SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #4

Bab 3: Warisan Tiga Perjalanan

Bab 3: Warisan Tiga Perjalanan

Malam-malam berikutnya, Raka mulai membiasakan diri duduk sendirian di ruang kerjanya setelah semua santri terlelap, ditemani lampu meja yang temaram dan secangkir kopi yang lama-lama mendingin tanpa disentuh. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua dari lemari, kotak yang sudah bertahun-tahun tidak ia buka.

Di dalamnya tersimpan benda-benda kecil yang menjadi saksi perjalanan hidupnya: sebuah kartu identitas mahasiswa lusuh dari masa kuliahnya di Surabaya, foto lama bersama Farel dan Nadia di depan gedung kampus, secarik kertas berisi catatan tangan tentang rasio ROE dan PBV yang dulu ia hafalkan mati-matian, dan sebuah batu sungai kecil berwarna kecoklatan yang ia ambil dari tepi sungai Martapura pada hari peresmian Pesantren Darul Hikmah Borneo.

Ia menggenggam batu itu lama, membiarkan ingatan-ingatan lama mengalir kembali.

Pinggiran. Ia teringat masa remajanya di Al-Falah, masa ketika hidupnya hanya soal bertahan. Bertahan dari rasa rindu rumah, bertahan dari godaan meninggalkan pesantren, bertahan menghadapi keraguan apakah jalan yang ia pilih benar. Ustadz Arif dulu selalu bilang, "Yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai, tapi seberapa kuat kamu bertahan di jalan yang benar." Kalimat itu dulu membantunya melewati masa-masa tersulit sebagai santri baru.

Bursa Efek. Ia teringat masa kuliahnya, ketika dunia tiba-tiba terasa begitu luas dan penuh godaan. Ia belajar tentang uang, tentang ambisi, tentang bagaimana manusia bisa terjebak mengejar keuntungan tanpa menyadari mereka sedang menjual sesuatu yang lebih berharga: integritas mereka sendiri. Ia teringat Farel yang nyaris hancur karena saham gorengan, teringat dirinya sendiri yang pernah diminta memasarkan produk investasi mencurigakan dan harus memilih antara karier dan prinsip. Masa itu mengajarinya arti mengejar sesuatu dengan cara yang benar.

Borneo. Ia teringat perjalanan ke tanah kelahiran Aisyah, ketika ia menjelajahi dunia yang benar-benar baru, budaya baru, tantangan baru, konflik keluarga yang rumit, hingga akhirnya berdiri sebuah pesantren dari tanah yang dulu terlupakan. Masa itu mengajarinya tentang keberanian menjelajah, tentang bagaimana iman harus diuji dalam kenyataan yang keras, bukan hanya dalam teori.

Lihat selengkapnya