuatu yang berdengung. Seperti nada yang pernah kudengar, tapi tidak kuingat di mana. Baru kemudian aku sadar: itu kalimat yang sama dengan yang diucapkan anggota dewan di tanggul. Yang kamu ceritakan padaku waktu itu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia maksud. Aisyah mengangkat wajah, dan di matanya tidak ada pembelaan.
“Karena aku ingin kamu mendengarnya sendiri.”
Raka menarik napas pendek.
“Kalau aku yang bilang, itu menjadi suaraku, bukan suaramu. Kamu akan mengangguk, bilang 'kamu benar', dan melanjutkan sambil memakai kalimat yang sama dengan lebih hati-hati.” Ia tersenyum getir. “Aku tidak mau kamu belajar menghindar dari kalimat itu. Aku mau kamu mendengarnya sampai tidak bisa tidak mendengarnya.”
“Dan butuh tujuh kali.”
“Aku tidak tahu itu tujuh kali.” Suaranya bergetar. “Dan aku salah, Mas. Aku seharusnya bilang lebih awal. Aku berpikir aku menjaga ruang untukmu, tapi mungkin aku hanya menunggu terlalu lama. Kalau saja aku bicara di minggu pertama, kamu tidak akan menandatangani surat itu dengan keyakinan sebesar itu.”
“Itu bukan salahmu.”
“Itu juga salahku. Sebagian.” Ia menyeka sudut matanya dengan ujung kerudung. “Itu yang kuharap kamu mengerti. Kamu tidak sendirian dalam hal ini. Pagar yang kamu bentuk, aku salah satunya. Dan pagar itu bolong karena aku.”
Mereka duduk lama dalam diam. Lampu minyak berkedip pelan, melempar bayangan-bayangan bergoyang di dinding.
* * *
“Aku mau menanyakan sesuatu.”
Raka menoleh.
“Pertanyaan yang sama dengan di rumah ulin, dulu.” Aisyah menatap lurus ke dalam api kecil itu. “Ini panggilan, atau ego?”
Raka tersenyum, getir, hampir tertawa.
“Aku sudah menemukan jawabannya di Arafah. Aku bilang pada diriku sendiri ukuran apa yang akan kupakai. Apa yang tersisa kalau aku kalah.” Ia menunduk. “Dan hari ini aku tidak menjadi orang yang tersisa.”
“Jawabannya?”
“Ego.” Kata itu keluar tanpa pertimbangan, dan terasa seperti membuka jendela di ruangan yang pengap. “Hari ini, ego. Aku menandatangani karena butuh saksi. Aku berbohong karena takut Akmal kecewa. Aku menjawab Hendra karena takut kehilangan tepuk tangan. Itu ego, Aisyah. Semuanya.”