SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #6

BAGIAN II AL-HIKAM MEMBUKA CERMIN Bab 5: Jangan Bersandar kepada Amal

BAGIAN II AL-HIKAM MEMBUKA CERMIN

Bab 5: Jangan Bersandar kepada Amal

 

Perjalanan dari Martapura ke Tulungagung memakan waktu hampir sehari penuhnaik mobil ke Banjarmasin, terbang ke Surabaya, lalu dilanjutkan perjalanan darat beberapa jam ke arah selatan. Raka berangkat sendirian, meninggalkan urusan pesantren sementara di tangan Akmal yang kini sudah dipercaya penuh mengelola administrasi harian, dan meninggalkan Aisyah serta kedua anaknya di Borneo dengan pesan singkat: "Doakan Abi, ya. Abi mau belajar lagi."

Ia tiba di Pesantren Al-Falah menjelang Maghrib. Gerbang hijau yang dulu terasa begitu megah di matanya sebagai santri baru delapan belas tahun lalu, kini terasa lebih kecilbukan karena bangunannya menyusut, tetapi karena dirinya sendiri telah banyak berubah. Ia berjalan menyusuri halaman yang sama, melewati masjid yang sama, menuju rumah kecil di belakang kompleks tempat Ustadz Arif tinggal sejak pensiun dari kepengurusan aktif pondok.

Ustadz Arif menyambutnya dengan senyum hangat, tubuhnya kini lebih bungkuk dan rambutnya sepenuhnya putih, namun matanya masih memancarkan ketenangan yang sama seperti dulu.

"Raka," ucapnya pelan sambil memeluk mantan santrinya itu, "sudah lama sekali. Sekarang kamu yang jadi kyai, dan aku yang jadi orang tua yang duduk santai di rumah."

"Ustadz tetap guru saya, sampai kapan pun," jawab Raka, matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari.

Setelah salat Maghrib berjamaah dan makan malam sederhana, mereka duduk berdua di teras rumah, ditemani secangkir teh dan lampu teplok yang menyala redup. Raka menceritakan semuanyakegelisahannya, pertanyaan Kadijah, perasaan hampa di tengah pencapaian yang semestinya membanggakan.

Lihat selengkapnya