Bab 2: Percakapan dengan Aisyah
Malam itu, setelah pengajian rutin ba'da Isya selesai dan lampu-lampu asrama satu per satu meredup, Raka duduk di teras rumah dinas mereka rumah kecil sederhana di sudut kompleks pesantren, jauh dari kesan megah meski Darul Hikmah sendiri kini telah menjadi salah satu pesantren terpandang di tanah Borneo.
Aisyah keluar membawa dua cangkir teh hangat, meletakkan satu di depan suaminya, lalu duduk di sampingnya seperti kebiasaan mereka bertahun-tahun. Khadijah dan Mohamaad Rasyid sudah tidur, dan malam terasa lengang, hanya diselingi suara jangkrik dan lantunan zikir samar dari kamar seorang santri senior yang masih terjaga.
"Abi kenapa akhir-akhir ini sering melamun?" tanya Aisyah, tanpa basa-basi. Setelah bertahun-tahun bersama, ia tahu persis kapan suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.
Raka tersenyum kecil, agak tertangkap basah. "Kelihatan, ya?"
"Sangat kelihatan. Bahkan tadi pas Fauzan lapor soal undangan podcast,
Abi diam lama sekali sebelum jawab."
Raka menghela napas, memutar-mutar cangkir tehnya. "Aku... nggak tahu bagaimana menjelaskannya, Mi."
"Coba saja," kata Aisyah lembut. "Sejak kapan kita nggak bisa cerita satu sama lain?"