SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #5

Bab 4: Pertanyaan Kadijah

Bab 4: Pertanyaan Kadijah

Sore itu, seperti biasa, Raka menyempatkan diri pulang lebih awal dari kantor yayasan untuk menemani anak-anaknya belajar mengaji di rumah. Kadijah, yang kini berusia sebelas tahun, duduk bersila di atas tikar sambil membuka juz amma-nya, sementara Mohamaad Rasyid yang baru tujuh tahun sibuk menirukan bacaan kakaknya dengan suara cadel yang menggemaskan.

"Abi,"  panggil Kadijah setelah  menyelesaikan  hafalan Surah

Al-Insyirah, "boleh tanya sesuatu?"

"Boleh, Nak. Tanya apa?"

Kadijah menutup juz amma-nya, menatap ayahnya dengan mata polos yang penuh keingintahuan. "Tadi di sekolah, Ustadzah Hana bilang, tujuan hidup kita itu mengenal Allah. Terus aku nanya ke temen-temen, 'kalian udah kenal Allah belum?' Terus mereka bingung jawabnya. Aku juga bingung, Bi."

Raka tersenyum, hendak menjawab dengan penjelasan yang biasa ia sampaikan kepada santri-santrinya, tentang tauhid, tentang sifat-sifat Allah, tentang bagaimana mengenal-Nya lewat ciptaan-Nya. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Kadijah melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, pertanyaan yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih dalam dari yang ia duga.

"Abi kan pemimpin pesantren, ngajarin santri-santri tentang Allah tiap hari. Abi sendiri udah kenal Allah belum?"

Raka terdiam. Untuk sesaat, ruang tamu kecil itu terasa hening, hanya diisi suara kipas angin yang berputar pelan dan celoteh Rasyid yang masih mengulang-ulang bacaan tanpa peduli percakapan ayah dan kakaknya.

Ia ingin menjawab, "Tentu saja, Nak." Jawaban itu ada di ujung lidahnya, jawaban otomatis yang biasa ia lontarkan kepada siapa pun yang bertanya hal serupa. Tetapi kali ini, di hadapan mata jernih putrinya yang tidak tahu basa-basi, jawaban itu terasa seperti kebohongan kecil yang tidak sanggup ia ucapkan.

Lihat selengkapnya