Santri di Jalan Khidmah

Prasetya
Chapter #31

BAB 30 Awak Kapal

BAB 30

Awak Kapal

Dewan Pengingat berkumpul sebelum matahari terbit, di ruang tamu pesantren yang masih gelap.

Tak seorang pun menyalakan lampu besar. Rania hanya menyalakan satu lampu meja kecil di tengah, dan di lingkaran cahayanya yang sempit, enam orang duduk berhadapan dengan wajah yang masih berat oleh tidur dan cemas. Teh belum dihidangkan. Tak ada yang berpikir untuk membuatnya.

Raka duduk di tempat yang biasa. Di pangkuannya ada selembar kertas yang sudah lecek karena terlalu sering dilipat.

“Terima kasih sudah datang sepagi ini,” katanya. “Aku tidak akan berbasa-basi.”

Ia membuka kertas itu dan membacakan tiga barisnya, dengan suara yang sengaja ia jaga agar tidak bergetar.

“Satu. Surat Muara Sari. Aku menandatanganinya tanpa membaca halaman kedua. Di halaman itu tertulis bahwa aku tidak keberatan atas kegiatan galian yang sudah berjalan. Aku menyadarinya malam harinya, dan aku menyimpannya.

“Dua. Ketika Kak Akmal bertanya apa syaratnya, aku menjawab tidak ada. Itu bohong.

“Tiga. Kalimat itu.” Ia berhenti sebentar. “Kalimat yang sama dengan yang diucapkan anggota dewan di tanggul, dan kepala dinas, dan Haji Salman. Aku mengucapkannya di hari pengumuman dan di hari Ahad kemarin, dan aku tidak mendengarnya. Pak Murjani yang membuatku mendengar.”

Ia menurunkan kertas itu.

“Itu semuanya. Aku tidak akan membela diri. Aku hanya ingin kalian mendengarnya dariku, sebelum dari orang lain.”

Hening yang menyusul tidak seperti hening mana pun yang pernah Raka rasakan. Ia mendengar jam dinding berdetak, napas yang tertahan, dan, jauh di luar, azan subuh pertama yang pelan-pelan naik dari menara masjid.

*    *    *

Rania yang pertama bicara, dengan suara yang pecah.

“Kak, aku yang pegang buku.” Ia menunduk, jari-jarinya memutar-mutar sampul buku kas yang tak pernah ia lepas. “Kalau aku memegang buku, seharusnya aku melihat semua kertas yang masuk dan keluar. Surat Muara Sari tidak pernah masuk ke bukuku. Aku tidak bertanya. Aku percaya Kakak.”

“Itu bukan...”

“Itu salahku juga.” Ia mengangkat wajah, mata merah. “Dewan ini dibuat untuk mengingatkan. Tapi kami hanya mengingatkan kalau Kakak datang. Kami tidak pernah bertanya kalau Kakak tidak datang.”

Fauzan menggeleng pelan, wajahnya pucat. “Saya malu, Ustadz. Bukan hanya untuk Ustadz. Untuk saya. Saya percaya sampai saya tidak mau bertanya.” Ia menelan ludah. “Waktu Ustadz bilang 'hanya silaturahmi', saya melihat Ustadz berangkat sendiri dan saya diam.”

Rafi, yang sejak tadi menunduk dengan tangan terkepal, mengangkat kepala.

“Aku tidak mau Ustadz mundur.”

“Rafi...”

“Aku tahu itu bukan yang Ustadz minta. Tapi aku harus bilang.” Suaranya bergetar. “Aku sudah melihat Ustadz memunguti nasi di tanah. Aku tidak percaya orang yang melakukan itu bisa menjadi orang yang kami takutkan.”

Raka tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk, pelan.

Laila, yang duduk bersandar pada dinding dengan tangan terlipat sejak tadi, akhirnya bersuara.

“Aku sudah mengajukan satu pertanyaan padamu kemarin.”

“Aku ingat.”

“Jawabanmu?”

Raka menatapnya langsung. “Aku menandatangani karena butuh empat puluh saksi. Bukan karena aku berpikir itu benar. Aku bahkan tidak berpikir. Aku hanya butuh.”

Laila mengangguk, sekali, pelan.

“Terima kasih,” katanya. “Itu jawabannya.”

“Hanya itu?”

“Aku masih marah.” Ia tidak menyembunyikannya. “Aku tidak suka ditinggalkan di luar keputusan yang menyangkut namaku. Aku wakilmu, bukan penonton.” Matanya menajam. “Tapi aku juga tahu orang yang bisa mengatakan 'aku butuh saksi' dengan suara seperti itu bukan orang yang tidak bisa dipercaya. Orang yang tidak bisa dipercaya akan mencari alasan yang lebih mulia.”

Raka menunduk.

“Dan mulai hari ini,” lanjut Laila, “tidak ada dokumen yang keluar dengan satu tanda tangan. Kamu dan aku. Dan setiap kertas, setiap halaman, setiap catatan kaki, dibaca dulu oleh seseorang yang bukan kita berdua.”

“Aku,” kata Akmal.

Semua menoleh.

Ia baru bicara untuk pertama kalinya sejak Raka selesai. Ia duduk di ujung meja dengan punggung tegak, wajahnya tak terbaca, tangannya terlipat di depan dada.

*    *    *

Akmal berdiri.

Ia melangkah pelan ke jendela dan menyingkap tirai sedikit, memandang langit di luar yang mulai memucat. Bahunya tampak lebih kaku dari biasanya.

“Kak,” katanya tanpa menoleh. “Aku bertanya, 'Syaratnya?' Dan Kakak menjawab, 'Tidak ada syarat.'”

“Iya.”

“Kau tahu siapa yang menjawab begitu padaku dulu?”

Raka tidak bersuara.

“Orang yang membayarku.” Suaranya datar, tapi ada getaran halus di bawahnya. “Setiap kali aku bertanya pada atasanku, 'Ada konsekuensinya?', dia menjawab, 'Tidak ada, tenang saja.' Dengan senyum. Dan aku percaya. Karena menyenangkan untuk percaya.”

Hening.

“Delapan belas bulan Pak Ridwan di penjara,” lanjutnya. “Karena jawaban yang sama.”

Raka merasakan seluruh tubuhnya mengerut.

“Aku tidak menyamakanmu dengan dia,” kata Akmal cepat. Ia akhirnya menoleh, dan di matanya ada sesuatu yang bukan marah, bukan sepenuhnya sedih. “Aku tahu kau bukan dia. Tapi tadi malam, waktu aku membaca poster itu, hal pertama yang kurasakan bukan amarah. Itu rasa dikhianati. Dan aku sadar itu rasa yang sama, Kak. Hanya dari sisi yang berbeda.”

“Maafkan aku.”

Lihat selengkapnya